Pesona Keindahan Pulau Bali


Semua orang pasti mengenal Pulau Bali sebagai tempat tujuan wisata yang banyak dikunjungi oleh turis asing. Dan itu ternyata tidak bisa dipungkiri karena dengan mata kepala sendiri, aku menyaksikannya. Ya, selama 3 hari, tepatnya tanggal 28 sd. 30 November 2011, aku beserta teman-temanku melawat ke daerah  yang orang-orang lebih mengenalnya atau menggelarinya sebagai Pulau Dewata. Pulau Dewata adalah pulau yang memiliki keindahan alam yang begitu eksotis serta adat budayanya sangat kental dengan tradisi hindu.

Hari Pertama

Perjalanan menuju Pulau Bali begitu melelahkan. Dimulai pada pagi buta, yaitu sekitar pukul 03.00 wita, dimana aku dan rombongan berangkat dari Kota Samarinda menuju Bandara Sepinggan Balikpapan demi mendapatkan penerbangan pagi menggunakan maskapai penerbangan Lion Air. Pesawat akhirnya terbang sekitar pukul o6.50 wita dan harus transit terlebih dahulu di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Selanjutnya berganti pesawat menggunakan Wings Air menuju ke Bandara Ngurah Rai Denpasar. Dari bandara, kami lalu menuju ke Sanur Paradise Plaza Hotel yang memakan waktu sekitar 30 menit untuk mencapainya karena hotel tersebut terletak di daerah Sanur, tepatnya di jalan Hang Tuah.

Setelah mendapatkan kamar, tanpa membuang waktu lagi aku beserta rombongan mulai mengitari Pulau Bali. Persinggahan pertama adalah dengan mengunjungi pusat oleh-oleh Hawai. Wow, disana aku beserta rombongan mulai memburu barang-barang. Setelah kuamati, kebanyakan dari kami membeli kain-kain pantai khas bali. Jika dikenakan terasa dingin. Cocok sekali untuk daerah di Indonesia yang beriklim tropis. Harganya bervariasi dari Rp. 18.000,- sampai Rp. 50.000,-. Yang pasti, semakin mahal harga, maka kualitasnya juga semakin bagus. Selain itu, aku juga sempat membeli coklat pedas. Ternyata setelah dicicipi setiba di rumah, saudara-saudaraku pada suka. Perpaduan rasa coklat dan cabai memberi sensasi tersendiri.

Karena terburu waktu yang telah menunjukkan pukul 16.00 wita, maka aktivitas berbelanja di Hawai tersebut kami hentikan. Selanjutnya, sopir yang juga bertindak sebagai pemandu mengantarkan kami ke daerah Kuta. Tempat ini seperti luar negeri saja. Banyak sekali bule-bule dengan berbagai macam kebangsaan berseliweran. Dan ketika kaki ini menginjak pantai Kuta, aku mulai terperangah. Astaga, disini aku mendapatkan sajian yang selama ini rasanya hanya kulihat di film-film. Para bule dengan santainya berjemur menggunakan pakaian yang minim banget, baik itu lelaki maupun perempuannya. Dan tak lupa ditangan mereka selalu terpegang sebotol bir merk Heineken. Benar-benar pemandangan yang mungkin sebagian orang menyukainya, tetapi mungin sebagian orang lagi tidak menyukainya. Bisa dipastikan, kebanyakan dari kaum adam menyukai hal ini. Terutama karena  bisa curi-curi pandang dengan melihat bule-bule perempuan yang pakaiannya mini banget gitu lho🙂. Tapi tidak semua ya cowok-cowok seperti itu. Ada juga yang kuat imannya dan lebih memfokuskan tentang keindahan Pantai Kuta dengan mengagumi ombak-ombaknya yang super besar dan juga pasir putihnya yang nyaman untuk diinjak kaki karena bersih.

Selanjutnya, sopir membawa kami ke Monumen Bom Bali di Legian. Disana kami cuma bisa melihat dari mobil saja berhubung macet yang luar biasa dan juga tidak mendapatkan tempat parkir. Sayang sekali memang. Padahal tempat ini sangat bagus untuk dijadikan obyek berfoto-foto. Lalu, setelah melihat sekilas monumen tersebut, kami berinisiatif untuk kembali ke hotel. Sopir mencoba mencari jalan alternatif untuk menghindari kemacetan dengan menelusuri jalan-jalan sempit yang mirip gang. Dan di kanan-kiri jalan yang sempit tersebut, lagi-lagi pemandangan para bule begitu mendominasi. Mereka banyak yang bergerombolan sambil duduk-duduk di pub atau cafe. Serasa Pulau Bali ini milik mereka saja.

Hari Kedua

Pagi sekali, aku dan beberapa temanku menuju Pantai Sanur yang letaknya hanya beberapa meter dari hotel. Kata orang-orang, sangat bagus menyaksikan matahari terbit dari pantai ini. Jadilah kami kesana dengan harapan dapat menyaksikan hal tersebut. Meski hanya sebentar menyaksikannya, tetapi hal itu sudah merupakan suatu kepuasan bagi kami. Jika dibandingkan dengan Pantai Kuta, maka Pantai Sanur ini masih kalah. Terutama menyangkut masalah kebersihan. Sampah berserakan dimana-mana. Belum lagi kotoran anjing yang membuat kaki ini harus ekstra hati-hati menghindarinya. Disamping itu, keberadaan bule pun tidak terlalu banyak. Lebih tepatnya pantai ini didominasi oleh masyarakat lokal dan juga wisatawan domestik. Tapi yang namanya keelokan alamnya, tidak perlu diragukan lagi. Tinggal pengelolaannya saja yang perlu dibenahi. Oh ya, selain pagi hari, pada sore harinya pun kami kembali lagi kesini sambil duduk-duduk santai menikmati deburan ombak dan merasakan sepoinya angin.

Dari Pantai Sanur, kami lalu diajak berkeliling-keliling melihat Kota Bali oleh teman kami yang aslinya memang orang Hindu Bali namun sekarang tinggal di Samarinda. Beliau adalah Bapak Anak Agung Gede Raka Ardita, Pembimas Hindu pada instansi tempat kami bekerja. Beliau menjelaskan banyak hal tentang Bali. Misalnya saja, mengapa di Bali ini bangunannya tidak ada yang tinggi. Menurut beliau, dalam filosofi Hindu, apabila tinggi bangunan melebihi tinggi pohon kelapa, maka dianggap telah melampaui kekuasaan para dewa. Selanjutnya beliau juga menceritakan tentang gunung berapi yang pernah meletus di Bali sehingga banyak warga yang mengungsi ke daerah lampung. Itulah sebabnya mengapa pasir di Bali bewarna hitam. Semua itu akibat letusan gunung yang membawa lahar yang kemudian bercampur dengan pasir. Serta banyak hal lainya yang beliau jelaskan yang membuat kami sedikit mengerti tentang sejarah Bali.

Di Goa Lawah Kabupaten Klungkung

Upacara keagaamaan sedang berlangsung

Diharuskan memakai sarung bali dan pita berwarna kuning

Berfoto bersama teman di Goa Lawah

Selanjutnya, beliau membawa kami ke obyek wisata Goa Lawah yang terletak di Desa Pesinggahan di Kabupaten Klungkung. Di goa ini, terdapat banyak kelelawar yang bergelantungan di bibir mulut goa. Jumlahnya mungkin ribuan karena saking banyaknya. Nah, kebetulan sekali pada waktu memasuki areal tersebut sedang berlangsung upacara keagamaan. Jadilah kami diharuskan memakai kain sarung bali dengan diikat oleh pita kuning. Beliau menjelaskan, jika sudah menggunakan kain tersebut maka kita dapat menyaksikan kelelawar dan obyek disekitarnya tanpa merasa terbebani kalau-kalau kedatangan kami ini mengganggu khidmatnya upacara keagamaan yang berlangsung. Puas menikmati eksotisnya Goa Lawah, kami lalu diajak oleh beliau singgah di sebuah rumah makan yang bernama Warung Lesehan Sari Baruna di Jalan Pesinggahan Lowah. Menu yang disajikan di rumah makan tersebut adalah sate ikan tuna. Rasanya nyaman tapi sedikit agak pedas.

Setelah ditraktir makan, kami lalu diajak ke rumah beliau yang letaknya kalau tidak salah masih di Kabupaten Klungkung. Rumah beliau ini ternyata luas namun hanya ditempati  oleh 2 orang saudara beliau saja. Kata beliau, saudara-saudaranya yang lain sudah tinggal di luar Pulau Bali. Oh ya, yang menarik dari rumah beliau tersebut adalah arsitekturnya. Tentunya sangat khas Bali dengan ukiran-ukirannya yang indah. Pokoknya, disini kami serasa menjadi bagian langsung dari budaya bali itu sendiri. Namun, kami tidak terlalu lama disini. Beliau lalu mengajak kami berkeliling ke Kabupaten Gianyar. Di Kabupaten ini, kami sempat melihat patung goa gajah. Ukurannya besar sekali.

Rumah kediaman Bapak Anak Agung Gede Raka Ardita

Akhirnya, setelah menjelajah 2 kabupaten tersebut, kami putuskan untuk kembali ke hotel. Dalam perjalanan pulang tersebut, beliau memilih jalan alternatif dengan tujuan agar kami semua bisa melihat Bali dalam berbagai sisi, mulai dari pusat pemerintahannya, sekolah, pasar, tempat hiburan, tempat ibadah pura dan lain sebagainya. Hmmm…puas sekali rasanya bisa menyaksikan semua itu.

Hari Ketiga

Hari ketiga ini tidak banyak kegiatan yang dapat kami lakukan. Semua ini terbentur dengan waktu dimana kami harus meninggalkan Bali pada pukul 13.30 wita. Setelah berembuk, kami putuskan untuk kembali mencari oleh-oleh. Tempat oleh-oleh yang kami tuju kali ini adalah Krisna. Dengan menggunakan angkot dan membayar ongkos sebesar Rp. 5.000,- berangkatlah kami kesana. Namun kejadian lucu terjadi, si sopir malah membawa kami ke gereja. Kami keheranan dan bertanya kenapa dibawa kesini. Si sopir menjawab bahwa tempat ini adalah Kresna sebagaimana yang diminta. Lalu kami jelaskan bahwa kami ingin mencari oleh-oleh. Si sopir akhirnya mengerti bahwa yang dimaksud adalah Krisna. Pendengarannya adalah Kresna, yaitu tempat gereja. Kami tertawa terbahak-bahak. Aneh juga sopir ini, masa ada orang yang berjilbab dan berkopiah dibawa kesini:mrgreen:. Nah, di Krisna ini, kami membeli berbagai macam oleh-oleh. Mulai dari baju, kain Bali, suvenir hingga makanan khas Bali. Tentunya yang berlogo halal dong.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah berhasil mendapatkan oleh-oleh, kami lalu berkemas-kemas untuk meninggalkan hotel menuju bandara. Akhirnya pada pukul 13.30 wita berangkatlah pesawat Wings Air, dan itu berarti petualangan kami di Pulau Bali berakhir sudah. Banyak kenangan yang pastinya akan terus membekas di hati ini tentang keindahan dan keeksotisan Pulau Bali. Mulai dari kotanya yang selalu dijaga bersih, jalan-jalannya yang mulus, upacara keagamaannya yang berlangsung hampir setiap hari, sesajen yang selalu ada, bau dupa yang menyengat, hingga kelakuan para bule yang ajib-ajib yang tidak hanya dilakukan di Pantai Kuta, tapi juga pernah suatu malam aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sepasang bule berenang di kolam renang hotel sambil mesra-mesraan. Sesuatu banget…

Oh ya, sewaktu dalam perjalanan pulang menggunakan pesawat Wings Air, cuaca buruk terjadi. Pesawat sempat turun beberapa kali sehingga membuat penumpang panik. Aku pribadi pernah mengalami hal ini sebelumnya. Namun, kali ini adalah benar-benar yang paling mendebarkan. Aku cuma bisa berpasrah diri kepada Tuhan. Dan syukurlah pada akhirnya pesawat dan para penumpang tiba dengan selamat sampai tujuan.

27 thoughts on “Pesona Keindahan Pulau Bali

  1. Wah… wah… asyik banget mas.. Seperti itu ya pulau dewata. Sebuah pulau yang penuh dengan nuansa hindu yang kental.
    Dengan liburan, Semoga bisa semangat lagi dalam bekerja…😀

  2. Lama tidak berkunjung kemari, ternyata baru jalan2.
    Waduh, enjoy banget nih Bang Ifan kelihatannya, foto2 bule di Kuta koq nggak ditampilkan?.padahal itu yang paling ditunggu oleh para pembaca! hahahahaha.

    Salam Takzim.

  3. tulisannya mantap!

    oya akhir2 ini bali sedang musim hujan dan angin ya…
    ============
    NB : Jika anda sedang liburan ke Bali, dan mencari toko kue di Bali maka Soes Merdeka merupakan pilihan yang tepat karena Soes Merdeka memadukan resep tradisional dan proses pengolahannya menggunakan mesin-mesin modern.

    Dengan dukungan sumber daya manusia yang handal, Soes Merdeka sebagai toko roti di Bali dapat memproduksi snack box hingga 1000 pcs perhari-nya.

    Selain memproduksi kue Soes (kue khas bandung legendaris) yang masih menjadi primadona, Soes Merdeka juga memproduksi lebih dari 200 macam kue lainnya. Jadi boleh dikatakan Soes Merdeka merupakan salah satu bakery di Bali yang memiliki varian produk terbanyak.
    ============
    http://www.snackboxbali.wordpress.com

  4. Kok kebanyakan foto diri Mas nya ya…sebaiknya di tampilkan aja foto pemandangan alam atau kegiatan ibadah atau bangunan khas Bali, boleh saja foto diri mas dan keluarga tapi jangan banyak2 dan jangan mendominasi keseluruhan photo. Salam

  5. aduh, oh my good?? gua rindu bali sama pantainya, saya banyak sekali kenangan indah di bali, yang tidak bisa di lupakan, pantainya yang menyenangkan saat sore hari, di temani segelas teh hangat hmmm, nikmat banget, mata juga di manjakan dengan pemandangan yang amazing, woooow, bali memang keren. saat kesana saya merasa seperty bule-bule juga uhhhh, yang penting ganteng aja sama pede, ada mitos di bali menyebutkan, bahwa siapa pun yang berenang di pantai legian bakalan jadi bule-bule juga loh guys. itu kata society di sana kali aja benar, guys kalau ke bali saya sarankan nginap di pupys hotel lebih murah dekat pantai legian. bye keeps sprite hmmmmuah????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s