Cerita Dari Kabupaten Kutai Barat


sumber peta dari sini

Dari seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur yang pernah aku jelajahi, maka Kabupaten Kutai Barat lah yang merupakan perjalanan terberat yang pernah aku tempuh. Bagaimana tidak, medan yang harus dilalui begitu banyak kerusakan. Jalan berlubang disana-sini. Ditambah lagi tikungan-tikungan tajam yang membuat diri menjadi ciut dan terus berdoa sepanjang perjalanan agar tiba selamat sampai tujuan.

Cerita dari Kabupaten Kutai Barat ini bermula karena adanya tuntutan tugas dari instansi tempat aku bekerja. Aku bersama ketiga temanku ditugaskan untuk mensosialisasikan penggunaan simpeg berbasis web di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat pada tanggal 19 dan 20 Juli 2011. Karena harus mensosialisasikan hal tersebut di dua tempat, maka untuk itulah kami berangkat pagi-pagi sekali. Jam 6 lewat kami telah meluncur meninggalkan Kota Samarinda menuju ke tujuan pertama, yaitu Kabupaten Kutai kartanegara. Tidak terlalu lama kami disini karena pegawai yang diajarkan penggunaan simpeg berbasis web tersebut cepat memahami dengan apa yang dijelaskan. 

View Sungai Mahakam beserta jembatan dilihat dari Kab. Kutai Kartanegara

Taman di tepian Sungai Mahakam Tenggarong

Sungai Mahakam Tenggarong

Selesai dari Kabupaten Kutai Kartanegara, kira-kira jam 10 pagi lewat, kami beranjak meninggalkan kabupaten tersebut menuju ke tujuan berikutnya yaitu Kabupaten Kutai Barat. Dan dari sinilah perjalanan berat itu dimulai. Aku tidak menyangka kalau perjalanan kali ini benar-benar begitu menguras tenaga. Memang sebelumnya aku telah mendapatkan informasi bahwa untuk menuju kesana akan dijumpai beberapa hambatan berupa jalan yang rusak. Namun aku tidak pernah menduga bahwa kerusakannya sangat parah sekali. Alhasil, sepanjang  perjalanan aku mabuk berat. Aku ingin muntah namun aku tahan dengan sekuat tenaga. Untuk menahan rasa mabuk dan kepala yang begitu pusing, aku menghirup aroma dari minyak kayu putih dan tidak lupa mengoleskannya kebeberapa bagian tubuhku. Sesekali kami singgah di warung makan untuk beristirahat sebentar. Rasanya lega keluar dari mobil dan menghirup udara segar. Namun ketika kembali hendak melanjutkan perjalanan, seperti ada perasaan trauma karena harus kembali masuk mobil dan membayangkan guncangan hebat yang kembali lagi harus dilalui. Alhasil, untuk membuang jauh perasaan trauma tersebut, aku sumpal telingaku dengan headset sambil mendengarkan lagu-lagu mp3 yang ada dihandphone. Lumayan mujarab karena perjalanan menjadi tidak membosankan.

Jalan rusak dengan kubangan yang berlumpur

Hamparan kebun kelapa sawit

Aku berpikir bahwa kerusakan jalan ini disebabkan oleh beberapa hal. Antara lain adalah banyaknya truk berukuran besar yang bolak-balik mengangkut hasil batubara dan kelapa sawit. Sepertinya ironi karena kalau dipikirkan, hasil alam yang melimpah di daerah ini jika telah dieksport ke luar negeri akan menghasilkan uang trilyunan rupiah. Dari trilyunan rupiah tersebut seharusnya mampu memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar. Paling tidak adanya kepedulian untuk memperbaiki akses jalan yang rusak. Namun pada kenyataannya tidaklah seindah harapan. Masyarakat menjadi korban yang harus menanggung derita. Memang ada semacam community development. Tapi sepertinya tidak sebanding dengan apa yang telah mereka ambil. Belum lagi kerusakan hutan akibat pembukaan lahan berhektar-hektar untuk penanaman kelapa sawit dan juga penambangan batu bara yang kadang mengabaikan amdal. Aku tidak tahu pasti kesalahan ini sebenarnya harus dilemparkan kepada siapa? Kepada pemerintahkah atau kepada perusahaan yang mengeksploitasi alam tersebut? Atau dua-duanya?

Sebelum sampai ke Kubar singgah di sebuah warung makan yang bernama bambu

Balik ke Samarinda singgah lagi di warung makan di daerah Muara Pahu

Bersama Teman di sebuah warung makan di Muara Pahu

Itulah yang dapat aku tangkap dari hasil pengamatan sepanjang perjalanan menuju ke Kabupaten Kutai Barat. Kabupaten Kutai Barat sendiri merupakan kabupaten baru hasil pemekaran dari kabupaten induk, yaitu Kutai Kartanegara yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999 tertanggal 4 Oktober 1999. Ibukota dari kabupaten ini terletak di Sendawar. Kota Sendawar memiliki 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Barong Tongkok, Kecamatan Melak dan Kecamatan Sekolaq Darat. Jika ditempuh dari Kota Samarinda, diperkirakan untuk sampai Ke Kabupaten Kutai Barat ini memakan waktu sekitar 7 sd. 8 jam. Namun karena kondisi jalannya yang sekarang ini rusak parah maka bisa jadi perlu waktu 10 jam untuk tembus kesana. Kalau hujan lebat, maka akan lebih sulit dan lama lagi karena akan banyak jalan yang amblas.

Macan dahan merupakan maskot dari Kabupaten Kutai Barat

Akhirnya, pada pukul 5 sore lewat beberapa menit, tibalah rombongan kami di Kabupaten yang memiliki semboyan Kota Beradat. Memasuki kabupaten ini, aku agak tercengang karena ruas-ruas jalannya begitu mulus dan lebar. Benar-benar bertolak belakang dengan apa yang kami alami sepanjang perjalanan menuju kesini. Terutama di Kecamatan Barong Tongkok yang  menjadi pusat pemerintahannya. Mungkin karena masih baru dalam hal pemekaran, maka Kabupaten Kutai Barat ini lagi giat-giatnya membangun infrastruktur.

Jalan di Kecamatan Barong Tongkok mulus seperti jalan tol

Dari Kecamatan Barong Tongkok, kami lalu menuju Kecamatan Melak. Dibandingkan Kecamatan Barong Tongkok, Kecamatan Melak ini lebih ramai. Disini perumahan penduduk terlihat padat karena mungkin dilintasi oleh Sungai Mahakam. Bukan menjadi rahasia lagi kalau penduduk di Pulau Kalimantan umumnya memiliki kebiasaan unik, yaitu  masyarakatnya yang tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya sungai. Maka tidak mengherankan jika ada sungai maka denyut nadi perekonomian menjadi berkembang. Hal ini mungkin bisa dijadikan alasan kenapa Kecamatan Melak lebih ramai dibandingkan Kecamatan Barong Tongkok. Tapi sepertinya sekarang ini pemerintah daerah setempat telah berusaha menjadikan Kecamatan Barong Tongkok sebagai pusat kota baru. Alhasil, pembangunan beberapa infrastuktur lebih diarahkan kesana. Dan harus kuakui, pusat pemerintahannya tersebut benar-benar tertata bagus. Halamannya luas dengan ditumbuhi pohon-pohon rindang. Suasananya asri dengan kebersihan yang selalu terjaga.

View Sungai Mahakam dari Kabupaten Kutai Barat

Salah satu ruas jalan di Kecamatan Melak

Hotel Mahakam Asri tempat kami menginap

Sarapan pagi dengan nasi kuning di sekitar tepian Sungai Mahakam

Membungkus nasi kuning dengan cara yang unik

Di Kabupaten Kutai Barat ini kami lalu menginap di Hotel Mahakam Asri yang terletak di jalan Pattimura Kecamatan Melak. Tidak banyak yang dapat kami lakukan disini. Kegiatan kami hanya sebatas memberikan sosialisasi tentang penggunaan aplikasi simpeg berbasis web. Disela waktu yang sempit tersebut kami sempatkan untuk melihat suasana keramaian masyarakat di Kecamatan Melak. Tidak lupa kami juga mencoba sarapan pagi berupa nasi kuning di sekitar tepian Sungai Mahakam. Nasinya sebenarnya standar saja untuk ukuran rasa, tapi suasana tepian Sungai Mahakamlah yang membuatnya agak berbeda. Apalagi waktu itu hujan turun sehingga semakin menambah kesyahduan suasana. Dari semua itu aku dapat menyimpulkan bahwa suasana Kabupaten Kutai Barat tidak jauh berbeda dengan kabupaten atau kota lain di Provinsi Kalimantan Timur yang baru dimekarkan. 

Di kantor tempat sosialisasi berlangsung

Setelah kegiatan sosialisasi berakhir, maka kami segera beranjak meninggalkan Kabupaten Kutai Barat kembali ke Kota Samarinda. Lega rasanya bisa menyelesaikan kegiatan ini meski dengan perjuangan panjang melewati medan yang berat. Untunglah hujan mulai turun disaat perjalanan telah melewati kerusakan jalan yang parah sehingga kekhawatiran kami sedikit dapat teratasi. Dan yang paling penting kami semua bisa pulang ke rumah dengan selamat pada malam hari sekitar pukul 20.00 wita. Tentu perjalanan ini memberikan pengalaman berharga bagi diriku untuk selalu mensyukuri apa yang telah aku dapatkan selama ini dan bisa menjadi lebih peka dan perduli terhadap segala persoalan yang terjadi disekelilingku.

26 thoughts on “Cerita Dari Kabupaten Kutai Barat

    1. ada pepatah orng kubar mengatakan “jika sudah terminum air sungai mahakam di melak pasti akan kembali lagi le melak….hahaha

  1. Syukur alhamdulillah sekarang sudah lebih maju, luar biasa melak, tidak seperti jaman saya dulu masih disana tahun 1983-1990.
    Aku pernah tugas

  2. Syukur alhamdulillah sekarang sudah lebih maju, luar biasa melak, tidak seperti jaman saya dulu masih disana tahun 1983-1990.
    Aku pernah tugas di SMP Negeri Melak, sampai sekarang masih ada temen-teman disana seperti Pak Suyono, Pak Mustain, Pak Wana dsbnya. Sekarang saya ada di malang jatim.

    1. Kenal sama guru guru smpn2 melak yaa, itu smua guru guru aku, trus pak suyono itu wali kelas aku,🙂

  3. wow,nice banget kota melak,,sdh 2 x aq rncana mau ke melak,ga jadi juga..😦 aq pengen ketemu oktovianto beserta keluargax .

  4. Sekarang udh maju &jalan udah mulus jadi jgn takut ke.melak..ada pnerbangan tiap hari 2x sebagi putra kutai barat saya bangga…puja kekal (Putra Jawa Kelahiran Kalimantan) Kutai Barat Is the best

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s