Pulau Beras Basah, Bontang


2013-04-14 10.36.01

Tidak seperti biasanya dimana setiap berkunjung ke suatu tempat pasti lebih banyak dikarenakan oleh kegiatan dinas luar untuk urusan pekerjaan kantor. Tetapi kali ini, sedikit agak berbeda. Bersama keluarga, aku dan rombongan pergi ke sebuah pulau kecil di Kota Bontang untuk sebuah kesenangan dalam rangka menyegarkan otak dan pikiran yang selama ini terasa jenuh karena terus bergelut dengan rutinitas harian. Ya, tepatnya pada Hari Minggu, Tanggal 14 April 2013, setelah sekian lama dirancang, akhirnya jadi juga perjalanan ini dilakukan. Padahal tadinya agak pesimis karena pagi-pagi buta, hujan lebat terus berlangsung dan tidak tahu kapan akan berhenti. Tetapi kenyataannya, rombongan tetap nekad melaksanakan perjalanan tersebut. Aku sih senang saja karena segala sesuatunya mulai dari transportasi sampai dengan akomodasi ditanggung alias gratis.

Menggunakan kapal tambangan untuk menyeberang Pulau Beras Basah
Menggunakan kapal tambangan untuk menyeberang Pulau Beras Basah
Angin laut yang kencang membuat diri ini harus menggunakan jaket
Angin laut yang kencang membuat diri ini harus menggunakan jaket

Pagi itu, dengan menggunakan 2 mobil, rombongan kami menerobos derasnya hujan menuju Kota Bontang untuk satu tujuan yang sudah tidak sabar ingin kami jelajahi, yaitu Pulau Beras Basah. Pulau ini cukup terkenal sebagai tempat wisata keluarga di Provinsi Kalimantan Timur. Meski cukup terkenal, tidak satupun dari kami yang pernah menginjakkan kaki kesana. Maklum, Pulau Beras Basah ini baru benar-benar dikelola dan dipromosikan dengan baik sebagai tempat wisata, juga baru beberapa tahun terakhir ini.

Perjalanan ke Pulau Beras Basah penuh dengan tantangan. Hujan yang terus mengguyur menyulitkan sopir untuk memacu kecepatan mobil. Sopir yang juga anggota keluarga berhati-hati sekali untuk menghindari jalanan yang sebagian besar rusak dan berlubang, licin, sempit, bergunung-gunung dan berkelok-kelok. Maklum, ia baru pertama kali bepergian ke Kota Bontang. Jadi wajar kalau ia kurang mengenal medan. Panduannya hanya mobil didepannya yang duluan meluncur. Mobil didepan tersebut juga mengangkut rombongan keluarga lainnya dan sudah hapal sekali dengan seluk-beluk area. Nah, kebetulan aku ikut menumpang di mobil yang dikemudikan oleh adik iparku yang belum mengenal medan. Jadinya, tidak bisa dipungkiri ada perasaan was-was. Sepanjang perjalanan aku berkomat-kamit membaca doa supaya selamat sampai tujuan. Meski begitu, sempat terjadi hal yang mengkhawatirkan. Saat melintas di Gunung Manggah, mobil agak kesulitan untuk menanjak dan mundur beberapa meter. Untung pada saat itu tidak ada mobil lain dibelakangnya sehingga tidak terjadi sesuatu yang fatal.

Hutan Bakau di kanan-kiri pinggir pantai
Hutan Bakau di kanan-kiri pinggir pantai
Patung Merlion ala Kota Bontang
Patung Merlion ala Kota Bontang dari kejauhan

Rombongan kami sampai di Kota Bontang sekitar jam 10.00 Wita, tepatnya di Dermaga Tanjung Laut di Jalan Pelabuhan. Dari dermaga ini, kami harus menggunakan kapal tambangan (yang sebelumnya memang telah dicharter) untuk menuju ke Pulau Beras Basah yang terletak di sebelah selatan kota Bontang dan berjarak 7 mil laut. Sewanya kalau tidak salah sebesar Rp. 500.000,- (pergi pulang). Menuju Pulau ini, tidak kalah menantangnya. Hujan yang belum juga mau berhenti menjadikan ombak laut lebih bergelora. Kapal tambangan pun terombang-ambing. Tapi ini menjadi sensasi tersendiri. Sepanjang perjalanan, mata ini dimanjakan dengan hamparan menghijau dari pohon-pohon bakau yang tumbuh di tepi-tepi laut. Sesekali melintas kapal-kapal nelayan berukuran kecil hingga sedang. Tak jarang kami jumpai gugusan pulau-pulau lainnya yang tak berpenghuni. Bahkan, dari kejauhan kami sempat melihat Patung Merlion ala Singapura yang berdiri kokoh. Oh ya, perlu waktu sekitar 45 menit bagi kapal tambangan untuk merapat di Pulau Beras Basah. Dan saat merapat, pengunjung disambut dengan huruf-huruf besar bertuliskan WELCOME TO BERAS BASAH. Tentu saja, tanpa dikomando dan secara spontanitas, kami berfoto-foto dengan latar huruf tersebut. Gayanya pun bermacam-macam, dari yang natural sampai yang terkesan lebay. Maklum, momen seperti jarang-jarang bisa ditemui.

Keponakanku
Keponakanku
Dermaga Tanjung Laut akses menuju Pulau Beras Basah
Dermaga Tanjung Laut akses menuju Pulau Beras Basah

Luas Pulau Beras Basah tidak terlalu besar dan diperkirakan tidak lebih dari 5 hektar. Disana, terdapat sebuah mercusuar untuk memantau lalu lintas kapal yang hilir mudik. Tetapi dari info yang aku dapat, mercusuar yang dibangun oleh PT Badak ini sudah tidak dioperasikan lagi. Nama Pulau Beras Basah sendiri terdengar unik ditelinga. Menurut ceritanya, suatu hari kapal pedagang beras yang datang dari Pulau Sulawesi mengalami hambatan berupa hadangan ombak yang besar. Untuk menghindarinya, maka kapal singgah di sebuah pulau kecil untuk menurunkan muatan beras. Ternyata, saat menurunkan muatan, tanpa sengaja beras tersebut tersiram ombak dan basah. Akhirnya, lambat laun pulau itu dikenal masyarakat sebagai Pulau Beras Basah.

Pulau Beras Basah dari kejauhan
Pulau Beras Basah dari kejauhan

Pulau Beras Basah ini tidak perlu lagi diragukan keindahannya. Pasir pantainya putih bersih dengan air laut yang jernih berwarna biru kehijauan. Ditambah lagi dengan hamparan pohon kelapa yang tersebar di beberapa tempat menjadi peneduh yang nyaman untuk bersantai. Beberapa fasilitas juga sudah tersedia meski masih terkesan ala kadarnya, seperti gazebo-gazebo, ruang ganti pakaian, toilet dan sebuah warung. Untuk gazebo sendiri bisa dipergunakan secara gratis. Sementara toilet dan ruang ganti dikelola oleh orang-orang yang katanya sudah menetap disana puluhan tahun. Menggunakan fasilitas toilet dan ruang ganti hanya dikenakan tarif pembelian air tawar untuk membilas sebesar Rp. 2.000,- ukuran botol aqua yang besar dan Rp. 5.000,- ukuran jerigen minyak tanah.

Pulau Beras Basah dari jarak dekat
Pulau Beras Basah dari jarak dekat

Bersantai bersama keluarga di gazebo yang ukurannya sekitar 2×3 meter memang menyenangkan. Sambil makan siang dengan bekal yang sudah disipakan dari rumah terasa nikmat. Pokoknya lahap sekali karena perut ini sudah keroncongan akibat sejak pagi tadi tidak diisi dengan makanan. Menunya sih sederhana, berupa nasi putih plus lauknya yang terdiri dari ayam goreng, sambal goreng tempe, peyek, sambel ulek dan ulam-ulaman. Meski menunya sederhana tetapi terasa istimewa karena mungkin terbawa oleh suasana pulau yang begitu eksotis. Terkadang, karena banyaknya pengunjung yang berlibur ke pulau itu, gazebo pun terisi penuh. Beberapa keluarga malah ada yang menggelar tikar diatas hamparan pasir. Mereka lalu mengadakan acara bakar-bakar ikan atau istilah kerennya barbeque. Tetapi disayangkan, kebanyakan dari pengunjung kadang kurang menjaga kebersihan. Sisa-sisa makanan, baik yang dibawa dari rumah maupun yang diolah langsung ditempat sering terlihat berhamburan. Bak sampah pun tidak banyak tersedia. Belum lagi rumput yang dibiarkan tumbuh liar tanpa ada perawatan dan pembersihan, menjadikan keindahan Pulau Beras Basah agak sedikit berkurang.

Bersantai di gazebo sambil makan bersama
Bersantai di gazebo sambil makan bersama

Terlepas dari semua persoalan kebersihan tersebut, tetap Pulau Beras Basah layak menjadi destinasi yang wajib untuk dikunjungi. Tidak hanya sekedar tempat berkumpul keluarga, tetapi menjadi ajang untuk bermain dan bersenda gurau. Seperti yang kulakukan bersama adik dan keponakanku. Kami beramai-ramai berenang di tepian pantai. Awalnya tidak ada niatan sama sekali untuk berenang. Tetapi melihat keriangan keponakan-keponakanku yang begitu asyiknya berenang, menggoda jiwaku untuk ikutan gabung dengan mereka. Padahal aku sendiri tidak membawa pakaian ganti. Alhasil, aku harus menyewa celana kolor seharga Rp. 25.000,- hanya untuk berenang dan mencicipi asinnya air laut. Mau bagaimana lagi? Demi sebuah pengalaman tentunya. Apalagi, salah seorang adikku mengajak kami untuk mencoba naik banana boat. Kesempatan itu tentu tidak kami sia-siakan. Jadilah aku merasakan untuk pertama kalinya naik banana boat bersama 4 anggota keluargaku yang lain. Rasanya kok biasa saja ya, sama seperti naik speedboat. Tapi saat putaran terakhir ketika hendak kembali ke tepi pantai, sang motorist sengaja mempercepat laju banana boat agar semua dari kami merasakan sensasi bagaimana rasanya banana boat itu terbalik hingga tercebur dan basah kuyup. Untuk beberapa kali putaran itu, uang yang harus dirogoh sebesar Rp. 100.000,-. Jadi, tiap orang dikenakan Rp. 20.000,-

2013-04-14 10.49.32
Hamparan pohon kelapa sebagai peneduh alami di Pantai Beras Basah
Keponakan yang asyik berenang
Keponakan yang asyik berenang

Selain bermain banana boat, masih hanyak kegiatan yang dapat dilakukan di Pulau Beras Basah. Bagi yang hobi memancing, inilah tempat yang cocok untuk menyalurkan hobi tersebut. Bagi yang suka keindahan bawah laut, bisa mencoba diving dan snorkeling. Selain itu, jika menyusuri padang lamun, kalau beruntung kita bisa menemukan binatang laut seperti bintang laut, sejenis cumi-cumi, teripang, bulu babi, landak laut dan ular laut. Kalau seandainya bosan dengan segala kegiatan yang berhubungan dengan air, cobalah bermain olahraga voli pantai karena fasilitasnya juga tersedia.

Puas menikmati keindahan Pulau Beras Basah, kami lalu berkeinginan untuk segera pulang. Rencananya jam 2 siang, kapal tambangan akan menjemput kami. Awalnya kami berfikir, kok cepat banget. Tapi pada kenyataannya, jam 12 siang saja, kami merasa capai dan rasanya ingin segera balik. Tapi berhubung baru jam 2 siang kapal tambangan tersebut datang, mau tidak mau kami cuma duduk menunggu sambil melihat permainan lempar gelang berhadiah yang berada tidak jauh dari tempat gazebo kami.

Basah kuyup akibat banana boat yang sengaja dibalikkan motorist
Basah kuyup akibat banana boat yang sengaja dibalikkan motorist
Bergaya dulu dengan life jacket
Bergaya dulu dengan life jacket

Akhirnya, kapal tambangan membawa kami balik ke Kota Bontang. Dari sana, rombongan ternyata tidak langsung pulang ke Kota Samarinda, melainkan singgah dulu di Bontang Kuala untuk membeli hasil olahan laut yang terutama didominasi olen ikan asin. Selanjutnya, rombongan menuju ke Rumah Makan Melati yang terletak di Jalan MT. Haryono. Tapi sebelumnya kami sempat singgah di Masjid Agung Al Hijrah. Bukan untuk sholat ya, tapi sekedar numpang buang air kecil. Nah, di warung makan ini kami memesan menu yang banyak menyediakan aneka seafood. Aku pribadi memilih cumi goreng tepung. Rasanya enak nian. Selesai makan, kami menuju ke Koperasi PKT Bontang untuk membeli empek-empek. Lepas dari situ, kami langsung pulang menuju Kota Samarinda. Perjalanan pulang tentu juga amat melelahkan. Ditambah lagi udara malam dan AC yang dingin terasa mengkerutkan tubuhku yang hanya ditutupi jaket akibat kemeja yang kukenakan kugunakan saat berenang tadi. Alhasil, badan ini agak merasa demam. Tapi syukurlah, rombongan kami bisa kembali tiba di Kota Samarinda dengan selamat sekitar pukul 20.30 wita. Alhamdullillah.

Dihamparan pasir putih
Dihamparan pasir putih
Masjid Al Hijrah Kota Bontang
Masjid Al Hijrah Kota Bontang

9 thoughts on “Pulau Beras Basah, Bontang

  1. nekad juga ya jalan2 pas lagi hujan deras
    ngeri di laut berombak

    btw, Merlion nya mirip dengan lambang Singapur? kok nggak bikin yang khas sendiri aja ya malah niru2

  2. Assalaamu’aaikum wr.wb, Ifan… ngeri juga kalau dalam hujan, tambah kawasan curam membukit apabila mobil yang dipandu bisa undur ke belakang. pasti terbayang sesuatu yang fatal boleh berlaku bila-bila masa. Alhamdulillah semuanya selamat. Sanggup juga bersantai dalam hujan yang lebat. Pasti kenangan yang hebat untuk dilupakan. Kalau saya akan terbayang lautnya bergelora dan menakutkan dan terus batalkan rencana itu. Pemandangan Pulau Beras ini sangat cantik dan sesuai sebagai tempat wisata. Gembira sekali dapat berenang di pantai dengan airnya seakan hijau membiru dan tentu sejuk. Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.ūüėÄ

  3. Jalan menuju kota Bontang memang sedikit memprihatinkan yaa
    kami pernah sekeluarga dalam keadaan hujan besar dan malam hari
    itu perjalanan yang paling menegangkan seumur hidup saya
    Sayang yaa kalau memang tidak terawat dengan baik untuk kebersihannya
    Semoga kedepan Pantai Beras Basah bisa menjadi tujuan wisata utama Kota Bontang
    Aamiiin

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, Ifan…

    Menunggu posting baru dari Ifan. Lama tidak up-date blognya. Mungkin sedang sibuk dengan Adilla. Semoga sihat semuanya dalam rahmat Allah SWT. Aamiin.

    Salam sejahtera dari Sarikei, Sarawak.ūüėÄ

  5. Terimakasih tulisan blog mas Ifan memberikan saya tambahan pengetahuan ttg obyek wisata di Kota Bontang. saya baru kali ini ingin berkunjung ke pulau Beras Basah yang indah… Moga perjalanan kami besok menyeberang kesana didukung dg cuaca yang cerah,….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s