Masalah Dari Waktu Ke Waktu


Masalah-masalah dalam kehidupan ini ternyata selalu datang silih berganti. Lepas dari masalah yang satu tidak lantas berhenti sampai disitu. Masalah yang lain bersiap menghadang dan menjadi batu sandungan selanjutnya. Ada diantara kita yang mampu menyikapi berbagai masalah tersebut dengan sikap yang bijaksana, berpikir positif, pantang menyerah dan bersemangat mencari solusi pemecahannya. Namun tidak sedikit juga dari kita yang tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan kadang cenderung ingin lari dan menghindarinya. Akibatnya, bukannya masalah tersebut terselesaikan tetapi malah menjadi semakin rumit. Saat sesuatu itu menjadi semakin rumit, maka disaat itu jugalah rasa tertekan menghampiri.

Bagi diriku pribadi yang telah hampir 31 tahun ini ada di muka bumi, rasanya sudah tidak terbilang lagi banyaknya permasalah-permasalahan hidup yang menimpa. Sejujurnya, permasalahan-permasalahan tersebut bukannya mendewasakanku tetapi malah membuatku semakin terpuruk. Bahkan yang lebih buruknya lagi adalah membuat diriku seakan menjadi orang yang kehilangan arah dan tujuan. Dengan kata lain aku gagal menyikapinya dengan baik dan malah tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut.

Dulu sekali, aku masih mengingat dengan jelas rentetan-rentetan masalah yang membuat hidupku menjadi sangat kusut dan berantakan, sehingga sering merasa hampir putus asa. Putus asa itu akhirnya menjadikan hari-hariku hanya diliputi kekhawatiran dan kecemasan. Semakin memikirkannya, maka semakin tidak karuan rasa pikiran ini. Apalagi masalah-masalah tersebut tampak enggan untuk pergi menjauh dari kehidupanku sehingga rasanya agak sulit untuk memprediksi kapan akan berkesudahannya. Dan itu dimulai pada :

  • Saat dibangku SMP, orangtua menginginkan agar setelah lulus nanti aku melanjutkan bersekolah di sekolah kehutanan atau sekolah perawat, karena di kedua sekolah tersebut apabila lulus, maka secara otomatis akan mendapatkan ikatan dinas alias langsung bekerja sebagai PNS. Aku ikuti saja mau mereka meski sejujurnya aku tertekan. Aku tahu bahwa baik secara fisik maupun mental, aku tidak memenuhi syarat. Dan benar saja, pada akhirnya aku tidak bersekolah di dua tempat tersebut. Cerita mengenainya pun masih menempel kuat di memoriku. Ya, aku ingat sekali saat mendaftar di sekolah perawat tersebut, aku ditemani oleh seorang kawan. Kami berdua menuju kesana dengan berjalan kaki menyusuri gunung yang cukup tinggi sehingga lumayan membuat tubuh ini capai dan basah dengan keringat. Lalu setibanya disana, hal pertama yang dilakukan adalah mengikuti seleksi pengukuran tinggi badan. Hasilnya mengecewakan. Aku tidak bisa mengikuti seleksi selanjutnya karena tinggi badan yang tidak mencukupi. Aku malu sekali. Walau sebenarnya aku senang karena itu berarti aku tidak perlu bersekolah di tempat tersebut, tetapi menerima penolakan secara langsung ternyata amat menyakitkan. Setelah kejadian tersebut, orangtuaku pun tidak ada hasrat lagi untuk mendaftarkanku ke sekolah kehutanan. Pikir mereka, hasilnya pun pasti akan sama, yaitu gagal karena terkendala di tinggi badan. Perihal tinggi badan ini memang menjadi momok yang menakutkan bagiku. Tinggiku yang hanya mencapai 150 cm menjadi sasaran kemarahan orang rumah. Tiap hari aku selalu disuruh untuk sering-sering bergantung di palang pintu agar tinggi badan bisa bertambah. Duh, betapa tersiksanya aku saat itu.
  • Saat dibangku SMA, kembali lagi dilanda kekhawatiran. Permasalahannya sebenarnya klasik yang juga dihadapi hampir seluruh siswa kelas 3 yang baru saja lulus Ebta/Ebtanas. Apalagi kalau bukan ketakukan apabila tidak berhasil lulus dalam seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Untungnya bagi diriku, aku bisa berhasil lolos pada seleksi tersebut. Tapi walau begitu, lagi-lagi dengan embel keluarga, aku terpaksa harus berkuliah pada jurusan yang tidak kukehendaki. Tadinya berkeinginan sekali bisa kuliah di jurusan ekonomi atau pendidikan bahasa inggris. Namun seperti biasa, keinginan dari keluarga mengharuskan aku untuk kembali melupakan kedua jurusan tersebut dan beralih ke jurusan yang mereka pilihkan, yaitu teknik.
  • Saat kuliah, menghadapi masalah yang amat berat, yaitu terserang penyakit misterius. Hampir 4 bulan tidak bisa melakukan apapun sehingga terbersit keinginan untuk berhenti saja. Sempat juga berpikiran bahwa segalanya akan berakhir sampai disini. Alhamdullillah, setelah lelah kesana kemari berobat, dan juga karena kuasa dari Allah SWT, kesembuhan itu datang juga. Rasa sakit yang selama ini terus-terusan menyiksa, berangsur-angsur menghilang. Subhanallah. Tapi, trauma akan penyakit tersebut, selamanya akan terus membekas didiriku.
  • Saat lulus kuliah, dipusingkan dengan urusan mencari pekerjaan. Sempat pesimis juga apakah bisa mendapatkannya mengingat fisik yang kurang mendukung dan kemampuan berkomunikasi yang payah. Ditambah lagi sifat pemaluku yang kronis, semakin memperpanjang masa menganggurku di rumah. Rasanya pada saat itu sangat malu mengingat diriku yang bergelar sarjana tapi hanya menjadi penjaga warung kopi. Didalam hati sering bertanya, untuk apa kuliah yang telah ditempuh selama berapa tahun kalau hasilnya seperti ini. Tentu keadaan tersebut membuatku amat tertekan dan rendah diri. Seakan hidup ini tidak berguna. Tapi untunglah, disaat yang hampir putus asa, kesempatan itu datang. Saat ada penerimaan CPNS, aku mencoba untuk mendaftar. Alhamdullillah lulus dan sejak saat itu bekerja di instansi pemerintah.
  • Saat telah bekerja, tidak serta masalah itu menghilang. Mulanya memang aku berpikir bahwa memiliki pekerjaan merupakan suatu pencapaian tertinggi dalam hidup. Namun itu hanya sesaat saja. Nyatanya aku mulai dipusingkan dengan urusan mencari pasangan hidup. Apalagi kalau dipikir-pikir usiaku pada saat itu merupakan usia yang sudah telat untuk menikah. Tentu saja hal tersebut membuatku menjadi galau. Kegalauan itu makin bertambah karena orang-orang disekelilingku, baik keluarga maupun teman-teman kerja terus-terusan mendesakku untuk sesegera mungkin mendapatkan pendamping hidup. Dan itu diperparah saat mereka berada di kantor pada waktu acara ngumpul-ngumpul. Banyolan dan candaan mereka tentang menikah menjadi santapan sehari-hari yang harus kudengar yang kadang membuat kuping ini menjadi panas, seperti : “apa lagi yang ditunggu? kan’ sudah punya penghasilan” atau “kalau kamu sudah tua nanti, siapa yang akan ngurus kamu kalau tidak punya isteri?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya yang bikin gerah. Sempat pesimis juga apakah nantinya bakalan mendapat pasangan hidup mengingat begitu banyaknya kekurangan yang melekat pada diriku selama ini. Jadinya hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua itu kepada Allah SWT. Terserah Allah SWT saja ingin memperlakukan hidupku akan seperti apa kedepannya. Lalu, pada akhirnya tanpa direncanakan dan sepertinya mendadak sekali, Allah SWT menakdirkanku di tahun 2012 ini untuk menamatkan masa lajang. Alhamdullillah.

Kini, setelah pernikahan, masalah ternyata tetap saja berlanjut. Judulnya pun berganti dengan topik yang tak kalah menguras perasaan. Dan itu adalah: KAPAN MEMILIKI ANAK?

Ya, setelah hampir 7 bulan membina biduk rumah tangga, ada perasaan cemas dan khawatir karena sampai saat ini belum ada tanda-tanda isteri akan mengalami kehamilan. Padahal orang-orang yang menikahnya hampir berbarengan dengan aku, sekarang ini  tampaknya sedang berbunga-bunga menunggu dan menyiapkan kelahiran anak pertama mereka. Duh…sejujurnya ada perasaan cemburu melihat kebahagian mereka tersebut. Dalam hati ini cuma bisa bergumam, kapan giliranku?

Setiap bulan berharap sekali mendapat kabar yang menggembirakan. Tapi nyatanya selalu saja yang sebaliknya. Harus kuakui, ada perasaan sedih yang menyelinap di hati karena berarti aku harus memulai dan berjuang dari awal lagi. Dan kesedihan itu makin bertambah-tambah saat orang-orang (baik dari keluarga maupun teman-teman) bertanya, kapan nih punya anak? Tentu saja pertanyaan semacam itu membuatku salah tingkah. Akhirnya cuma bisa diam dan tersenyum. Padahal sebenarnya sakit banget di hati ini. Kadang berpikiran bahwa aku ini seakan-akan adalah sosok lemah di mata mereka yang tak berdaya mengubah keadaan.

Secara naluriah, tentulah semua orang yang baru menikah berkeinginan untuk  sesegera mungkin bisa memiliki keturunan. Keturunan yang diyakini nantinya akan menambah kebahagian keluarga dan menjadikan hidup ini terasa lebih sempurna. Tapi masalahnya adalah, apabila ternyata Allah SWT belum juga memberikanku rejeki kearah sana, apakah aku harus protes? Tentunya tidak bukan! Bisa jadi, Allah SWT menyuruhku untuk bersabar dulu sampai Ia menemukan waktu yang tepat untuk memberikan kepadaku anugerah yang indah. Aku hanya perlu berbaik sangka saja. Memang harus diakui bahwa untuk berbaik sangka itu sulitnya minta ampun. Selalu saja ada pikiran-pikiran negatif  yang menghasutku untuk sekedar mengatakan bahwa ini sangat berat sebelah. Tapi aku harus terus menepisnya dan percaya bahwa Allah SWT akan memberiku yang terbaik.

Untuk sekarang ini, yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha dan berdoa. Tidak lupa juga bernazar yang isinya adalah apabila mendapatkan keturunan atau anak, maka akan :

  • Berpuasa selama tiga hari berturut-turut.
  • Melakukan sujud syukur.
  • Memberikan nama anak dengan nama depannya Muhammad apabila ia laki-laki.

Aku berharap Allah SWT akan mengabulkan nazarku tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama. Juga selalu berdoa semoga jika kelak mendapat keturunan, maka keturunanku tersebut bisa lahir dalam kondisi yang sehat jasmani dan rohani, menjadi anak yang sholeh dan sholehah serta senantiasa berbakti dan bermanfaat bagi agama, negara, masyarakat dan orangtuanya. Amin Ya Rabbal Alamin.

Pada akhirnya dapat kusimpulkan bahwa permasalahan yang menimpaku memang merupakan takdir yang harus tetap aku jalani. Suka ataupun tidak suka tetap tidak bisa membuatku menghindarinya. Untuk menyelesaikannya pun tidak gampang. Harus terlebih dahulu melalui jalan yang berliku. Jika orang lain mungkin dengan mudah mendapatkan pertolongan dalam menguraikan masalah mereka, maka aku sepertinya harus menangis-nangis dan berkeluh kesah dulu. Jika orang lain pada akhirnya begitu cepat mendapatkan kebahagian, maka bagi diriku adalah masih tanda tanya dan samar. Dan sekarang hanya berharap kemurahan dari Allah SWT saja.

2 thoughts on “Masalah Dari Waktu Ke Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s