Banjir


Masalah banjir sepertinya masih menjadi momok yang terus menghantui warga Samarinda hingga saat ini. Setiap kali turun hujan, dapat dipastikan beberapa kawasan yang kerap dilanda banjir, pasti akan tergenang air beberapa senti. Masalah ini sebenarnya adalah masalah klasik yang telah berlangsung lama. Pemerintah Kota Samarinda pun sebenarnya telah berusaha keras untuk menanggulangi permasalahan ini dengan membangun beberapa polder guna menampung debit curah hujan yang kadang berada pada level “ekstrem” (benar nggak bahasanya?). Tapi sayang, usaha itu pun sampai saat ini masih belum menampakkan hasil. Malahan, dari berita yang kubaca pada koran lokal seminggu yang lalu ‘kalau tidak salah’, polder yang terletak di simpang empat Lembuswana mengalami pendangkalan karena jarang dikeruk.

Kalau sebagian warga Samarinda mengalami banjir akibat curah hujan yang cukup tinggi. Lain lagi dengan yang dialami oleh beberapa kawasan yang juga mengalami banjir tetapi disebabkan oleh pasang Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus. Biasanya, pasang Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus ini terjadi saat bulan purnama tiba. Apabila dijelaskan secara ilmiah seperti yang kukutip dari sebuah artikel, pada saat bulan purnama atau bulan baru, air pasang akibat gravitasi bulan diperkuat oleh gravitasi matahari yang berada hampir dalam satu garis. Akibatnya air laut naik lebih tinggi dari pasang biasa. Air pasang makin tinggi bila posisi bulan dan matahari segaris dan jaraknya dari bumi pada posisi terdekat.

Sungai-sungai tersebut akan menumpahkan airnya hingga merendam rumah-rumah penduduk yang bermukim di persekitaran sungai berhampiran. Penyebabnya tidak bukan karena sungai-sungai tersebut telah mengalami pendangkalan yang cukup hebat akibat degradasi lingkungan. Maksudnya nih, (sedikit sok tahu) sungai-sungai tersebut diperlakukan diluar batas kewajaran. Selain dipergunakan untuk MCK, sungai-sungai tersebut kadang berfungsi ganda sebagai tempat membuang sampah rumah tangga, dan mungkin juga sampah hasil sisa industry yang tak teruraikan. Hmmm….memprihatinkan memang.

Nah, yang menjadi korban banjir akibat pasang sungai tersebut salah satunya adalah aku dan keluargaku. Bagaimana tidak? Letak rumahku berseberangan langsung dengan Sungai Karang Mumus. Alhasil, banjir pun tak dapat dielakkan. Meskipun hanya beberapa jam, tapi cukup merepotkan juga. Hari ini saja, saat aku mengetik artikel ini, air Sungai Karang Mumus beberapa jam tadi telah menggenangi jalan raya dan merendam beberapa rumah warga. Namun, aku dan keluargaku cukup beruntung karena pasang kali ini hanya merendam halaman depan dan bagian belakang dapur rumahku.

Halaman depan rumahku yang tergenang air saat pasang Sungai Karang Mumus

Ini berbeda dengan apa yang aku dan keluargaku alami dipenghujung tahun 2008, dimana pasang Sungai Karang Mumus mencapai puncaknya yang begitu hebat hingga merendam kedalam rumah. Kamarku pun tidak luput dari genangan air. Terpaksalah harus bekerja ekstra untuk memindahkan barang-barang agar tidak terendam dan lalu membersihkannya ketika air telah surut.

Namun, semua itu tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan banjir besar yang pernah berlaku pada Juni 1998 silam. Banjir besar tersebut telah memberikan efek yang luar biasa bagi warga Samarinda dan melumpuhkan segala aktivitas. Penyebabnya sudah pasti hujan yang kala itu mencurahkan airnya kebumi dengan intensitas sangat deras berturut-turut selama 2 hari. Akibatnya, bendungan Benanga di Lempake tak mampu lagi menampung air, lalu jebol deh.

Suasana Kota Samarinda Kala Banjir

Itu tentu menjadi kenangan tersendiri yang tak dapat aku lupakan. Saat itu aku masih duduk dibangku kelas 3 SMA dan terpaksa tidak masuk sekolah beberapa hari. Padahal aku itu sebenarnya tipe orang yang sepertinya takut apabila tidak masuk sekolah walau sehari saja. Tapi apa daya? Kala itu aku harus berkompromi dengan keadaan “dramatisir mode on”. Dan yang paling berat setelah itu adalah harus membersihkan rumah dari sisa-sisa banjir yang masih tertinggal, terutama lumpur yang benar-benar menguras tenaga untuk disingkirkan. Lelah yang kurasakan saat itu dan berharap dalam hati, ini tidak akan terulang lagi.

Update Terbaru :

Banjir karena pasang sungai semakin parah. Rumah orangtuaku di Jalan Tarmidi, Kota Samarinda turut terendam. Bagian dapur dan halaman depan adalah area yang paling parah digenangi air. Konon, dari informasi yang aku dapat bahwa pasang sungai ini dipengaruhi oleh banjir di daerah hulu Mahakam. Berikut foto suasana banjir tersebut yang aku jepret pada Hari Sabtu, Tanggal 27 April 2013, Pukul 10.02 wita.

Halaman depan rumah orangtuaku yang digenangi banjir karena Sungai Karang Mumus yang sedang pasang
Halaman depan rumah orangtuaku yang digenangi banjir karena Sungai Karang Mumus yang sedang pasang

6 thoughts on “Banjir

  1. Mas, ini sepertinya simpang 4 lembuswana ya. Soalnya 6 bulan yang lalu saya pernah ke Samarinda dan sangat familiar dengan jalan ini

  2. unntung kotaku nda pernah banjir
    salam kenal

    ==========
    DUNIAKU DISINI : Senang dong pastinya. Nggak perlu repot seperti kebanyakan orang yang mengalami banjir harus beberes beres setelah banjir itu reda

  3. Hello! Would you mind if I share your blog with my myspace group?
    There’s a lot of folks that I think would really appreciate your
    content. Please let me know. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s