Perpustakaan Umum Samarinda


Ketika melintas di Jalan Kusuma Bangsa, selalu saja pandanganku tertuju pada bangunan tua diatas bukit. Bangunan tua itu begitu lekat dengan kehidupanku. Ia menjadi salah 1 bagian terpenting yang tak akan pernah terhapus dalam memoriku. Ya, bangunan tua itu adalah Perpustakaan Umum Samarinda.

Aku mulai mengenal Perpustakaan Umum ketika duduk dibangku sekolah menengah pertama. Dan tambah mengenal lagi saat mulai memasuki dunia perkuliahan. Hari-hariku sebagai mahasiswa pada waktu itu banyak dihabiskan di perpustakaan. Mencari buku-buku referensi untuk tugas kuliah atau hanya sekedar membaca majalah-majalah lama adalah santapanku ketika berkunjung kesana. Walau koleksi bukunya tidak terlalu banyak, namun itu tidak menyurutkan langkahku untuk kembali berkunjung ke bangunan yang kata orang syarat dengan ilmu pengetahuan, setiap kali ada kesempatan.

Suasana bagian dalam perpustakaan

Bangunan Perpustakaan Umum itu sebenarnya tidaklah terlalu luas. Hanya terbagi beberapa ruang yang disekat-sekat disesuaikan dengan kategori dari jenis-jenis buku berdasarkan pengklasifikasian dewey decimal. Di halaman luar, terdapat taman dilengkapi dengan gazebo-gazebo. Karena letaknya diatas perbukitan, suasanya menjadi teduh dan rindang. Tidak heranlah, banyak orang yang betah duduk berlama-lama hanya sekedar ngobrol atau melihat view dipersekitaran.

Gazebo untuk duduk bersantai

Berada didalam bangunan tua itu, hal pertama yang sering aku lakukan adalah hunting buku-buku yang bertemakan ‘motivasi’ dan ‘kesuksesan hidup’. Bahkan, kesukaanku akan buku-buku yang bergenre semacam itu mengalahkan pencarianku akan buku-buku perkuliahan. Wajar saja, buku-buku perkuliahan tampaknya terlalu berat untuk dipahami dan perlu konsentrasi lebih untuk mencernanya.

Buku-buku karangan Dale Carniege atau Paul Hauck menjadi favoritku saat itu, disamping juga  buku-buku bertemakan religi yang ditulis oleh beberapa pengarang muslim yang aku lupa namanya. Namun sayang, buku-buku itu terlihat kusam dan berdebu. Tampak tidak terawat. Entahlah, apakah buku-buku itu memang  telah begitu lama menjadi penghuni sejak bangunan itu berdiri ataukah memang tidak banyak orang yang tertarik untuk membaca buku-buku yang bertemakan motivasi. Ah.., masa bodoh apabila ada orang yang tak suka dengan buku jenis macam itu dan lebih tertarik dengan majalah atau novel. Yang penting aku suka dan terhibur serta mendapatkan sedikit pencerahan.

Area Balai Kota Samarinda dilihat dari puncak perpustakaan

Ada kebiasan yang aku sukai saat berada diperpustakaan, yaitu membaca di sudut ruangan sambil sesekali memandang keluar jendela melihat pemandangan sekitar yang banyak ditumbuhi pepohonan serta mendengarkan suara-suara burung yang berkicau. Betapa mendamaikan hati. Kalau sudah begitu, aku bisa betah berjam-jam berada disana. Baru ingat pulang kala perut mulai keroncongan.

Nyaman dan santai berada di perpustakaan ini

Bisa dikatakan, hal-hal diatas menjadi sekelumit cerita tentang aku dan Perpustakaan Umum Samarinda dimasa lampau. Perpustakaan yang telah mewarnai kehidupanku dan  banyak berjasa hingga mengantarkanku pada keadaan sekarang ini (emang sekarang jadi apa?)😉 .  Dari perpustakaan itulah aku banyak ditempa untuk menumbuhkan minat membaca dan mengembangkan kemampuan menulis. Meski sekarang aku jarang mengunjungi perpustakaan itu karena kesibukanku yang sekarang telah bekerja, namun segala hal mengenainya akan selalu menjadi kenangan indah yang akan kuingat sampai kapanpun jua.

35 thoughts on “Perpustakaan Umum Samarinda

  1. Buku juga selalu membuat saya nyaman, Fan…
    Seberapa berat tugas yang saya hadapi, biasanya akan terasa lebih ringan kalau ada buku yang menemani. Dibacanya kadang beberapa lembar, bahkan seringkali tidak sempat dibuka, tapi buku itu harus ada karena efek menenangkannya luar biasa🙂
    Oya, saya jarang sekali berkunjung ke perpustakaan. Lebih sering jalan-jalan ke toko buku buat beli atau sekedar baca-baca…

  2. wahh, suasananya enak dan nyaman, banyak pepohonan🙂, suasana yang jarang ada diperpustakaan yang lain.😀
    Mudah-mudahan Perpustakaannya terus ramai dan terus ada perhatian Pemerintah setempat.

  3. Perpustakaan merupakan bagian dari pendidikan dan pengajaran, karena salah satu fungsi perpustakaan adalah fungsi pendidikan, yaitu merupakan tempat belajar di luar bangku pendidikan (non formal) maupun tempat belajar dalam lingkungan pendidikan itu sendiri (formal)dan juga fungsi informasi.

  4. Wah saya bukan penghuni perpustakaan, paling mentok ke perpustakaan kampus. Itu pun jarang… tapi kalau perpustakaannya kaya yang di Samarinda itu mikir-mikir deh… tempatnya kayanya sejuk dan asyik buat membaca sambil menikmati hari.

  5. Wah.. Tempatnya asri sekali ya, nuansa perkebunan!😀
    Di tempat ku juga ada loh Perpustakaan Daerah SU, tapi sekarang sudah kelihatan sangat modern.
    Koleksi bukunya pun sangat banyak, ratusan lemari mungkin ada. Selain itu ada fasilitas pustaka digital, ruang multimedia, alat praga, komputer dan internet wifi gratis! Gedung full AC, jadi semua ruangan dan buku tetap terawat dan bersih.
    Ohya, bulan desember kemarin Pustaka kami mendapat ISO 9001 dan penghargaan sebagai Pelayanan Terbaik dari SBY langsung. Bangga dong saya menjadi anggotanya,, hihi,,😀
    (jadi pingin buat postingan nih!)

  6. hehehe.. apapun itu bentuknya, mau buku, novel, majalah.. film mungkin… asal semua bisa mengantarkan sesuatu (ilmu pengetahuan baru maupun lama) kpd kita penikmatnya.. hmmm…

  7. Halo, Bang Ifan.
    Salam kenal, ya.
    Saya baru nemu postingan ini pas iseng googling buat nyari perpus yang ada di Samarinda.

    Btw, semenjak saya jadi mahasiswa baru, saya jadi rajin ke Puskot (Perpustakaan Kota) ini, lho. Pertama kali dateng ke sana bareng temen-temen waktu zaman SMP, sekitar tahun 2008. Bertahun-tahun setelah itu baru datang sebagai Maba Unmul xD

    Di Puskot dari dulu sampai sekarang memang gak terlalu terlihat perbedaan yang mencolok, tapi bagi saya yang kalo dateng ke sana cuma buat mainin ayunannya doang, pasti ngerasain banget kalo Puskot sekarang memang beda. Tempat permainannya udah pada ancuuurrr :”)

    Tapi isi dari perpustakaannya ga mengecewakan, walaupun buku-buku terbaru bisa dihitung pake jari, tapi buku-buku lama ga kalah bagusnya kok. Suasananya apalagiii, perpusnya adem anyem, tamannya sejuk, teduh, cucok buat mojok *eh

    1. Syukurlah kalau perpustakaan umum masih ada yang mengunjunginya ditengah gencarnya serangan internet yang begitu mudah diakses dijaman sekarang ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s