Saat Sakaratul Maut


Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1432 H diadakan di instansi tempat aku bekerja pada Kamis, 3 Maret 2011. Menjadi penceramah pada peringatan tersebut adalah KH Junaidi Maksum. Beliau adalah pengasuh pondok pesantren di Samarinda Seberang. Ceramah yang beliau paparkan pada umumnya sama dengan ceramah-ceramah lain yang sering kita dengarkan setiap peringatan Maulid berlangsung. Utamanya pastilah tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW, akhlak dan budi pekerti,  sejarah tentang perjuangan menyebarkan agama islam hingga proses saat nabi menghadapi sakaratul maut.

Nah, proses sakaratul maut itulah yang memberikan kesan mendalam pada ceramah kali ini. Beliau memaparkan bahwa Nabi Muhammad SAW meninggal dunia pada usia 63 tahun. Jadi, mahfum kalau umur rata-rata dari umat Nabi Muhammad SAW berkisar diantara itu. Ya, paling tidak diantara 60 sampai dengan 80 tahun. Lalu, pertanyaannya adalah apakah dengan kisaran umur seitu kita telah mempersiapkan diri menghadapi sakaratul maut. Atau jangan-jangan kita malah tidak memikirkannya sama sekali.

Untuk itulah penting bagi kita yang masih hidup di dunia ini untuk mulai dari sekarang mempersiapkan diri menjemput yang namanya ajal. Kita tidak akan pernah tahu kapan ajal itu menjemput. Bisa saja tanpa disadari hari ini kita telah berada di alam lain. Dan tentu akan rugi jika pada saat ajal menjemput, kita dalam keadaan yang penuh dengan gelimang dosa. Sebab itu, beliau selaku penceramah mencoba berbagi hikmah dengan 2 nasehat yang perlu untuk direnungkan dan dijadikan pegangan saat sakaratul maut itu tiba. Dua nasehat itu adalah :

  • Ikhlas saat Malaikat Izrail ingin mencabut nyawa kita. Artinya, kita berserah diri dengan hanya menyerahkan seluruh yang ada pada diri kita kepada Allah SWT semata. Berfokuslah untuk terus mengingat Allah SWT dengan penuh keiklasan. Jangan memikirkan yang selain dari Allah. Tinggalkanlah pikiran yang mengarah pada dunia. Terlebih-lebih malah sibuk memikirkan warisan yang belum dibagikan. Itu tidak ada artinya lagi. Ikhlaskanlah semuanya dan jangan menolak sakaratul maut dengan melakukan perlawanan. Menolak hanya akan menambah penderitaan kita. Itu sebabnya banyak orang yang gelisah dengan berbalik kekiri dan kekanan saat sakaratul maut itu menjemput karena mereka melakukan perlawanan untuk menolaknya
  • Berbaik sangka bahwa Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa kita. Sebagaimana yang diketahui dalam Al Qur’an bahwa Allah SWT mengikuti prasangka yang baik dari hambanya. Jadi, saat proses sakaratul maut tersebut teruslah berprasangka baik bahwa Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa kita. Jangan pesimis apalagi putus harapan takkala kita mengetahui bahwa dosa kita tak terhitung lagi. Allah SWT maha pengampun. Kita harus tetap optimis dengan prasangka yang baik tersebut. Tapi jangan sampai prasangka baik itu disalah artikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, karena beranggapan bahwa dengan berprasangka baik maka Allah SWT akan mengampuni dosa kita, maka kita menjadi lalai untuk sholat.

Sesungguhnya, berbicara tentang sakaratul maut ini membuatku merasa takut. Takut karena sebagai manusia biasa yang penuh dengan khilaf dan salah tentu banyak dosa yang sering kulakukan. Jujur saja, belum banyak amal ibadah  untuk persiapan menghadapi kehidupan akhirat. Yang ada malah sering terlena dengan kehidupan duniawi sehingga kehidupan akhirat jadi terabaikan. Duh, sampai kapan semua ini dapat kuakhiri. Aku tidak ingin terus begini. Aku ingin kelak jika kembali kepada Allah SWT dalam keadaan bersih. Oleh karena itu ya Allah, bimbinglah hambamu yang lemah ini untuk mampu memperbaiki diri menjadi seorang yang taat kepada-Mu hingga saat sakaratul mau itu menjemputku, aku telah siap dengan segenap jiwaku untuk menghadap ke haribaan-Mu. Amin Ya Rabbal Alamin.

About these ads

20 thoughts on “Saat Sakaratul Maut

  1. Amin, Allahumma Amin..
    Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan urusan akhirnya dan selalu mendapat keampunanNya.

    Terima kasih 2 nasehatnya mas. Kayaknya ini penting banget karena aku belum pernah dengar 2 nasehat seperti ini ketika menjelang kematian…
    Hemm… :D

  2. Sedikit merinding bacanya :( Kalau menyangkut maut, memang nggak ada yg tahu kapan datang menjemput.. mungkin sebagai manusia, kita hanya bisa berbuat sebaik-baiknya, baik dengan Allah maupun ke sesama :)

  3. Datangnya ajal adalah rahasia Illahi, tapi kita memang wajib mempersiapkan diri. Kalaupun kadang ada kekhilafan, semoga lebih banyak kebaikan yang kita tanam :)
    Trima kasih pencerahannya, Fan…selamat beraktifitas pagi!

  4. dulu aku pernah lalai lho….
    yaitu merasa amat sempit berpikiran bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa2ku saking besarnya kurasakan dosa yang kuperbuat….

    tapi akhirnya aku sadar betul, itu hanya ucapan orang2 tak beriman…. karenanya, emmang selama ruh kita masih bersama jasad ini, pilihan kita hanyalah memohon ampunan setiap harinya ^_^

  5. Dan imam ghazali pernah mengingatkan, dalam kehidupan ini yang paling dekat dengan kita adalah kematian… semoga saat DIA memanggil kita kembali, kita telah mempersiapkan hal indah untukNYA…
    -salam kenal :) -

  6. Alhamdulillah, terima kasih pencerahannya. Tapi seperti biasa, teringat dan terinspirasi ketika membacanya…sesudahnya mulai lupa lagi deh. Lebih banyak mengejar dunia drpd akhirat. Ya Allah, ampunilah dosa2 kami, dosa ibu bapak kami…dan saudara kami ini, dan berilah kami akhir yang khusnul khotimah.

    Salam takzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s