Berlibur Ke Kebun Raya Unmul


Untuk mengisi liburan panjang saat lebaran kemarin, aku dan keluargaku mengunjungi tempat rekreasi Kebun Raya Unmul Samarinda. Tepatnya pada hari Sabtu, 3 September 2011, sekitar jam 10.00 pagi waktu indonesia bagian tengah, meluncurlah kami menuju tempat rekreasi tersebut. Kebun Raya Unmul Samarinda atau yang lebih dikenal dengan nama KRUS terletak di jalan Poros Samarinda-Bontang dan bisa ditempuh selama + 15 menit dari pusat kota. Kebun Raya ini merupakan Hutan Pendidikan dan Penelitian sekaligus tempat wisata alam bagi masyarakat Kalimantan Timur.

Kalau boleh jujur, ini adalah kunjungan pertamaku ke KRUS. Tentu ini menjadi sesuatu yang menyenangkan bagiku. Tapi sebenarnya hal tersebut terdengar menyedihkan karena sebagai seorang yang tinggal di pusat kota seyogyanya memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi yang terdepan mengetahuinya. Namun pada kenyataannya, baru kali ini aku memiliki peluang untuk menjelajah tempat yang memiliki luas lahan sekitar 62 hektar. Tetapi aku tidak berkecil hati. Biarlah terlambat mengetahuinya daripada tidak sama sekali. Paling tidak jika ada seseorang yang bertanya tentang tempat wisata ini, aku bisa menjelaskannya walau hanya secara garis besar saja dengan berbekal pengalaman kunjungan yang pertama tersebut.

Sebelum berangkat ke KRUS, pagi-pagi sekali ibuku pergi ke pasar membeli lauk-pauk untuk diolah di rumah menjadi bekal yang akan kami santap selama berpiknik disana. Sengaja bekal tersebut disiapkan dari rumah karena menurut info yang dituturkan oleh kakak perempuanku yang pernah kesana bahwa harga makanan dan minuman yang dijual di tempat tersebut sangat mahal. Ini bisa dimaklumi karena memang tempatnya yang jauh dari pusat kota sehingga tidak ada pilihan bagi pengunjung selain harus membeli dari pedagang sekitar meski harus merogoh kantong cukup dalam. Oleh karena itu, untuk menyiasatinya akan lebih baik jika membawa bekal sendiri dari rumah. Selain hemat juga lebih merasa terjamin dari segi kebersihannya. Oh ya, Untuk masuk ke KRUS ini dikenakan bayaran Rp. 5000,-  per orang plus biaya parkir kendaraan. Dengan biaya sebesar itu, kita sudah dibebaskan untuk melihat segala hal yang ada di KRUS tersebut.

Tadinya aku memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap KRUS ini. Aku sudah membayangkan bahwa KRUS ini akan sama rupa dan bentuknya seperti  Kebun Raya Bogor atau Kebun Binatang Ragunan yang pernah aku kunjungi beberapa tahun silam. Namun ternyata tidak demikian. KRUS ini meskipun telah dirintis sejak lama tetapi masih sangat minim dalam hal infrastruktur dan pengelolaannya. Tentu ini sangat disayangkan, tetapi setelah kupikir-pikir ulang rasanya sangat tidak fair membandingkan KRUS ini dengan Kebun Raya Bogor atau Kebun Binatang Ragunan yang telah puluhan tahun eksis dan mendapat sokongan dari berbagai pihak.

Akhirnya meski sedikit agak kecewa, aku putuskan untuk tetap menikmatinya. Aku beserta rombongan lalu berkeliling-keliling menyusuri setiap jengkal dari KRUS ini. Hal pertama yang kami lakukan adalah menjajal beberapa fasilitas permainan yang ada. Aku pribadi mencoba arena kincir angin. Dengan membayar tiket Rp. 3000,- aku bisa menikmati arena kincir angin ini selama 4 putaran. Sebenarnya aku takut mencoba permainan ini karena ia hanya digerakkan dengan mesin genset yang kekuatannya untuk memutar ala kadarnya saja. Selain kincir angin, masih ada beberapa permainan lain yang ditawarkan seperti sepeda air yang bisa dimainkan pada sebuah danau buatan, arena balap gokart, arena memancing ikan di kolam, arena lungsuran, arena kereta api mini dan juga mandi bola. Disamping itu, ada juga jasa pemotretan dimana anak-anak bisa berfoto dengan tokoh kartun yang sering nongol di televisi seperti Upin-Ipin, Dora dan lain-lain.

Dari arena permainan, kami lalu menuju kebun binatang mini. Disebut kebun binatang mini karena memang binatangnya masih dalam jumlah terbatas dan dipelihara di dalam kurungan yang berukuran tidak terlalu besar, ada orang utan dan beruang madu yang merupakan binatang khas pulau Kalimantan, kemudian ada rusa sambar, buaya muara, ular sanca, kuda poni, monyet dan berbagai jenis burung.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah puas melihat berbagai jenis binatang, kami lalu kembali ke tempat awal. Selanjutnya tikar digelar dan bekal yang dibawa dari rumah dikeluarkan untuk dihidangkan. Tampaknya sangat menyelerakan. Apalagi waktu telah menunjukkan pukul 12.30 wita yang berarti perut berontak untuk diisi dengan makan siang. Maka segeralah kami menyantapnya. Dan sungguh makan siang kali ini sangat berkesan karena bisa berkumpul dengan anggota keluarga sehingga kebersamaan semakin akrab. Selain itu, suasana hijau pepohonan dikanan-kiri dan juga hembusan angin yang sejuk menjadikan makan siang kali sungguh nikmat.

Usai makan siang, penjelajahan kembali berlanjut. Kali ini kami menuju ke sebuah bangunan yang apabila dilihat dari kejauhan masih menjadi tanda tanya. Kami berpikir wahana apakah yang ada pada bangunan itu? Setelah didekati ternyata pada bangunan tersebut terdapat akuarium yang disusun berjejer. Tapi sayang, hanya ada beberapa akuarium yang masih menampung ikan. Selebihnya kosong melompong. Belum lagi air akuarium yang begitu kotor sehingga menyulitkan pandangan mata untuk melihat penampakan ikan. Sepertinya air dalam akuarium jarang dikuras dan dibersihkan. Tentu ini amat memprihatinkan. Susah payah membuat akuarium-akuarium tersebut tetapi tidak dirawat sehingga terkesan terlantarkan. Pengunjung pun pastilah kecewa dengan keadaan disini.

Tidak jauh dari akuarium ikan, terdapat bangunan lain yang bentuk arsitekturnya sangat unik. Bangunan tersebut adalah Museum Kayu. Untuk masuk kesana dikenakan tiket Rp. 1000,- per orang. Di Museum Kayu ini terdapat berbagai jenis koleksi kayu khas Pulau Kalimantan. Kita sebagai orang awam dapat belajar banyak dan memperoleh pemahaman-pemahaman tentang kayu, hutan dan lingkungan hidup pada umumnya. Misalkan saja tentang Kayu Ulin yang dalam bahasa Latinnya disebut Eusideroxylon zwageri. Adalah kayu khas Kalimantan yang dikenal memiliki kekuatan prima sehingga banyak digunakan untuk bahan bangunan. Namun potensinya kini sudah mulai berkurang karena terus ditebang secara intensif, tanpa kendali sejak puluhan tahun silam, sementara upaya penanaman dan teknologi rekayasa mempercepat pertumbuhannya belum berhasil memuaskan. Dari gambaran ini, kemungkinan besar Kayu Ulin dalam tempo tak terlalu lama lagi akan menjadi langka, atau bahkan lama-kelamaan akan lenyap di Bumi Kalimantan. Oleh karena itu, kehadiran Museum Kayu ini diharapkan menguatkan tekad dan penambah semangat kita bersama untuk menyelamatkan hutan dan menjaga lingkungan hidup agar dapat berkelanjutan dari generasi ke generasi.

Keseluruhan dari Museum Kayu ini sebenarnya bagus. Tetapi pastilah ada saja kekurangannya. Misalnya saja koleksi kayunya yang menurutku masih harus terus ditambah. Selain itu kebersihan ruangan pun mesti ditingkatkan agar debu-debu yang selama ini menempel pada koleksi yang ada maupun dinding-dinding langit dapat segera dihilangkan. Namun begitu, kekurangan yang ada tidak menyurutkan langkah kami untuk merekam berbagai momen dengan berfoto ria pada spot-spot yang bagus di Museum Kayu tersebut. :) 

Sebenarnya masih ada satu tempat lagi yang bisa dikunjungi yaitu wahana Praja Muda Karana. Di wahana ini ditujukan bagi mereka yang menyukai kehidupan bebas dengan cara berkemping di alam terbuka. Biasanya pengunjung dari wahana ini di dominasi oleh kalangan pelajar yang aktif pada ekstrakulikuler pramuka. Tetapi tidak menutup kemungkinan masyarakat umum pun bisa menggunakan fasilitas dari wahana ini.

Tanpa terasa hampir 4 jam kami menghabiskan waktu di KRUS. Begitu banyak kegembiraan yang didapatkan pada hari itu. Dan pada akhirnya kami harus meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke rumah sekitar pukul 14.30 wita. Harapanku kedepan terhadap KRUS ini adalah agar tempat ini bisa dikembangkan dengan lebih baik. Pembenahan fasilitas dan infrastruktur mutlak dilakukan. Dan tidak kalah penting adalah peran serta pemerintah provinsi dan kota dalam menyediakan dana serta promosi yang gencar kepada khalayak ramai.

28 thoughts on “Berlibur Ke Kebun Raya Unmul

  1. Hahai,, seru mas! Kebun raya memang bisa menjadi tempat rekreasi yg paling menyenangkan, cocok untuk meyegarkan tubuh kembali setelah berbulan-bulan menghirup udara polusi kota..😀

    Btw, liburan ini saya belum ada jalan2, sedih juga kayaknya..😆

  2. Tetap bisa dinikmati kan? Saya pernah ke kampus Unmul…sayang kurang terawat ya….padahal luas dan bagus. Dan omku alm pernah jadi rektor Unmul (alumni IPB Kehutanan).

  3. lebih menyenangkan mengisi liburan di tempat yang tidak jauh dari tempat tinggal, di samping tdk memakan biaya mahal adakalanya bsa menjadi tamu di rumah sendiri hehe…

  4. Betul Ifan, sarana dan prasarana di banyak tempat wisata kita memang cukup memprihatinkan…
    Tapi KRUS ini saya lihat lumayan memanjakan pengunjung. Ada berbagai permainan, museum dan…tempat makan, biarpun mahal…😀

    Trima kasih sudah berbagi cerita, kapan-kapan nulis lagi ya tentang tempat-tempat menarik di Samarinda. Ditungguuuuuu!

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, Ifan Jayadi….

    Kunjungan KRUS yang nyaman dan santai bagi menghilang lelah yang panjang setelah lama bergelut dengan kesibukan tugas di kota. Tambah lagi bersama ahli keluarga yang bisa menjadi kenangan tak terlupakan karena bukan senang untuk dapat berkumpul beramai-ramai kecuali adanya cuti yang bersamaan.

    Membaca tulisan Ifan tentang prasarana yang ada di KRUS sungguh menyedihkan jika kurangnya perhatian dalam mengusahakan kebersihan, keindahan dan mengekalkan nilai estetikanya. Tentu sekali jika pengurusan yang kurang berkesan akan memberi impak yang besar dalam ingatan para pengunjung dalam mempromosi KRUS pada masa akan datang.

    Pihak berwajib tempatan harus bertanggungjawab melestarikan pusat wisata ini sebagai daya sumber ekonomi yang bisa menyerlahkan Samarinda mempunyai tempat menarik yang mesti dikunjungi. Saya meneliti sangat banyak aktivitas yang disediakan dan ini tentu memberi kegembiraan kepada pengunjung untuk mencobanya sendiri. Tentu tidak bosan kalau 4 jam menyelusuri kawasan yang seluas ini.

    Mudahan Ifan semakin ceria dan segar setelah melakukan aktiviti yang berilmu dan tentu sekali pengalaman yang ditulis menjadi panduan bagi yang berminat untuk di sana.

    Salam mesra dari Kuala Lumpur.😀

  6. Indonesia memiliki banyak tempat yg indah dan potensi keindahan alamnya begitu besar bila dikembangkan dan dikelola dg baik, namun kebanyakan hanya dikelola secara seadanya saja. Jadi potensi yg besar hasilnya nampak biasa-biasa saja seperti di daerah ana sob….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s