Suatu Hari Di Kota Jakarta


Jakarta selalu menjadi magnet bagi orang daerah untuk mengunjunginya. Tidak perduli apakah kunjungan tersebut dalam rangka mengadu nasib untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, karena ada tugas kantor atau hanya sekedar bepesiar alias cuci mata. Yang pasti pesona Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langitnya mampu menyihir siapa saja untuk mengetahuinya lebih mendalam. Kupikir, setiap orang berharap agar bisa melihat gemerlap Kota Jakarta ini setidaknya sekali dalam seumur hidup mereka.

Begitupun dengan diriku yang juga mendambakan hal yang sama. Sangat berkeinginan suatu hari bisa menginjakkan kaki di Ibukota Negara Republik Indonesia ini. Namun tidak pernah tahu bagaimana cara mewujudkannya. Sampai suatu saat kesempatan itu datang dan benar-benar terkabulkan. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, bisa kesana sampai dua kali. Hanya rasa syukur yang bisa dipanjatkan kepada Tuhan atas kesempatan yang luar biasa ini.

Sayangnya pada waktu itu tidak ada catatan yang aku torehkan untuk merekam jejak perjalananku kesana. Maklumlah, menulis di blog belum menjadi agenda rutin seperti sekarang ini. Blog yang telah aku buat hanya sekedar pajangan yang tidak pernah kuisikan dengan tulisan apapun. Sayang sekali! Padahal banyak hal yang terjadi selama berada di Jakarta 2 tahun silam. Oleh karena itu, pengalamanku selama berada disana hanya bisa kuceritakan secara garis besarnya saja. Itupun mengandalkan ingatan yang masih tersisa di kepala ini. Dan berikut tentang Jakarta yang masih aku ingat.

KUNJUNGAN PERTAMA KE JAKARTA

Selasa, 6 Januari 2009 menjadi salah satu hari yang bersejarah dalam hidupku. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota yang pada jaman penjajahan Belanda dulu bernama Batavia. Senangnya bukan main. Apalagi aku bersama teman-teman berada disana selama 4 hari, yaitu mulai tanggal 6 sd. 9 Januari 2009.

Di Puncak, Bogor

Selama 4 hari tersebut, beberapa tempat kami kunjungi. Kronologisnya adalah pada hari pertama kami hanya tinggal di penginapan untuk beristirahat mengembalikan stamina setelah lelah dengan perjalanan panjang dan penyelesaian berbagai urusan. Nah, dihari kedua dimulailah kunjungan kebeberapa tempat. Kunjungan pertama adalah ke daerah puncak. Wow…dingin sekali. Untung aku bawa jaket, jadi lumayanlah untuk mengusir hawa dingin yang menyusup sampai ketulang. Di puncak ini, selain dapat mengunjungi masjid yang kebersihannya benar-benar terjaga, kita juga dapat melihat pemandangan dibawahnya yang tak kalah indah. Lalu, disini aku juga sempat membeli bluberry dan strawberry. Rasanya masam dan harganya juga lumayan mahal. Akhirnya menyesal karena ternyata di sekitaran wilayah Tanah Abang, banyak penjual yang menjajakan strawberry yang ukurannya besar-besar, tidak terlalu masam dan juga terjangkau kocek. Jadilah aku beli beberapa untuk dibawa pulang. Untungnya sampai di rumah masih bagus. Jadi, keluarga berkesempatan juga menikmati strawberry yang asam manis ini.

Di Puncak, Bogor
Di Puncak, Bogor

Selanjutnya, dari daerah puncak, kami menuju ke perkebunan teh. Aku lupa nama perkebunannya. Yang jelas, tempat ini tidak hanya sekedar perkebunan. Ia telah dikembangkan menjadi tempat wisata dimana terdapat pabrik pengolahan sehingga semua orang bisa menyaksikan bagaimana proses pembuatan daun teh sampai akhirnya menjadi serbuk yang bisa diseduh untuk diminum. Selain itu, disini juga menjual hasil teh olahan dengan berbagai kemasan dan rasa. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan membeli beberapa bungkus teh yang terdiri dari teh hitam, teh hijau dan juga lemon tea. Teman-temanku pun melakukan hal yang sama dengan memborong berbagai jenis teh tersebut. Mumpung murah dan tergoda dengan khasiatnya yang tertera pada kemasan. Tidak hanya itu, kami pun mencoba minum teh langsung dari sebuah cafe diperkebunan tersebut. Ternyata mahal lho. Masa harga 1 gelas teh mencapai sekitar sepuluh ribuah lebih. Jadi tekor deh. Tapi tidak apa-apa. Semuanya terpuaskan dengan pemandangan alam yang ada disekitarnya.

Di Perkebunan Teh

Selesai dari perkebunan teh, kami sempatkan ke tajur untuk melihat-lihat berbagai macam tas dan pernak-perniknya yang dijual dengan harga yang sepertinya lumayan bikin kantong terkuras. Tapi apa daya, mata ini sudah kalap dan akhirnya kembali membeli beberapa tas. Dari tajur, perjalanan selanjutnya diteruskan ke Kebun Raya Bogor. Senang sekali rasanya bisa kesini. Apalagi melihat berbagai macam species tumbuhan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Unik dan mendapatkan pengetahuan baru. Disini juga terdapat museum yang memamerkan berbagai macam species hewan yang telah diawetkan, contohnya saja adalah kerangka dari ikan paus.

Di depan Istana Bogor

Kalau diperhatikan, terdapat juga bangunan rumah tua jaman peninggalan Belanda. Aku tidak masuk kedalam dan hanya melihatnya dari luar. Meski tampak kusam namun bangunan tersebut berdiri kokoh. Ini mengingatkanku dengan bangunan serupa di sekolahku sewaktu SMP dulu. Bangunan SMP ku tersebut merupakan bekas penjara yang dibangun pada jaman kolonial. Ia berdiri kokoh sama dengan kokohnya bangunan rumah yang kulihat di kebun raya bogor ini.

Aku tidak tahu luas kebun raya ini seberapa hektar. Yang jelas, mengelilinginya dengan jalan kaki tidak akan cukup dalam sehari. Karenanya sopir mengajak kami berkeliling-keliling melihat satu tempat ke tempat yang lain. Sempat berhenti kesuatu makam yang konon merupakan makam dari istri pendiri kebun raya ini, yaitu Sir Thomas Stamford Raffles. Si supir lalu mengatakan kepada kami bahwa melintasi makam tersebut akan mencium bau harum. Dan benar saja, aku dan teman-teman mencium bau harum tersebut.

Berfoto rame-rame di depan Istana Bogor

Mengelilingi Kebun Raya Bogor ini memang mengasyikkan. Tanpa terasa hari sudah menjelang sore. Kamipun beranjak pulang dan menutup perjalanan dihari kedua dengan sebuah pengalaman baru yang luar biasa.

Pada hari ketiga, agenda kami yang pertama adalah mengunjungi Pasar Tanah Abang. Hmm…inikah pasar grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut, gumamku dalam hati. Tentu saja, disini kami berburu berbagai macam baju yang aku sendiri bingung memilihnya karena saking banyaknya. Tapi harus tetap membeli karena sudah diwanti-wanti dari rumah. Belum lagi luas pasar ini yang bikin kaki gempor untuk mengelilinginya.

Siang hari, kami ke Mangga Dua Square. Sama seperti Tanah Abang, Mall inipun luasnya minta ampun. Rasanya kaki ini tidak kuat. Apalagi disini kami cuma berempat saja, yaitu aku beserta temanku yang membawa istri dan anaknya. Temanku yang lain tidak mau ikut karena lelah. Nah, disini kami berkeliling-keliling mencarikan anak dari temanku itu baju dan tas ala barbie. Lama lho. Soalnya belum ada yang sreg dihatinya. Lelah dan kalau saja aku tidak punya malu, rasanya ingin duduk dilantai.

Selesai belanja, kami lalu ke lantai 7 dari mall tersebut menuju ke foodcourt. Baru saja masuk, kami langsung dihampiri oleh beberapa orang yang menyodorkan berbagai macam menu yang akan dipesan. Tentu saja kami terbengong-bengong. Kok sampai segitunya sih. Jadi berpikir, ternyata tidak mudah mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Anak-anak muda itu sampai rela untuk menjadi marketing dari tiap-tiap penjual makanan dengan menghampiri orang yang masuk sambil berebut dengan rekan yang lain. Aku yakin, mereka tidak hanya lulusan SMU saja, yang sarjana pun sepertinya ada yang berprofesi semacam itu karena mungkin sulitnya mendapatkan pekerjaan. Kadang merasa malu terhadap diri sendiri karena sering tidak bersyukur terhadap apa yang diperolehi selama ini.

Dari Mangga Dua Square, perjalanan kami lanjutkan ke Taman Impian Jaya Ancol. Nah, di Ancol ini kami hanya sempat ke Sea World. Maklum, kami baru tahu kalau jarak antar tempat permainan cukup jauh. Jadi, hanya satu tempat saja yang bisa kami sambangi. Apalagi waktu sudah mulai sore. Oleh karenanya, tidak kami sia-siakan selama berada di Sea World. Dan lagi-lagi aku terbuat terperangah. Seumur-umur baru melihat ikan-ikan besar yang selama ini hanya bisa di tonton di Animal Planet. Ada Ikan Paus, Hiu, Pari dan berbagai jenis ikan langka. Ada juga kura-kura dan buaya. Wah, merasakan juga akhirnya berjalan di eskalator sambil melihat ikan-ikan di aquarium raksasa tersebut. Lalu, kami penasaran dengan lantai dibagian atas. Ada apa gerangan? Ternyata dilantai ini kita bisa menyaksikan para petugasnya membersikan dan merawat ikan beserta aquariumnya. Dan tentu saja, karena langsung berhadapan dengan air laut dan ikan, maka bau amisnya pun sangat menyengat. Satu lagi yang membuat kami takjub, yaitu pengunjung bisa merasakan berapa suhu dari kedalaman laut tempat ikan-ikan itu hidup. Tinggal menempelkan tangan pada salah satu pegangan besi dari akuarium tsb, maka langsung dapat merasakan suhu dingin yang luar biasa.

Di Lapangan Monas

Pada hari terakhir, yaitu Jumat pagi, kami sempatkan untuk pergi ke Monumen Nasional alias Monas. Tentu saja, tidak kami sia-siakan untuk berfoto-foto di tempat yang menjadi simbol Kota Jakarta ini. Tidak lupa juga untuk mengitari sekelilingnya yang penuh dengan taman bunga yang berwarna-warni. Dan untungnya lagi, hari Jumat pagi itu, pengunjung masih sepi. Jadi, kesempatan untuk masuk melihat puncak monas terwujud. Wow, dari puncak Monas, dapat terlihat sekeliling Kota Jakarta. Dengan teropong yang disediakan dan tidak gratis, terlihat jelas gedung-gedung pencakar langit sampai jarak beberapa meter. Puas dengan itu, kami kembali kebawah dan melihat museum yang menampilkan diorama tentang perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tahun ke tahun. Juga ditampilkan potret Kota Jakarta dari jaman dulu hingga sekarang.

Di depan Tugu Monas
Berfoto pada latar belakang huruf Monumen Nasional

Kunjungan perdana ke Kota Jakarta ini sungguh berkesan. Banyak hal-hal yang aku rasakan selama berada disana. Tentu saja yang menjadi perhatian adalah bangunan-bangunan pencakar langit. Selain itu, aku juga menyaksikan tempat-tempat seperti gedung MNC Group, Menara Saidah, Hotel Indonesia Kempinski, Balai Sarbini, Patung Selamat Datang, Bundaran HI yang sering dijadikan tempat berdemo, Wisma Nusantara, Istana Merdeka, dan juga kantor pusat instansi tempat aku bekerja yang terletak di jalan Lapangan Banteng Jakarta Pusat.

Tugu Monas sebagai landmark Kota Jakarta

Selama berada disana, kami menginap di jalan Jaksa. Aku baru tahu kalau ternyata di jalan tersebut banyak bule-bule yang berkumpul. Ada yang dari Afrika, Eropa juga Asia seperti Jepang, China, Korea dan mungkin juga ada yang dari Timur Tengah. Body mereka gede-gede. Mereka berkumpul dibar-bar bersama dengan warga pribumi menghabiskan malam hingga subuh hari sambil berpesta dugem. Sampai kadang terdengar percekcokan antar mereka akibat mabuk mengkonsumsi alkohol yang berlebihan. Anehnya lagi, masyarakat disana sepertinya telah terbiasa dan sibuk dengan urusan masing-masing. Buktinya, aku juga melihat orang-orang berpakaian gamis menuju langgar untuk sholat yang letaknya tidak jauh dari tempat bar tersebut. Mungkin ini yang disebut loe loe gue gue.

Melihat sekeliling Kota Jakarta melalui teropong pada bagian puncak Monas
Ini pertama kalinya ke Monas

Di Jakarta, tidak lengkap kalau belum mencicipi kulinernya. Jadilah selama disana aku sempat merasakan nasi goreng gila yang terletak di jalan Sabang. Juga sempat merasakan nasi uduk. Ternyata di daerahku pun ada juga nasi yang sama dengan nasi uduk tersebut. Oh ya, di Jakarta pun, aku sempat naik bajaj lho. Suaranya sangat nyaring dan berisik. Suka selap-selip dan bikin sport jantung.

Namun dari semua itu, yang paling menjadi ciri Jakarta ternyata adalah kemacetannya. Baru kali ini aku merasakan kemacetan yang luar biasa. Harus sabar menunggu terurainya kemacetan untuk dapat lancar menuju kesuatu tempat. Dan itu benar-benar buang waktu. Rasanya tidak akan sanggup hidup di kota besar ini yang penuh dengan segala keruwetannya.

KUNJUNGAN KEDUA KE JAKARTA

Kunjungan kedua ini masih ditahun yang sama, tepatnya tanggal 14 sd. 17 Desember 2009. Pada kunjungan kali ini berkesempatan pula mengunjungi tempat-tempat di Jakarta yang pada kunjungan pertama belum sempat dikunjungin. Memang sensasinya agak berbeda. Rasa penasaran itu tidak terlalu besar lagi. Tapi tetap bersemangat untuk melihat hal-hal yang baru dari Jakarta tersebut. Sayangnya, pada kunjungan kali ini kami lupa membawa kamera digital. Jadi, momen-momen yang indah itu gagal untuk diabadikan. Tapi tidak apalah, yang penting masih bisa menceritakan urutan kronologis dari perjalanan ini sebagai berikut :

Pada hari kedua, rombongan yang terdiri dari 8 orang itu berbagi tugas. Aku dan kedua  temanku ke BKN Pusat yang terletak di Jakarta Selatan dan berdekatan dengan Cililitan Grosir. Sementara temanku yang lain ke instansi induk yang menaungi instansi daerah tempat kami bekerja. Setelah urusan selesai, rencananya kami akan sama-sama bertemu di Pasar Tanah Abang.

Ternyata urusan di BKN lumayan lama. Belum lagi sinyal telepon seluler  dilantai 11 ini yang kadang dapat kadang tidak sehingga menyulitkan komunikasi. Menurut yang aku dengar, memang sengaja diacak karena berdekatan dengan kantor militer. Entah benar atau tidak, yang jelas ini sangat merepotkan karena untuk berkomunikasi harus benar-benar mencari spot yang ada sinyalnya dengan suara yang harus keras supaya bisa terdengar oleh lawan bicara.

Ada kejadian yang lumayan membuat aku panas dingin lho selama disana. Ceritanya, temanku minta tolong kepadaku untuk mencarikan voucher pulsa. Ternyata, penjual  voucher pulsa tersebut letaknya berseberangan jalan dengan kantor yang kami kunjungi ini. Alhasil, aku harus menyeberang jalan untuk mencapai kesana. Aku bingung bagaimana cara menyeberanginya. Sementara tidak ada jembatan penyeberangan yang dekat lokasi tersebut. Mau tidak mau aku harus tetap menyeberanginya sebagaimana yang dilakukan orang-orang. Nah, disinilah letak kesulitannya. Di Samarinda, tidak terlalu banyak kendaraan yang lalu lalang. Sementara disini, tiap detik melintas kendaraan yang ukurannya pun tidak tanggung-tanggung besarnya. Aku jadi panas dingin dibuatnya. Keringat mulai bercucuran. Mulai ada perasaan ragu-ragu menghinggapi. Tapi karena kulihat ada orang yang juga berani menyeberang, aku pun memberanikan diri dan nekat melintas dengan melambaikan tangan sebagai isyarat kepada kendaraan-kendaraan tersebut untuk  memperlambat kelajuan. Dan akhirnya berhasil meski dengan susah payah sambil berlari-lari. Ya, beginilah nasib orang desa ke kota. Semuanya jadi serba sulit dan membingungkan.

Oh ya, rencana bertemu dengan teman-teman lain di Pasar Tanah Abang gagal. Selain urusan yang lumayan lama disana, atasan kami yang pada waktu itu ada kegiatan di Hotel Shangrilla menelpon temanku agar ke hotel tersebut untuk mengambil sesuatu. Terpaksalah pertemuan di Tanah Abang tersebut dibatalkan. Tetapi temanku yang lain tersebut tetap ke Pasar Tanah Abang dan melanjutkan perjalanan kebeberapa tempat. Sementara kami bertiga menuju Hotel Shangrilla. Sewaktu menginjakkan kaki di hotel ini, aku jadi terbengong-bengong dibuatnya. Wow, luar biasa eklusifnya. Baru kali inilah aku tahu keadaan sebenarnya dari hotel berbintang lima. Perasaan katro mulai menyelimuti aku. Apalagi sewaktu penjaga hotel membukakan pintu mobil yang kami tumpangi, membuatku gugup. Duh,  makin kedalam aku  mulai tidak percaya diri karena melihat orang-orang yang dari tampilan pakaiannya  sepertinya berkelas dan parlente githu…

Selepas dari Hotel Shangrilla, kami menyempatkan diri ke Masjid Istiqlal untuk Sholat Zuhur. Rasanya senang bisa berada di rumah Allah ini. Selesai sholat, kami berkeliling melihat keadaan sekitar dari Masjid yang kononnya terbesar se Asia Tenggara. Sempat juga melihat bangunan Gereja Katedral dari kejauhan yang ternyata letaknya hanya berseberangan dari Masjid Istiqlal ini.

Hari ketiga, kami melakukan banyak hal. Dimulai pada subuh hari dimana kami langsung meluncur ke Pasar Subuh yang kalau tidak salah letaknya dibelakang Pasar Tanah Abang. Disana, kami berburu berbagai macam pakaian dan pernak-perniknya. Harganya pun murah karena bisa ditawar separuh harga. Penjualnya umumnya didominasi oleh orang-orang Sunda.

Selain ke Pasar Subuh, pada hari itu, kami juga ke Kebun Binatang Ragunan. Wow, banyak sekali binatang disini. Ada gajah, bangau, harimau dan lainnya yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi saja. Nah, karena tempatnya yang luas, kami menyewa kereta untuk bersafari. Tapi aku merasa kurang puas. Masalahnya, dengan berkereta kita tidak dapat secara maksimal mengamati tingkah-polah binatang tersebut. Tapi mau bagaimana, kalau jalan kaki juga rasanya tidak sanggup.

Selepas dari Kebun Binatang Ragunan, perjalanan kami lanjutkan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Disana kami dapat melihat anjungan-anjungan rumah adat dari berbagai provinsi di Indonesia. Selain itu juga melihat taman penangkaran burung. Di taman penangkaran ini, aku dapat melihat berbagai macam jenis spesies burung. Warni-warni dari bulu burung tersebut semakin mempesona orang yang melihatnya.

Dari TMII, kami balik ke Pasar Tanah Abang. Selama dalam perjalanan menuju kesana, kami mengalami kemacetan yang luar biasa. Inilah kemacetan terlama yang pernah aku alami. Rasanya bete di dalam mobil. Mau keluar juga tidak bisa. Jadi, cuma bisa menunggu meski hati ini dongkol. Dan setelah sekian lama terjebak dalam kemacetan, akhirnya tiba juga. Di Pasar Tanah Abang ini, pastilah acara belanja menjadi agenda utamanya. Oh ya, aku ternyata baru tahu lho kalau pasar ini tutup pada jam 5 sore. Jadilah, teman-temanku berusaha secepat mungkin untuk mendapatkan belanjaan yang mereka inginkan.

Selepas berbelanja di Pasar Tanah Abang, acara selanjutnya adalah ke Pantai Ancol. Sepanjang perjalanan menuju kesana, kami sempat menyaksikan bangunan-bangunan kota tua.  Menyaksikannya serasa berada di Eropa. Arsitekturnya indah. Ada yang terawat, namun banyak juga yang terbengkalai. Meski begitu tetap berkesan buat kami walau hanya bisa melihatnya dari kaca jendela mobil saja.

Perjalanan hari ketiga kami tutup di Pantai Ancol.  Semilir angin laut membuat sejuk suasana. Pemandangan sekitarnya pun mengasyikkan. Banyak orang yang berenang atau hanya sekedar kongkow-kongkow saja. Nah, disini aku sempat memfoto diriku sendiri dengan menggunakan kamera HP Nokia 311o dengan latar belakang Pantai Ancol. Foto inilah yang akhirnya kujadikan gravatar untuk blog Coretan Hidup maupun Duniaku Disini.

Menjelang magrib, kami pulang. Dalam perjalanan pulang tersebut, aku sempat melihat orang-orang yang tinggal di dekat rel kereta api. Sungguh menyedihkan nasib mereka. Inikah potret buram Kota Jakarta. Ternyata, ditengah kegemerlapannya, terselip orang-orang yang hidup dengan penuh kesulitan. Melihat hal tersebut, aku cuma bisa terpaku.Nah, begitulah kisah perjalananku tentang Kota Jakarta. Dari perjalanan itu,  banyak hal yang baru aku ketahui setelah menyaksikannya langsung dengan mata kepala sendiri. Tentu ini menjadi pengalaman berharga yang tidak akan pernah aku lupakan.

NB : Ternyata baru menyadari bahwa 2 tahun silam aku begitu sangat kurus. Foto-foto diatas telah dengan nyata memperlihatkannya.

42 thoughts on “Suatu Hari Di Kota Jakarta

  1. Begitulah adanya jakarta mas, dibalik kehebatannya yang selalu di agung2kan, terdapat banyak hal yang begitu memprihatinkan..

  2. Hehe.. Begitulah kisah2 kita org daerah yg ke ibukota. Siip deh, dirimu udh pernah k jakarta. Lain kali, kalo k jakarta lagi, jangan lupa agendakan kopdaran bareng blogger lain ya, Fan..😀

  3. Sekarang udah gemuk berarti dong…❓:mrgreen:
    Saya pernah seharian di Jakarta: nyampe di stasiun gambir jam 5 subuh, sedang tiket pesawat balik ke padang sore harinya… Ya, terpaksalah jalan2 di Jakarta dulu sampai siang, untungnya ada teman🙂

  4. Saleum,
    Semoga pengalaman selama dijakarta semakin membuat kita bersyukur padaNya, ternyata masih banyak orang2 yang belum seberuntung saudara yang masih mempunyai keluarga dan tempat tinggal tetap. Salam kenal ya :0
    saleum dmilano

  5. Woah… JAKARTA..
    Satu kata yang banyak di impikan orang..
    Padahal, tak lebih dari tumpukan gelandangan, pengamen, kejahatan dan kemacetan!!
    hemm…😆

  6. Terakhir maen ke sana cuma sempat ke Monas. Saya penasaran banget dengan Sea World nya.🙂 . Asyik banget mas, bisa keliling sampai menjejak Mesjid Istiqlal.🙂

  7. orang jakarta sombong ga ya…? yang ngunjungin blog saya jarang orang jakarta, banyakan orang India sma Pilipina…xexexexe
    Ya Jakarta emang gitu mas, aku dah dari 2002 di jakarta dan menghadapi kerasnya hidup dan kerasnya orang-orang di jakarta. pribumi dan perantau sma saja…

  8. Ifaaaan, maaf ya baru berkunjung kesini lagi🙂

    Ceritanya lengkap banget!
    Kebayang gimana seremnya nyebrang jalan raya di jakarta, Sampe sekarang kayaknya saya nggak bakalan berani deh, kecuali terpaksa😉

    Pengalaman Ifan yang luar biasa ini, tentu akan menjadi kenangan manis seumur hidup…eh, eh, sekarang Ifan sudah segemuk apa?😀

  9. begitulah memang jakarta adanya…
    kayanya berkesan sekali yah jalan-jalan ke jakartanya.. dari segi cerita dan juga hasil jepretannya lengkap sekali hehehe

  10. Kita samaan deh Mas Ifan! *biasanya manggil Pak, baru tau ternyata orangnya belum kayak Bapak-bapak*
    Klo ke Jakarta saya sih setaun sekali, pas lebaran doang, Itupun karena jenguk mertua hihi.. *menantu kurang sayang mertua* 😛

  11. wow pas banget nih postingannya sama postingan terakhir saya hihi..
    kalo cuma jalan2 (baca: liburan) ke jakarta sih enak.. tapi untuk tinggal dan hidup disana? perlu pemikiran yang masak kayaknya🙂

  12. Waahh….hebat, malah sudah keliling sampai Puncak.
    Saya, yang sudah 32 tahun di Jakarta, belum separuh Jakarta saya kelilingi …hehehe…apalagi sekarang, makin males karena macet.

  13. hehe kalau orang luar jakarta akan aneh y kalau ke jakarta sama si saya juga dulu gitu tapi pas kerja di jakarta saya koq merasa sumpek dan lebih enak di kampung sendiri😀

  14. aku juga baru satu kali menginjak jakarta, mas. padahal aku ini kelahiran jawa. aku di sana cuma 1 hari saja, dan nggak sempat jalan-jalan.

    o ya, ada award di blogku, mas. tolong ambil, lumayan untuk menambah daftar di lemari awardnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s