Sosialisasi Pengarusutamaan Gender


Selama ini aku sering mendengar perkataan kesetaraan gender. Tetapi, kesetaraan gender semacam apakah yang dimaksud, aku juga tidak terlalu paham. Yang aku tahu, bahwa kata gender sendiri secara harfiah bersinonim dengan pengertian jenis kelamin. Selebihnya, penjelasan mengenai hal itu rasanya masih minim. Dan aku yakin, masyarakat luas pun mengalami hal yang sama seperti diriku, buta terhadap hal tersebut.

Untuk itulah, kemarin, tanggal 6 Desember 2010, di instansi tempat aku bekerja diadakan Sosialisi Pengarusutamaan Gender. Apa itu Pengarusutamaan Gender? Pengarusutamaan gender atau disingkat PUG adalah strategi yang dilakukan secara rasional dan sistimatis untuk mencapai dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam sejumlah aspek kehidupan manusia (rumah tangga, masyarakat dan negara), melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

Tujuan dari Sosialisasi PUG ini adalah memberikan pengetahuan yang memadai mengenai arti pentingnya penerapan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam segenap bidang kehidupan. Diharapkan dengan adanya kesetaraan gender ini maka tidak ada lagi bentuk diskriminasi dan marginalisasi terhadap perempuan dimasyarakat kita.

Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa perempuan di negeri ini sering dihadapkan pada aturan sosial dan budaya masyarakat setempat yang lebih mengutamakan laki-laki. Padahal bisa jadi dari segi kemampuan dan keterampilan, perempuan mungkin mampu mengungguli laki-laki. Tapi ya itu tadi, aturan sosial dan budaya tersebut telah bertahun-tahun tertanam kuat dan menjadikan gerak langkah perempuan untuk maju menjadi terhambat.

Ambil contoh pada suatu keluarga miskin di daerah pedesaan yang memiliki anak laki dan perempuan. Kedua-duanya berkeinginan kuat untuk terus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun, karena terbentur keadaan ekonomi dan hanya mampu menyekolahkan 1 anak saja, maka diambillah keputusan untuk menyekolahkan anak lelaki dengan asumsi bahwa anak laki-laki adalah tulang punggung keluarga yang nantinya diharapkan mampu memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Orang tua dari kedua anak tersebut mungkin berpikir bahwa pendidikan memang penting, tetapi ada yang keliru dari pemikirannya tersebut, yaitu mengalahkan keinginan anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi hanya karena dianggap bahwa yang mampu menopang ekonomi keluarga itu adalah anak laki-laki. Itu hanya salah 1 contoh. Masih banyak lagi hal-hal diluar sana yang memperlihatkan bentuk ketidakadilan gender. Sungguh menyedihkan dan perlu ada agen-agen perubahan untuk mendobraknya.

Tentu saja kesetaraan gender ini tidak dimaksudkan untuk menjadikan perempuan lantas dapat bertindak dengan semau-maunya. Kesetaraan gender ini hanyalah merupakan solusi untuk mengakomodir keinginan perempuan yang ingin diperlakukan adil sehingga mampu berkembang dengan kualitas diri yang layak tanpa melupakan kodrat yang sesungguhnya.

Nah, itulah sebagian yang dapat kusimpulkan dari acara sosialisasi PUG tersebut. Tentu masih banyak yang harus aku pelajari untuk lebih memahaminya. Satu hal yang menurutku patut direnungkan yaitu kutipan dari narasumber yang berasal dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, sebagai berikut : LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MEMANG BEDA, TAPI BUKAN UNTUK DIBEDA-BEDAKAN.

42 thoughts on “Sosialisasi Pengarusutamaan Gender

  1. masalah kesetaraan gender ini, memang menjadi fokus perhatian utama juga dalam hal pelayanan publik ataupun peran serta dalam pelayan kesehatan masyarakat.

  2. Kok pusing banget ya…..
    Padahal di Perguruan Tinggi, di beberapa perusahaan (termasuk tempat saya bekerja sebelum pensiun), masalah gender ini sudah tak dibahas lagi. Di bidang pekerjaan yang dilihat adalah kinerjanya, tak peduli dia laki-laki atau perempuan. Bahkan jika suami atau anak sakit, dapat memilih mau dibiayai oleh kantor suami, atau oleh kantor isteri.

    Masalah di rumah lain lagi, itu hak pribadi masing-masing, yang ditentukan oleh latar belakang budaya, pendidikan, juga lingkungan.

  3. ternyata kesetaraan gender ini masih saja dibahas ya ,Mas Ifan.
    sewaktu bunda masih aktif bekerja (1978 – 1998) kesetaraan gender ini tak pernah dibahas, yg penting kita (pria /wanita) bisa bekerja dgn maksimal, jadi siapapun dia, entah pria atau wanita , dilihat hanya dr kinerja nya saja, apakah dia capable dan bertanggung jawab pd posisinya masing2.

    dan, bila dirumah, ada kesepakatan antara suami/istri, utk selalu saling membantu dlm segala hal, baik ttg pendidikan anak, maupun pembagian pekerjaan domestik .
    salam

  4. wah, salut dengan agendanya, mas ifan. di jateng sudah dilakukan sosialisasi beberapa waktu yang lalu. meski masih menimbulkan pro dan kontra, sosialisasi seperti ini agaknya memang perlu terus dilakukan secara simultan dan berkelanjutan. selamat tahun baru 1432 H, mas ifan, semoga makin tambah sukses.

  5. kesetaraan gender masih perlu dilakukan dengan sosialisai semacam ini, pada prakteknya dalam rumah tangga atau lingkungan tertentu masih ada kesenjangan hak wanita dan laki-laki

  6. menurut Denuzz, kesetaraan gender mulak diperlukan. namun bukan berarti tanpa batasan. ada beberapa hal dimana perempuan tidak seharusnya melakukan beberapa hal yang dilakukan laki-laki, dan pula ada beberpa hal yang harus perempuan melakukannya…
    dalam islam pun sudah dijelaskan mengenai kesamaan ini. laki-laki dan perempuan punya hak dan kewajiban masing-masing…

    Salam BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

  7. saiah bingun katanya ada kesetaraan gender..lantas kenapa ada mentri pemberdayaan perempuan, bukankah itu merefleksikan kalau perempuan itu harus di berdayakan?

  8. walau bagaimanapun perempuan adalah tetap perempuan Dia ibu bagi anak-anaknya dan Istri bagi suaminya dan yang terpenting wanita adalah sebagai pendidik di dalam keluarga dan pengejawantahan suami di dalam kehidupan sehari-hari . dan semangat kebersamaan adalah mutlak

  9. kujungan perdana sob😀

    laki-laki dan perempuan memang beda, dan harus dibedakan sesuai dengan fungsinya masing-masing. yang keliru adalah memperlakukan mereka dengan tidak sesuai dengan fungsinya!

    salam blogger dari bandung🙂

  10. saya setuju dengan mama aline, sosialisasi mmg masih tetap diperlukan, karena pemahaman tentang kesetaraan gender belum merata di semua lapisan masyarakat.

    pengarusutamaan gender sebenarnya tidak semata-mata menyangkut persamaan hak antara wanita dan pria tetapi juga menyangkut perlindungan wanita dan anak dari hal-hal buruk seperti traficking.

    persamaan gender juga harus ditanggapi dengan bijak sehingga persamaan hak tidak membuat kehilangan nilai-nilai dasar tugas dan fungsi antara pria dan wanita.

  11. hehe judulnya bikin pusing… tapi setuju kok ama kesetaraan gender terutama dalam hal pendidikan, karena menurutku pendidikan itu penting buat semuanya biar gak mudah dibodohi atahu direndahkan macam tki kita di luar negeri. terus tindak lanjut dari seminar ini apa ya? sosialisasi ke komunitas masyarakat tertentu?😉

  12. Memang…, laki2 dan perempuan berbeda, tapi bukan utk dibeda-bedakan. Namun sebagai perempuan aku tetap merasa bahwa terkadang perbedaan itu harus dilakukan juga. Bagiku tak semua jenis pekerjaan dan kegiatan pantas dilakukan oleh wanita. Ini hanya pendapatku…

  13. aku suka dengan kata-kata yang paling akhir,,
    “LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MEMANG BEDA, TAPI BUKAN UNTUK DIBEDA-BEDAKAN.”

    Jaman sekarang jgn terlalu melihat gender lah, toh perempuan juga bisa melakukan apa yang di lakukan laki-laki, (*kecuali soal rahasia rumah tangga! ^__^

  14. memang bukan untuk dibeda2kan, mslhnya bayak yang menjadikan ini sebagai alasan agar dapat bertindak sebebas dan semau2nya yang melewati kodratnya. contohnya aja jadi pemimpin negeri… dan banyak contoh lainnya.

  15. Kalau begitu benar juga pameo keluarga berencana dulu yang mengatakan : Anak laki-cowok sama saja, anak perempuan-cewek juga sama saja.😆
    Btw, saya setuju dengan kesetaraan gender dalam pendidikan namun bukan pada hal2 yang membutuhkan figur kepemimpinan.
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  16. Dalam Islam-pun laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mengaktualisasikan diri masing2. Di jaman Rasulullah juga ada perempuan yang ikut berperang.🙂

  17. Masing2 lelaki dan wanita itu udah diatur kodratnya masing2. Jadi, mau disetarakan seperti apapun ya tetap ga bisa sejajar. Masing2 udah punya tugas, kewajiban, dan hak masing2.🙂
    Hal kesetaraan inilah yang dijadikan senjata oleh kaum feminis. Hati2.👿

  18. gender adalah topik yang sedang menghangat dibahas dimana-mana… setuju dengan endingnhya: pria dan wanita memang berbeda, tapi tidak untuk dibeda-bedakan… salam sukses..

    sedj

  19. Ifan…tulisannya keren🙂
    Istilah pengarusutamaan pertama kali saya dengar waktu mengikuti penataran P4 Pola 120 jam beberapa belas tahun yang lalu.
    Terus terang saya bingung. Pada saat ditanyakan, penjelasannya juga tidak memuaskan. Tapi disini, saya jadi mengerti dengan tepat apa yang dimaksud pengarusutamaan…makasih ya…!
    Laki-laki dan perempuan tidak untuk dibedakan, namun juga jangan selalu disamakan. Saya menganut prinsip, bahwa pemimpin rumah tangga adalah laki-laki. Sehebat apapun perempuan, dia harus menjadikan suaminya sebagai seorang imam dalam keluarga…asal, suaminya memang pantas buat dijadikan imam…😀

  20. Masing2 memiliki kelebihan dan kekurangannya karena laki2 dan perempuan sebenarnya saling melengkapi. Ada peran dan fungsi dari laki2 dan perempuan yang sesuai dengan porsinya sehingga akan muncul rasa saling membutuhkan satu sama lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s