Pengalaman Pertama Dengan Pesawat


Dahulu tidak pernah terpikir bahwa suatu saat aku akan bisa naik pesawat terbang. Jangankan naik pesawat terbang, ke bandara saja aku tidak pernah. Bagiku, pesawat adalah alat transportasi yang mewah dan hanya mampu dijangkau oleh orang-orang yang berduit saja. Bagi diriku yang belum memiliki penghasilan rasanya mustahil. Kalau hanya sekedar memimpikannya pastilah pernah, itupun karena dipengaruhi oleh tayangan-tayangan film di TV yang bercerita tentang pesawat. Tetapi untuk berpikir bahwa dalam kehidupan nyata aku akan dapat merasakannya, jawabannya adalah tidak pernah.

Semuanya berubah takkala aku mulai bekerja. Itupun aku merasa terheran-heran. Didalam benakku saat itu, bekerja adalah kegiatan rutin harian dimana dimulai dipagi hari dengan menuju ke kantor, lalu melakukan tugas pengetikan, tugas pengarsipan, dan tugas administrasi lainnya. Kemudian pada sore hari pekerjaan itu selesai dan lalu pulang ke rumah. Namun, ternyata dugaanku salah. Bekerja ternyata tidak sesimpel yang kubayangkan. Ada hal-hal lain yang menuntut penyelesaian diluar itu. Jadi, paradigmaku yang lugu selama ini mengenai kerja di kantor gugur total.

Nah, tugas pertama di luar kantor adalah ketika aku diajak atasanku yang lama menghadiri suatu kegiatan di Kota Balikpapan. Sebenarnya aku malas, tapi tidak enak juga menolaknya. Apalagi sepertinya ia ingin aku bisa merasakan bagaimana rasanya ke luar kota sebagaimana rekan-rekan kerjaku yang sudah lebih dulu merasakannya. Jadilah itu pengalamanku yang pertama ke luar kota dalam rangka dinas luar. Selanjutnya, kegiatan semacam itu akan berulang di tahun berikutnya. Bagi diriku yang pada dasarnya pemalu dan tidak terlalu suka melakukan perjalanan, hal ini sebenarnya sesuatu yang berat. Tapi mau bagaimana? Ini adalah suatu kewajiban yang suka atau tidak suka harus tetap aku jalani. Aneh memang. Sementara banyak orang lain menginginkan kegiatan perjalanan ini, aku malah sebaliknya mencoba menghindari.

Lewat perjalanan dinas keluar kota inilah aku bisa merasakan naik pesawat. Sesuatu yang tadinya kupikir mustahil akhirnya menjadi kenyataan. Ini seperti mimpi yang terwujud dalam dunia nyata. Tentu ini menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Aku patut mensyukurinya karena aku yakin masih banyak orang diluar sana yang masih belum berkesempatan merasakan naik pesawat.

Pengalaman pertama naik pesawat ini juga kudapatkan bersama atasanku yang lama ketika pulang dari Kabupaten Berau menuju Kota Samarinda. Ini terjadi pada bulan Agustus tahun 2007. Tanggalnya aku lupa. Dari Bandara Kalimarau Berau, kami diterbangkan menggunakan pesawat Riau Airlines dan akan mendarat di Bandara Temindung Samarinda. Selama dalam penerbangan, aku terbengong-bengong. Maklumlah, sebagai orang awam tentu ini menjadi pengalaman pertama yang tak akan terlupakan. Keawamanku sendiri telah di mulai di Bandara Kalimarau tersebut. Aku baru tahu bahwa banyak prosedur yang harus dilalui. Mulai dari pemeriksaan metal detector, boarding pass, penimbangan barang, bagasi, belt conveyor, ruang tunggu keberangkatan, dan lain sebagainya. Ini terus berlanjut sampai di dalam pesawat. Aku bingung dengan istilah-istilah yang digunakan meski ada pramugari yang memperagakan tentang prosedur yang harus dipatuhi selama dalam penerbangan, seperti harus menggunakan sabuk pengaman takkala pesawat akan mulai terbang. Jangankan mengerti itu, menggunakan sabuk pengaman saja aku harus dibantu atasanku karena saking tidak mengertinya.

Di dalam pesawat aku duduk disamping jendela. Jadi, aku dapat dengan jelas melihat pemandangan alam dibawahnya. Semuanya tampak seperti miniatur mini. Benar-benar indah. Bak permadani yang terhampar luas. Sungguh luar biasa alam ciptaan Tuhan ini. Lalu, terus keatas, pemandangan yang nampak hanyalah gugusan awan-awan yang bergelantungan. Gugusan awan itu laksana gulali atau kadang-kadang menurut penglihatanku seperti membentuk sebuah kutub es. Hanya warna putih dan biru. Sungguh mendamaikan. Tapi aku heran, jalannya pesawat ini kok lambat ya? Apakah ini hanya perasaanku saja.

Oh ya, sesuatu yang menegangkan juga terjadi dalam penerbangan ini. Cuaca yang tadinya cerah, tiba-tiba menjadi tidak bersahabat. Tanpa kusadari, pesawat turun beberapa meter secara tiba-tiba. Semua penumpang berteriak. Ada yang mengucapkan Allahuakbar dan ada juga yang hanya sekedar menjerit. Aku hanya bisa diam menyaksikan itu sambil berdoa dalam hati untuk tetap diberi keselamatan. Alhamdullillah, kami akhirnya bisa kembali ke Kota Samarinda dengan keadaan sehat wal’afiat.

Nah, itulah pengalaman pertamaku merasakan naik pesawat. Pengalaman pertama yang langsung disuguhi dengan kejadian menegangkan. Tentu ini menjadi sesuatu yang tak akan pernah kulupakan dan akan selalu kukenang dalam hidupku.

14 thoughts on “Pengalaman Pertama Dengan Pesawat

  1. Pengalaman saya naik pesawat di tahun 88…cukup lama juga ya.
    Ketika itu tiket pesawat Merpati dari Ujung Pandang (sekarang Makasar) ke Surabaya tidak sampai 100 ribu rupiah. dengan kurs dolar ketika itu, dibandingkan dengan sekarang, maka saat itu, harga tiketnya sangatlah mahal…

    Tapi itulah pengalaman yg juga masih saya ingat…
    Ngeri-ngeri nikmat…
    Dan akhirnya terbiasa naik pesawat…
    Pernah 9 jam nonstop…
    Pernah juga 7 jam, transit dan lanjut untuk 5 jam berikutnya…

    Salam Takzim,
    Bagus H. Jihad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s