Suasana Lebaranku


Suasana di dalam bus menuju Kota Balikpapan sekitar pukul 6.30 pagi

Sama seperti suasana puasa yang kujalani dengan sedikit berbeda, maka lebaran tahun inipun aku rayakan dengan suasana yang berbeda pula dari tahun-tahun sebelumnya. Perubahan status dari lajang menjadi telah menikahlah yang mengharuskan aku untuk menjalani sesuatu yang beda tersebut. Tentu ini menjadi hal baru dan tantangan tersendiri bagiku. Dan tidak bisa dipungkiri, ada sedikit keterkejutan karena harus beradaptasi dengan sesuatu yang asing dari sebelum-sebelumnya. Namun, hal ini aku anggap sebagai suatu pembelajaran untuk lebih mendapatkan pengalaman-pengalaman yang berharga kedepannya.

Oleh sebab itu, dengan alasan yang telah disebutkan diatas, maka pada tahun 2012 ini aku untuk pertama kalinya berlebaran  di rumah mertua di Kota Balikpapan. Tentu terasa sekali perbedaan suasananya. Bagaimana tidak? Seumur-umur aku tidak pernah melewatkan momen istimewa tersebut bersama orangtua dan saudara-saudaraku di Kota Samarinda. Dan itu terus aku lakoni dalam kurun waktu 30 tahun ini. Bersama mereka, aku rayakan suasana penuh suka cita tersebut dengan saling bermaaf-maafan dan saling berbagi. Bisa dikatakan saat seperti itulah yang paling membahagiakan karena bisa berada ditengah-tengah mereka dengan sentuhan kehangatan keluarga. Jadi, jangan heran jika peristiwa setahun sekali tersebut menjadi sesuatu yang berharga bagiku sehingga tidak bisa dinilai dengan apapun.

Lebaran diwarnai dengan turunnya hujan mulai subuh hingga jam 10 pagi

Pada akhirnya perubahan tidak bisa dihindari, dan itupun aku alami pada saat lebaran ini. Tentu aku terima perubahan tersebut dengan tangan terbuka. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa perasaan khawatir terus bergelayut dipikiranku. Ini terutama berkenaan dengan tradisi yang aku rasa berbeda dengan apa yang aku jalani dikeluargaku selama ini. Ada semacam kegugupan karena bagi diriku pribadi perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan tradisi dari keluarga isteri. Ditambah lagi, sifat pemaluku yang akut menjadikan diriku merasa canggung untuk berlama-lama disana. Sebab itulah, rencananya besok pada hari kedua lebaran, aku akan balik ke Kota Samarinda untuk berlebaran bersama orangtua dan saudara-saudaraku.

Suasana lebaran di rumah di Balikpapan

Namun, untuk selanjutnya aku harus belajar membiasakan diri dengan sesuatu yang baru tersebut. Dalam hal ini, berlebaran dengan keluarga yang baru dengan suasana yang baru pula. Meski kadang merasa ada sesuatu yang aneh karena harus melakoni sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Tapi aku harap ini akan menjadi modal berharga bagiku untuk menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi sesuatu. Intinya, dimanapun dan bagaimanapun kondisiku sekarang, lebaran kali ini harus tetap aku maknai sebagai suatu momentum untuk merubah diri menjadi manusia yang kembali fitrah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 Hijriah. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

8 thoughts on “Suasana Lebaranku

  1. Hehe… ini khas dirimu banget, Fan🙂
    Semoga semakin bisa terbiasa dengan keluarga yang baru ya…
    Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s