Kawasan Kota Tua Jakarta


2013-10-09 14.15.20

Sebenarnya sejak kunjungan pertama kali ke Jakarta, ingin rasanya bisa menginjakkan kaki  ini ke Kawasan Kota Tua yang terkenal dengan beberapa bangunan bergaya kolonialnya. Tetapi hasrat tersebut hanya dipendam mengingat aku pada waktu itu berangkat bersama rombongan yang telah diatur jadwal dan agendanya. Saat rombongan yang akan menuju ke Ancol melintasi kawasan tersebut, aku hanya diam melongo, takjub, dan bergumam di dalam hati bahwa suatu saat aku harus kesana. Ya, meski pada waktu itu adalah kunjungan yang pertama bagiku menginjakkan kaki ke ibukota, tapi aku tahu persis bahwa kawasan yang barusan kami lintasi tersebut adalah Kawasan Kota Tua. Aku beberapa kali pernah menonton tayangan di televisi yang mengetengahkan tentang eksotisme Kawasan Kota Tua  tersebut  sehingga tanpa harus diberitahupun, aku merasa telah familiar dengan keberadaannya.

Kesempatan langka itu datang kembali pada tahun ini. Tentu masih dalam koridor kegiatan kantor, yaitu mengikuti kegiatan konsinyasi dan validasi data pegawai dalam rangka persiapan remunerasi di kementerian tempat aku bernaung. Ya, seperti biasa, berkunjung ke kota-kota di bagian Indonesia bisa kulakukan pasti karena ada kegiatan-kegiatan semacam itu. Kalau tidak begitu, rasanya berat ke Jakarta dengan biaya sendiri. 

Aku sebenarnya agak ogah-ogahan mengikuti kegiatan tersebut mengingat pelaksanaannya yang berlangsung selama 4 hari, dari tanggal 7 sd. 10 Oktober 2013. Ditambah lagi, bahan data yang kami miliki untuk proses pemutakhiran belum terlalu lengkap. Aku punya firasat, disana nanti kami akan dipaksa untuk secepatnya menyelesaikan pemuktahiran. Dan itu  benar adanya disertai embel-embel menakut-menakuti dari pihak panitia bahwa apabila data yang dimuktahirkan tersebut tidak akurat, maka kami selaku operator penginput, menjadi salah 1 yang patut bertanggung jawab jika ada pegawai yang tidak tercover dalam pembayaran tunjangan remunerasi. Wah, perasaanku saat itu tidak karuan. Bekerja melakukan penginputan jadi seperti beban karena berada dibawah tekanan sekaligus ancaman.

2013-10-09 14.03.14
Orang ramai mengabadikan bangunan-bangunan kolonial

Singkat cerita, aku bekerja melakukan pemuktahiran semampu yang kubisa. Dan hasilnya pada hari kedua aku telah mengumpulkan data laporan ke pihak panitia tepat pada menit-menit terakhir menjelang limit waktu yang ditentukan, yaitu jam 9 malam. Namun pada akhirnya aku merasa kecele karena kenyataannya masih banyak juga satker-satker dari provinsi lain yang belum mengumpulkan data dengan beragam alasan. Nah, karena masih ada 2 hari yang tersisa, maka aku mulai merencanakan untuk bepergian ke luar. Dan itu baru terlaksana pada hari yang ketiga, dimana saat ada sedikit waktu luang, aku manfaatkan benar-benar untuk mewujudkan keinginan lama, mengunjungi Kawasan Kota Tua, Jakarta.  

Sebagaimana kukutip dari Wikipedia  Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). Namun, pada petualanganku waktu itu, aku hanya berkesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat saja, terutama sekali di seputaran kawasan Taman Fatahillah yang memang nampak mencolok dengan kerumunan orang.

@@@@@

Hanya dengan bermodal nekad, seorang diri aku menuju kesana menggunakan jasa taksi argo yang kucegat saat melintas di bagian depan Swissbel Hotel Mangga  Besar, Jalan Kartini Raya No. 57, Jakarta Utara pada sekitar pukul 13.30 siang. Aku agak cemas juga menggunakan transportasi tersebut mengingat selama ini jika bepergian ke suatu tempat di Jakarta, aku selalu bersama teman-teman. Tapi kali ini aku benar-benar hanya seorang diri pergi ke tempat asing tersebut. Untung saja, keadaan lalu lintas pada saat itu tidak terlalu macet sehingga memudahkanku mencapai Kawasan Kota Tua dengan lebih cepat. Sesampainya di depan pintu masuk Kawasan Kota Tua, aku tanyakan kepada pak supir berapa yang harus dibayar. Ia menjawab sebesar Rp. 25.000,-  sebagai tarif minimum karena harga yang tertera di argo menunjuk pada angka yang kurang, yaitu sekitar (kalau tidak salah ingat) Rp. 17.000,-.

2013-10-09 14.50.54
View kawasan kota tua yang berada di luar Taman Fatahillah
2013-10-09 14.49.22
Area / jalan masuk menuju komplek Taman Fatahillah, Kawasan Kota Tua Jakarta

Aku lalu bergegas menuju Kawasan Kota Tua. Tapi aku sempat nyasar dan malah masuk ke Kantor Bank Mandiri. Petugasnya lalu menunjukkan arah yang harus kulalui untuk mencapai area inti/utama dari Kawasan Kota Tua, yaitu Taman Fatahillah. Nah, disekeliling Taman Fatahillah inilah berdiri beberapa bangunan peninggalan kolonial yang telah berubah fungsi  menjadi museum dan fasilitas umum lainnya. Dan dari disini menjadi semacam  titik point /tempat mengumpulnya orang-orang untuk mempelajari dan meneliti sejarah bangsa Indonesia masa lalu, melihat peradaban lampau saat jaman penjajahan Belanda, hingga menjadi wilayah komersial bagi sebagian orang untuk bernarsis diri berfoto dengan latar gedung-gedung tua tersebut.  Lalu, masuk kategori apakah aku? Jujur, aku senang mempelajari sejarah, tetapi hasrat untuk memuaskan diri berfoto dengan bangunan-bangunan cantik itu lebih kuat membelengguku. Demi apa? Demi sebuah pengakuan dan eksistensi diri bahwa : ini lho aku, seseorang yang pernah menginjakkan kaki ke Kawasan Kota Tua yang bersejarah. Menyedihkan.

Kesan pertama yang kurasakan saat melihat bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda adalah takjub. Bayangkan saja, bangunan-bangunan itu sangat besar, megah dan berdiri kokoh dengan banyak pilar-pilar. Ornamen dan arsitekturnya indah dan bernilai seni tinggi dengan gaya khas eropa. Tentu saja, pengunjung seperti diriku ini seakan terbawa suasana romantisme  ala-ala jaman kerajaan Inggris pertengahan.

Selain aktivitas melihat bangunan-bangunan bersejarah tersebut, banyak hal yang dapat dilakukan pengunjung di persekitaran Kawasan Kota Tua Jakarta. Dan berdasarkan hasil pengamatanku, kebanyakan orang-orang (pengunjung) berseliweran dari satu bangunan ke bangunan lainnya dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :

Memfoto dan Berfoto dengan berbagai macam obyek

Banyak hal yang dapat dijadikan obyek untuk memfoto dan berfoto. Tetapi kebanyakan pengunjung memilih untuk berfoto dengan mengambil obyek latar bangunan, berfoto dengan benda-benda peninggalan sisa perang (meriam)  maupun benda-benda yang menjadi penghuni museum,  dan berfoto bersama orang-orang yang merelakan diri mereka berpakaian/berlakon dengan aneka rupa (sebagaimana yang kusaksikan, ada yang menjadi Menir, Noni Belanda, Si Pitung, Vampire ala China, dan Pejuang Kemerdekaan). Tentu, karena telah sampai disana, tidak kulewatkan kesempatan tersebut untuk berfoto-foto dengan obyek yang ada dengan meminta bantuan pengunjung lain yang kebetulan berada di dekatku agar mau memfotoku. Sebenarnya sih agak malu. Tapi aku tebal muka saja. Makanya poseku yang ada di foto terlihat kaku karena tidak berani bergaya.

2013-10-09 14.17.19
Berfoto dengan obyek meriam dan tokoh pejuang kemerdekaan
2013-10-09 14.02.29
Dari kejauhan terlihat anak-anak yang berpakaian ala vampire untuk dijadikan obyek foto

Menjelajahi Kawasan Kota Tua dengan naik sepeda ontel

Saat tiba di Kawasan Kota Tua, salah 1 hal yang menarik perhatian pengunjung adalah keberadaan sepeda-sepeda ontel yang disusun rapi dan berjejer memanjang. Sepeda ontel tersebut disewakan. Kalau tidak salah dengar, perjam nya dikenakan biaya Rp. 15.000,-. Bagi para pengunjung yang malas menjelajahi Kawasan Kota tua dengan berjalan kaki, tentu keberadaan sepeda ontel ini sangat membantu. Jika tidak digunakan untuk menjelajah, pengunjung bisa memanfaatkannya sebagai obyek untuk berfoto lengkap dengan aksesoris tambahannya berupa topi ala Menir dan Noni Belanda.

2013-10-09 14.02.02
Banyak yang menyediakan sepeda ontel untuk disewakan kepada para pengunjung
2013-10-09 14.01.44
Siapa yang ingin berfoto dengan obyek sepeda ontel beserta aksesorisnya berupa topi ala belanda?

Kongkow-kongkow

Terdapat beberapa bangunan lama di Taman Fatahillah ini yang disulap menjadi restoran/cafe untuk tempat bersantai yang nyaman bagi anggota keluarga setelah lelah berkeliling. Salah satunya adalah Cafe Batavia. Bangunannya unik. Tapi sayang aku tidak berani masuk kedalam karena sepertinya kalau kesana harus pesan sesuatu, minimal minuman kali ya. Padahal dari informasi yang kubaca di internet, isi di dalam cafe tersebut benar-benar bagus karena dirancang dengan suasana Batavia tempo dulu.

2013-10-09 14.21.41
Cafe Batavia yang cantik, tapi harga makanannya sepertinya mahal

Mengunjungi Museum

Ada beberapa museum yang terletak di Kawasan Kota Tua. Tiga diantaranya berada satu komplek di Taman Fatahillah, yaitu : Museum Fatahillah, Museum Wayang, dan Musem Seni Rupa dan Keramik. Dua lainnya berada diluar komplek (tetapi masih dapat dijangkau dengan jalan kaki karena letaknya yang dekat), yaitu Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri. Bagi pengunjung yang mencintai sejarah dan ingin menambah ilmu pengetahuan, rasanya tepat kalau melangkahkan kaki kesini. Tentu, karena akupun memiliki rasa penasaran yang besar untuk mengetahui tentang apa isi disebalik museum, sudah pasti aku tidak melewatkannya. Walau sebenarnya tidak terlalu mengerti dengan isi didalamnya, setidaknya aku telah memiliki gambaran dari museum tersebut.

Tiket dari beberapa museum. Harganya cukup murah dan tak sebanding dengan pengetahuan yang didapat
Tiket dari beberapa museum. Harganya cukup murah dan tak sebanding dengan pengetahuan yang didapat
1381320007950
Museum Fatahillah, salah satu museum yang ada di Kawasan Kota Tua Jakarta

Menengok aktivitas Kantor Pos Indonesia

Sempat masuk kesini dan berpikir bahwa bangunan ini juga adalah museum. Tetapi aku salah. Saat menengok kedalam, ternyata ada aktifitas orang yang sedang bekerja. Buru-buru aku keluar karena takut mengganggu kegiatan disana. Tetapi aku sempat mengabadikan isi dari dalam kantor tersebut.

2013-10-09 14.18.53
Bagian luar dari PT. Pos Indonesia
2013-10-09 14.19.32
Suasana kesibukan di bagian dalam di Kantor Pos Indonesia

Selain hal-hal yang telah kuuraikan diatas, aku juga menjumpai :

  • Para pengamen yang memamerkan kemampuan vokal mereka kepada para pengunjung.
  • Mobil antik yang dipajang/dipamerkan dibagian depan saat memasuki Komplek Taman Fatahillah.
  • Orang-orang yang tidak jelas profesinya. Sekilas aku melihat ada yang seperti gelandangan, ada remaja wanita yang merokok, dan lelaki yang berambut gimbal/ala penyanyi reggae, dll.
  • Beberapa bangunan tua kolonial yang tidak terawat/rusak, bahkan yang tidak lagi utuh karena bekas terbakar.
2013-10-09 14.49.16
Mobil antik yang dipajang dibagian pintu masuk dari komplek Taman Fatahillah
2013-10-09 14.20.45
Salah satu bangunan kolonial yang tinggal puingnya saja. Tapi tetap bisa dinikmati kemegahannya

@@@@@

Mengenai museum, aku sedikit kecewa karena dari 5 museum yang ada di persekitaran Kawasan Kota Tua, hanya 3 museum saja yang berhasil aku tengok keberadaannya, yaitu :

1. Museum Wayang :

Terletak di Komplek Taman Fatahillah. Masuk ke museum ini dikenakan bayaran tiket seharga Rp. 5000,-. Didalamnya dipamerkan berbagai macam jenis wayang, mulai dari yang klasik sampai dengan modern. Aku pribadi sebenarnya tidak memiliki ketertarikan  dengan hal ini. Tapi demi memuaskan keinginan hati untuk mengetahui koleksi yang ada, maka aku merambah sampai ke ruangan atas. Di ruangan ini, suasananya sepi dan terkesan angker sehingga aku tidak terlalu berlama-lama.

2013-10-09 14.03.51
Wajah bangunan Museum Wayang secara keseluruhan
2013-10-09 14.04.30
Berfoto dibagian luar dari Museum Wayang
2013-10-09 14.05.46
Wayang dengan pakaian tradisional Indonesia
2013-10-09 14.06.15
Wayang dengan aksesoris tradisional yang cantik
2013-10-09 14.06.24
Suasana bagian dalam dari Museum Wayang
2013-10-09 14.07.04
Taman cantik di salah satu sudut dari Museum Wayang
2013-10-09 14.07.18
Salah satu prasasti yang ada di Museum Wayang. Entahlah isinya apa
2013-10-09 14.07.46
Berfoto dengan latar belakang prasasti
2013-10-09 14.08.33
Wayang dengan pakaian ala kompeni
2013-10-09 14.09.44
Interior bagian dalam dari Museum Wayang
2013-10-09 14.10.14
Gamelan dan gong yang biasanya mengiringi dalam pertunjukan wayang

2. Museum Seni Rupa dan Keramik :

Sama halnya dengan Museum Wayang, maka masuk ke museum ini pun dikenakan pula tiket masuk yang tarifnya tidak berbeda. Tentu mendengar namanya saja, pengunjung telah dapat menebak bahwa yang dipamerkan di museum ini adalah lukisan-lukisan dan keramik. Jika dibandingkan dengan Museum Wayang, maka aku sepertinya lebih tertarik dengan Museum Seni Rupa dan Keramik dikarenakan koleksi-koleksi lukisannya yang unik dengan berbagai macam aliran. Tetapi tetap saja aku tidak berlama-lama disini karena suasananya yang lagi-lagi sama, yaitu sunyi dan sepi. Tetapi, sebelum beranjak pergi, ada satu ruangan dari tempat ini yang dijadikan semacam display  sebuah karya seni yang bercorak kontemporer sehingga ruangan tersebut dinamakan Museum Kontemporer. Nah, aku sempat berfoto pada sebuah obyek unik di Museum Kontemporer ini dengan meminta bantuan pengunjung lain untuk memfotoku. Syukurlah berhasil diabadikan karena pada beberapa saat kemudian takkala ada juga yang ingin berfoto di obyek tersebut, eh malah ketahuan petugas dan disuruh untuk pergi.

2013-10-09 14.18.10
Pemandangan dari bagian luar Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.30.58
Pemandangan dari bagian luar Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.31.37
Berfoto dengan latar pemandangan dari bagian luar Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.34.32
Suasana bagian dalam dari Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.34.48
Suasana bagian dalam dari Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.35.14
Lukisan-lukisan dengan tokoh-tokoh orang belanda tempo doeloe
2013-10-09 14.36.08
Suasana bagian dalam dari Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.36.16
Suasana lantai 2 dari Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.36.58
Lukisan yang sepertinya menonjolkan unsur hindu india
2013-10-09 14.38.11
Suasana bagian dalam dari Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.38.58
Keramik-keramik kuno yang mungkin sisa peninggalan jaman kerajaan
2013-10-09 14.39.30
Di salah satu sudut dari Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.40.35
Di bagian pintu masuk dari Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.41.20
Berpose di Museum Kontemporer
2013-10-09 14.42.02
Penampakan dari Museum Kontemporer
2013-10-09 14.42.12
Penampakan dari Museum Kontemporer

3. Museum Bank Mandiri

Museum Bank Mandiri berada pada bagian luar dari Komplek Taman Fatahillah. Tapi letaknya masih berdekatan dan paling-paling hanya perlu waktu 5 sd. 10 menit dengan berjalan kaki untuk mencapainya. Masuk ke museum ini tidak dikenakan biaya. Pengunjung hanya perlu mengisi identitas dan setelah itu bisa menjelajah ke segenap penjuru ruangan. Namanya bank, maka yang dipamerkan pastilah segala hal yang berkaitan dengan perbankan, terutama sekali alat-alat atau perkakas bahari yang digunakan saat bertransaksi. Ada juga diorama suasana kegiatan perbankan pada masa lalu. Tidak lupa koleksi uang-uang kuno juga turut dipamerkan. Nah, kebetulan pada saat yang bersamaan, dihalaman tengah dari museum ini yang berfungsi sebagai lapangan, berlangsung acara pertunjukan pentas seni anak-anak SMA/SMK.

2013-10-09 15.29.41
Bagian depan dari Museum Mandiri
2013-10-09 15.27.37
Menyempatkan berfoto di bagian dalam Museum Mandiri
2013-10-09 14.58.24
Suasana dibagian dalam Museum Mandiri
2013-10-09 14.58.37
Suasana dibagian dalam Museum Mandiri
2013-10-09 14.59.19
Alat-alat perbankan yang digunakan dimasa lalu
Kalau tidak salah ini adalah surat-surat berharga, seperti obligasi. saham, dsb
Kalau tidak salah ini adalah surat-surat berharga, seperti obligasi. saham, dsb
Alat-alat yang dipergunakan perbankan dimasa lalu
Alat-alat yang dipergunakan perbankan dimasa lalu
Sejarah mesin potong
Sejarah mesin potong
Buku besar untuk pencatatan transaksi keuangan. Masih manual ditulis dengan tangan
Buku besar untuk pencatatan transaksi keuangan. Masih manual ditulis dengan tangan
Diorama kegiatan petugas perbankan dimasa lalu
Diorama kegiatan petugas perbankan dimasa lalu
Sudut lain dari Museum Mandiri. Banyak lorong dan pintu khas bangunan kolonial
Sudut lain dari Museum Mandiri. Banyak lorong dan pintu khas bangunan kolonial
Uang-uang kuno yang digunakan dimasa lalu
Uang-uang kuno yang digunakan dimasa lalu
Tempat penyimpanan benda-benda berharga
Tempat penyimpanan benda-benda berharga
Dibagian tengan Museum Mandiri ada semacam lapangan yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan
Dibagian tengan Museum Mandiri ada semacam lapangan yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan

Dan 2 museum yang gagal aku kunjungi :

1. Museum Fatahillah (Jl. Taman Fatahillah No 2, Jakarta Barat)

Padahal tujuan utama dari Kunjungan ke Kawasan Kota Tua adalah untuk mengetahui keberadaan museum ini. Aku telah membaca artikel di internet bahwa di Museum Fatahillah merupakan tempat bersemayamnya beragam barang antik, mulai dari furnitur antik zaman Belanda, prasasti dan arca, hingga alat musik Gambang Kromong. Namun beribu sayang, saat kesana, museum ditutup untuk sementara karena adanya renovasi dari tanggal 8 sd. 14 Oktober 2013. Kecewa tentunya. Dan untuk mengobati kekecewaan itu, aku berfoto-foto dengan latar gedung museum tersebut. Pengunjung lainnya pun melakukan hal yang serupa dengan apa yang kulakukan. Entahlah, apakah mereka melakukan kegiatan berfoto-foto itu didasari juga perasaan kecewa karena museum ditutup atau memang dari sananya mereka ingin selalu terlihat narsis dan gaul.

2013-10-09 14.16.32
Tidak berhasil masuk ke Museum Fatahillah, terpaksa berfoto dengan bangunannya saja

2. Museum Bank Indonesia (Jl. Pintu Besar Utara No 3)

Berada di bagian luar dari Komplek Taman Fatahillah dan dapat diempuh dengan berjalan kaki. Dari seberang pintu masuk komplek taman, bangunan Museum Bank Indonesia terlihat sangat elegan. Aku pun tentunya tergoda untuk pergi kesana. Dan dengan penuh perjuangan aku berhasil menyebrang jalan yang padat dengan lalu lalang kendaraan. Tapi saat telah berada di halaman depan gedung tersebut, tiba-tiba aku menjadi bingung. Bingung karena gedung tersebut ternyata menyatu antara Kantor Bank Indonesia dan Museum Bank Indonesia sehingga aku tidak mengerti harus melewati pintu yang mana untuk memasuki area museum. Ditambah lagi tempatnya yang begitu luas dan waktu yang telah sore, makin menyiutkan nyaliku. Jika aku memaksakan masuk dan akhirnya salah menuju, takutnya ada satpam yang mencegat dan menanya ini itu yang pasti akan berujung pada malu.

2013-10-09 14.50.59
Penampakan gedung Museum Bank Indonesia dari luar

@@@@@

Pada akhirnya, aku merasa puas dengan kunjungan ke Kawasan Kota Tua. Melihat secara langsung peradaban masa lampau lewat bangunan-bangunan tua bergaya kolonial. Ini suatu pengalaman berharga bagiku dan akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Dan aku masih berkeinginan suatu saat kelak bisa kembali menginjakkan kaki ke kawasan itu dengan mengunjungi tempat-tempat yang sebelumnya gagal aku tengok isi didalamnya (Museum Fatahillah dan Museum Bank Indonesia) maupun tempat-tempat lain yang karena keterbatasan waktu dan informasi, tidak aku ketahui/kunjungi sama sekali (Pelabuhan Sunda Kelapa, Jembatan Kota Intan, Toko Merah, Museum Bahari, dll).

Dan untuk mengakhiri petualanganku, maka setelah selesai mengunjungi Museum Bank Mandiri, dengan menumpang bajaj dan membayar Rp. 15.000,- aku menuju ke wilayah pecinaan, yaitu Glodok yang terkenal dengan pusat penjualan elektroniknya. Aku penasaran saja seperti apa itu Glodok karena selama ini juga tidak pernah kesana. Paling-paling mendengarnya hanya melalui berita di televisi maupun cerita dari teman-teman. Dengan melihat secara langsung, paling tidak menjadi tahu tentang aktifitas dan suasana dipasar tersebut. Seperti misalnya, para penjual VCD porno yang dengan terang-terangan menawarkan barang dagangan mereka kepada pengunjung (yang baru sepertiku) saat memasuki pintu masuk. Aku hanya tersenyum dan menolak dengan halus. Dan hal-hal semacam itu menjadi semacam pembelajaran bagiku bahwa semakin kita mengenal dunia di luar sana, maka wawasan dan pengetahuan kita juga akan semakin terbuka akan banyak hal. Tinggal bagaimana cara kita menyikapi semua itu dengan bijaksana.

2013-10-09 14.31.09
Taman di persekitaran Museum Seni dan Keramik
2013-10-09 14.44.47
Taman di persekitaran Museum Seni dan Keramik. Bisa terlihat bangunan-bangunan lain disekelilingnya

4 thoughts on “Kawasan Kota Tua Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s