Dampak Dari Sebuah Ucapan


Pernah tidak pada suatu waktu kalian tanpa sengaja mengucapkan sesuatu dan ternyata ucapan itu berubah menjadi hal yang benar-benar nyata dalam kehidupan? Syukur jika sesuatu yang terucap dari mulut kita tersebut adalah hal baik yang pada akhirnya berbuah pada hal baik juga. Tapi tidak menutup kemungkinan, tanpa disadari kita pun pernah pada satu waktu terjebak mengucapkan kata-kata buruk yang malah menyerang diri sendiri. Jujur, aku sering mengalami hal tersebut. Disadari atau tidak, kejadian semacam itu berdampak luas pada psikologiku. Aku menjadi berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu hal. Sebisa mungkin menghindari perkataan-perkataan yang menjurus pada ketakaburan.

Biasanya sesuatu hal buruk yang menimpa kita sering menjadikan kita bertanya pada diri sendiri tentang perihal apa yang telah kita lakukan sehingga harus mendapatkan ketidaknyamanan ini. Tetapi jika hal baik yang kita perolehi, maka lazimnya kita sering melupakannya. Begitupun dengan perkataan. Aku sering menghubungkan kejadian yang menimpaku dengan perkataan yang pernah kuucapkan. Entah itu perkataan yang positif atau negatif sekalipun. Bisa jadi ini mungkin hanya perasaanku saja. Yang pasti, suara hatiku turut membenarkan hal ini. Bukankah suara hati adalah sesuatu yang tidak akan pernah membohongi kita? Ia akan berkata jujur apa adanya meski diri kita sendiri bersikeras untuk menyangkalnya.

Ucapan-ucapan yang pernah keluar dari mulutku dan menjadi kenyataan itu antara lain sebagai berikut :

  • Suatu waktu aku pernah berkata kepada adikku bahwa genset yang dibeli bapakku beberapa bulan yang lalu tidak berguna lagi karena aliran listrik sekarang ini tidak pernah padam. Namun beberapa jam kemudian seluruh kota gelap gulita akibat pembangkit listrik rusak terserang petir saat hujan lebat. Alhasil, genset yang dibeli bapakku tersebut menjadi pahlawan dan mengambil alih peran penerangan.
  • Suatu waktu aku pernah menggerutu karena bete akibat semua pekerjaan kantor telah aku selesaikan dan hanya berdiam diri saja karena belum ada lagi pekerjaan lain. Tiba-tiba keesokan harinya, aku disodori sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga, dan itu benar-benar membuatku kalang kabut.
  • Suatu waktu temanku pernah berucap kepadaku, kalau seandainya ia memiliki komputer atau laptop, ia akan giat menulis. Aku yang mendengarnya cuma bisa tersenyum sinis dan bergumam dalam hati bahwa tidak ada keinginan untuk mengikuti jejaknya. Faktanya sekarang ini, setelah memiliki semua fasilitas itu, tekadnya untuk menulis memang ada dengan blog yang telah ia buat. Tapi sayang, hanya 1 atau 2 tulisan yang bisa ia torehkan. Selebihnya ia sangat aktif dalam jejaring sosial twitter. Ketika kutanya mengenai hal itu, ia hanya menjawab bahwa kesibukan kerjalah yang menjadi penghambatnya. Menurutku itu omong kosong sekali. Masa sih ia tidak bisa menyempatkan 1 hari saja dalam seminggu/sebulan untuk menulis 1 artikel. Padahal dari segi kemampuan menulis sudah tidak perlu diragukan lagi. Cerpennya pernah dimuat pada salah 1 harian lokal di kotaku. Menyedihkan dan sungguh disayangkan. Sementara aku yang sedari awal hanya tersenyum sinis mendengar keinginannya, malah menjadi orang yang menggebu-gebu belajar menulis di blog.
  • Suatu waktu aku pernah berucap kepada diri sendiri maupun kepada orang lain bahwa rasanya tidak mungkin aku bisa bekerja pada bidang yang kata orang identik dengan KKN. Kenyataannya, hampir 4 tahun ini aku telah berada pada bidang tersebut dengan membuktikan bahwa aku lulus menjadi pegawai tanpa harus melewati yang namanya unsur nepotisme atau uang sogokan. Aku telah berusaha dan Tuhan yang membantuku mewujudkannya. Ini juga membuktikan tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan meski manusia itu berada pada titik puncak kepesimisan.
  • Suatu waktu aku pernah mengucapkan kepada adik-adikku bahwa aku tidak punya uang. Padahal sebenarnya ada. Ini kulakukan karena kesal dengan kelakuan mereka yang sering meminta uang meski sebenarnya sudah sering diberi. Beberapa hari kemudian aku mendapati uangku menjadi berkurang dan hilang entah kemana.

Masih banyak hal-hal lain yang sering aku alami sebagai implikasi dari ucapan yang aku lontarkan. Percaya atau tidak, tetapi itulah yang terjadi pada diriku. Dari kejadian-kejadian itu aku bisa mengambil beberapa hikmah :

  • Jangan takabur jika mengucapkan sesuatu.
  • Jangan pesimis terhadap sesuatu hal yang tidak mungkin dicapai. Tuhan punya kuasa yang mampu mengubah sesuatu yang tampaknya mustahil bagi manusia.
  • Jangan suka melakukan kebohongan karena bisa berakibat fatal bagi diri sendiri.

26 thoughts on “Dampak Dari Sebuah Ucapan

  1. Wow.. setujuh banget mas ifan. Kata pepatah, mulutmu harimau mu… *gak nyambung memang. Tapi begitupun kita memang harus berhati-hati kalo ngomong. Aku juga sering mengalaminya. Kalau kita berbohong tentang diri kita sebenarnya, maka kebohongan itu yang menjadi kenyataan. Dan apes dah kalo bohongnya soal uang!
    hihihi…😀

  2. betul bgt sob apa yg km ucapkan dan berdasarkan pengalamanmu itu.
    memang terkadang ucapan itu adalah doa.
    jd jagalah ucapan, dan jagalah lidah, karna lidah itu bs lbh tajam dari apapun.

  3. benar sekali, mas. seperti yang pernah kita dengar bahwa ucapan itu adalah doa (lagunya Wali, hehe…). percaya atau tidak, keluargaku merantau jauh dari kampung halaman juga karena doa/umpatan yang sering nenek lontarkan pada emakku, dahulu waktu emakku masih muda. kalau marah nenek sering berteriak sama emak: “kuhanyutkan kau ke sumatera!”. ternyata hal itu terjadi. emak menghabiskan separuh hidupnya di hutan karet sumatera, dan aku pun mengikuti jejaknya, hehe…

  4. Sukaaaaaa banget dengan posting ini!

    Banyak hal yang saya alami dan lihat yang berkaitan dengan kesombongan atau ketakaburan. Padahal di dunia ini sesungguhnya tidak ada yang bisa diprediksi, tidak ada juga yang abadi…

    Thanks sudah diingatkan kembali, akan saya ingat baik-baik deh, Ifan🙂

  5. Saleum
    bertambah lagi ilmu saya setelah baca postinganmu mas, trims, memang sebaiknya jangan takabur dalam hidup ini, banyak mudharatnya ketimbang manfaat, lebih baik tetapkan niat sekalian berdoa semoga dijauhkan dari sifat takabur.
    saleum dmilano

  6. pernah dulu aku kayak gitu mas….
    secara gak sengaja sich….

    singkatnya begini, waktu itu aku lagi motoran, kemudian dari dua arah kanan dan kiriku ada motor yang sedang balapan, karena kaget secara spontan aku bilang “Awas jatuh…..” eh pas seketika itu juga itu kedua motor saling tabrak n jatuh dah…

    aku langsung bilang “astaufirullah”. langsung dah deg degan….😀

  7. Pengalaman sbg seorg ibu,,bukan hanya kata yg terucap bahkan suara hatipun kadang2 bisa menjd do’a..

    Juga ghibah,membecirakan keburukan2 org lain pun kadang bs menimpa diri sendiri..
    Mudahan Allah sll menjaga pembicaraanku,baik itu yg tersirat atau yg tersurat.

  8. Assalaamu’alaikum wr.wb, Ifan Jayadi….

    Bicaralah dengan baik, insya Allah hasilnya juga baik. Begitulah sebaliknya. Mudahan apa yang berlaku kepada Ifan itu menjadi pengajaran buat kita semua.

    Iya, saya juga pernah mengalaminya, bukan kerana takbur tetapi sekadar menegur. dengan segera hal itu berlaku di depan mata. Lalu suami saya mengingatkan saya, kalau saya melihat sesuatu yang pelik-pelik, maka diamkan diri jangan menegur perkara itu. Hmmm… aneh ya. wallahu’alaam.

    Salam mesra dan sukses dalam kuliahnya, Ifan.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s