Dilla dan Kereta Dorongnya


2013-11-16 11.39.26Membicarakan tentang Dilla tentu tidak akan ada habisnya. Puteri semata wayangku itu semakin hari semakin menggemaskan saja. Apalagi sekarang ini usianya telah mencapai 6 bulan. Usia yang menurut kacamata penglihatanku, keaktifan Dilla telah lumayan meningkat. Meski tidak terlalu signifikan bila dibandingkan dengan bayi-bayi lainnya yang seusianya, tapi aku bersyukur ada semacam perkembangan. Aku memaklumi hal ini karena Dilla adalah bayi prematur yang rentan dengan kondisi lingkungan yang tidak bersahabat (udara dingin, debu, dan lain sebagainya).

Dalam masa 6 bulan tersebut, banyak hal yang telah terjadi pada Dilla. Ada hal yang menggembirakan, namun juga terkadang ada yang menyedihkan. Aku sendiri merasa sebagai orangtua tidak maksimal dalam menjaga Dilla sehingga kadang Dilla terabaikan. Disaat Dilla butuh perhatian ekstra, aku kelelahan dengan pekerjaan. Disaat Dilla butuh sesuatu/penanganan yang cepat, aku tidak gesit mengurusnya. Tapi percayalah Dillaku sayang, Bapakmu ini akan selalu menyayangimu. Dengan kondisi Bapak yang serba terbatas ini, Bapak akan berusaha menjaga Dilla sebaik mungkin.

2013-11-16 11.38.30
Dilla dan mamanya

Salah satu bentuk kasih sayang Bapak kepada Dilla adalah dengan selalu mencatat perkembangan Dilla dalam blog ini agar Dilla jika telah besar nanti, akan tahu seperti apa keseharian Dilla di masa lalu. Seperti dalam masa 6 bulan ini, Bapak akan menceritakan berbagai hal seputar Dilla, yaitu :

1.Sering Mengalami Sakit Panas dan Demam

Sakit panas dan demam menjadi penyakit yang sering dialami Dilla. Beberapa kali badannya panas dengan suhu yang cukup tinggi. Dan itu benar-benar mengkhawatirkanku. Kalau sudah begitu, Dilla menjadi amat rewel dan sering menangis. Untuk itulah, obat-obatan penurun panas dan demam selalu tersedia di rumah. Tapi itupun tidak menjamin bahwa obat-obatan tersebut mampu menyembuhkan Dilla. Panas badannya tetap saja turun naik. Kalau sudah begitu, terpaksa Dilla dibawa ke bidan untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Tapi tetap saja ada perasaan miris dan tak tega takkala Dilla harus minum obat. Ia harus menelan obat yang mungkin rasanya pahit dan membuatnya ingin memuntahkannya. Belum lagi, obat-obatan tersebut kadang lumayan keras sehingga membuat Dilla terkesan lemas dan bawaannya ingin tidur.

Mudah-mudahan Dilla selalu diberikan kesehatan
Mudah-mudahan Dilla selalu diberikan kesehatan

2. Belajar Tengkurap

Pada usia 4 bulan keatas hingga saat aku menulis cerita ini, Dilla lagi getol-getolnya belajar tengkurap. Tiap malam ia selalu membolak balikkan badannya kekanan dan kekiri. Jika berhasil membalikkan badannya, ia kadang tersenyum. Tapi setelah agak lama, ia merasa kelelahan. Kalau sudah begitu ia akan menangis dan memandangi wajah orangtuanya seakan mengiba untuk minta dibalikkan asal. Tapi setelah itu, ia tidak kapok untuk kembali membalikkan badan. Dan saat tengkurap, posisi tangan Dilla selalu terlipat. Aku terkadang memperbaiki posisi tangannya yang terlipat itu. Dilla juga belum bisa memaju mundurkan badannya saat tengkurap. Mengangkat kepala pun kadang tidak bisa terlalu lama.

2013-11-17 05.36.41 EDIT
Dilla sedang belajar tengkurap

3. Mejeng di Teras Rumah

Kesenangan Dilla dalam beberapa bulan ini adalah digendong dan dibawa duduk-duduk dibagian depan teras rumah orangtuaku sambil melihat kendaraan-kendaraan yang bersileweran. Kalau sudah begitu, Dilla merasa senang dan bisa betah berjam-jam mejeng disana. Tapi saat mejeng tersebut, kekhawatiranku timbul karena udara diluar yang dingin dan banyak sekali debu yang beterbangan. Namun tetap saja kami sering membawa Dilla untuk kembali mejeng diluar karena itu menjadi semacam senjata ampuh guna meredakan kerewelan Dilla.

Dilla bersama nenek di teras rumah
Dilla bersama nenek di teras rumah

4. Kereta Dorong

Dilla sekarang punya kereta dorong lho. Dibelikan pada tanggal 2 November 2013 lalu. Ya, mungkin karena efek kesenangan Dilla yang suka mejeng di luar, maka untuk mengakomodirnya dibelikanlah kereta dorong. Tentu saja Dilla senang sekali diajak jalan-jalan menggunakan kereta dorong tersebut. Biasanya sih saat pagi hari tantenya akan mengajaknya berkeliling di seputaran komplek rumah. Dilla biasanya diam dan sepertinya sih menikmati acara jalan-jalan dengan kereta dorongnya yang berwana biru hitam tersebut.

Dilla dan kereta dorong
Dilla dan kereta dorong
Dilla gembira diajak berkeliling dengan kereta dorong
Dilla gembira diajak berkeliling dengan kereta dorong

5. Dititipin di Rumah Nenek

Berhubung aku dan isteri bekerja, maka saat cuti persalinan isteri telah selesai, maka mau tidak mau Dilla harus dititipkan. Yang terpikir saat itu adalah Dilla harus dititipkan ke rumah orangtuaku karena merekalah yang benar-benar dapat kupercayai untuk hal tersebut. Belum lagi yang menjadi pertimbangan adalah biaya. Kalau dititipkan dengan neneknya, maka biaya tersebut bisa kurang lebih. Meski sebenarnya mereka tidak meminta, tapi sebagai orangtua, kami haruslah tahu diri. Rasanya kok kebangetan ya kalau kami selaku orangtua tidak memberikan imbalan apapun kepada keluarga yang telah merawat Dilla. Kami menyadari bahwa itupun tidak cukup. Tapi mau bagaimana lagi? Keuangan kami pun untuk saat ini masih pas-pasan. Mudah-mudahan kedepannya kami bisa memberi lebih kepada mereka.

Dilla sering dibilang sebagai anak nenek
Dilla sering dibilang sebagai anak nenek
Kesibukan dipagi hari salah 1 nya mengantarkan ayunan listrik ke rumah nenek
Kesibukan dipagi hari salah 1 nya mengantarkan ayunan listrik ke rumah nenek

Oh ya, dengan dititipkan kepada nenek dan tante-tantenya, otomatis Dilla sepertinya lebih rekat dengan mereka ketimbang orangtuanya sendiri. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Dilla adalah anaknya nenek. Kami tersenyum saja mendengarnya. Mungkin itu resiko yang harus kami tanggung karena kesibukan bekerja tersebut. Tapi tidak apa-apa. Asalkan Dilla bahagia, maka kami juga bahagia. Yang pasti, dengan dititipkan kepada neneknya, maka pagi hari merupakan hal tersibuk yang harus aku lakukan. Aku harus mempersiapkan susu, mesin ayunan elektrik, dan tetek bengek lainnya untuk diantar ke rumah nenek. Pun begitu saat sore hari selepas pulang dari kantor, disibukkan lagi dengan kegiatan serupa untuk membawa balik semua peralatan tersebut ke rumah kontrakan.

6.Minta Diambilin

Semenjak dititipkan ke rumah nenek, Dilla mulai familiar dengan wajah-wajah om dan tantenya yang sering bergantian menggendong Dilla. Akibatnya Dilla merasa kesenangan apabila ada yang mengambilinya. Saat om dan tantenya menjulurkan tangan, Dilla bereaksi dengan menaikkan posisi badannya agar ada yang mengangkatnya. Mimik wajahnya juga makin menggebu-gebu untuk minta segera diangkat dan dibawa berjalan-jalan keluar.

Dilla tampak senang apabila ada yang mengambili dan menggendongnya
Dilla tampak senang apabila ada yang mengambili dan menggendongnya

7. Susu dan Makanan

2013-11-22 18.07.22Saat Dilla berusia 4 bulan keatas, nenek dan tante-tantenya telah memberikan makanan tambahan selain susu kepada Dilla. Makanan itu berupa Bubur SUN Beras Merah yang diberikan saat pagi hari sebelum mandi. Sebenarnya aku merasa khawatir dengan pemberian makanan tambahan tersebut mengingat dari beberapa literatur yang kubaca diinternet dijelaskan bahwa sebaiknya bayi baru bisa diberikan makanan tambahan saat usianya telah mencapai 6 bulan keatas karena pada usia tersebut maka lambungnya telah mampu mencerna makanan dengan baik. Tapi aku tidak protes karena aku percaya bahwa pengalaman orangtua jaman dulu dalam memberikan makanan kepada bayi pasti sudah teruji. Dan semenjak makan bubur tersebut, BAB Dilla mulai berbau seperti orang dewasa.

Dilla sedang minum susu
Dilla sedang minum susu

Sementara untuk susu, yang tadinya Dilla mengkonsumsi Susu SGM, maka kami ganti dengan Susu Morinaga. Tapi sepertinya tidak cocok karena timbul bintik-bintik di pipi dan badan Dilla. Aku menyimpulkan bahwa Dilla sepertinya mengalami alergi susu sapi. Oleh karena itu, kami lalu mencoba alternatif lain, yaitu Susu Nutrilon Baby Soya (susu kedelai). Dan sampai sejauh ini, sepertinya Dilla cocok dan tidak bermasalah. Tapi harganya lumayah mahal. Sekotak kecil yang ukuran 400 gram saja harganya mencapai Rp. 86.000,-

8. Sering Ditinggal

Pekerjaan kantor terkadang mengharuskan aku dan isteri Dinas Luar (DL). Akibatnya Dilla sering ditinggal pergi bapak dan mamanya ke luar kota. Kalau sudah begitu, lagi-lagi Dilla dititipkan kembali ke neneknya. Kadang kasihan melihat Dilla yang sering ditinggal pergi. Dan itu menjadi dilema bagi kami selaku orangtuanya. Seakan-akan kami menelantarkan Dilla dan menjadi orangtua yang tidak bertanggung jawab. Untuk mensiasatinya, maka sebisa mungkin, aku dan isteri tidak DL bersamaan. Paling tidak ada salah seorang dari kami yang tetap menjaga Dilla saat yang lain sedang DL.

Dilla bersama bapak di taman seberang rumah
Dilla bersama bapak di taman seberang rumah

9. Mainan

Meski usia Dilla baru menginjak 6 bulan, tapi mainannya sudah lumayan banyak. Mamanya yang paling hobi membelikan berbagai macam jenis mainan. Mulai dari mainan yang sifatnya hanya hiburan semata sampai mainan yang dipercaya bisa merangsang pertumbuhan kecerdasan otak. Aku sebenarnya tidak terlalu mendukung pembelian mainan yang banyak tersebut mengingat Dilla yang masih kecil pastilah belum terlalu mengerti. Menurutku, kalau usia Dilla telah mencapai 1 tahun keatas, maka rasanya sah-sah saja jika ingin memanjakannya dengan berbagai macam jenis mainan. Untuk sekarang ini aku merasa lebih baik uang yang didapat ditabung saja untuk keperluan Dilla yang lain. Mana tahu tiba-tiba Dilla sakit dan memerlukan ongkos yang banyak untuk perawatan, maka uang yang ditabung akan sangat berguna ketimbang membeli banyak mainan.

Dilla dan mainannya yang bisa mengeluarkan bunyi dan cahaya
Dilla dengan salah 1 mainannya yang bisa mengeluarkan bunyi dan cahaya

10. Berenang

Dari awal-awal Dilla lahir, saat dimandikan Dilla tampak bersemangat. Sepertinya ia menyukai aktifitas berbasah-basahan dengan air. Dan itu memang terbukti saat Dilla diajak oleh mamanya berenang di Klinik Harmoni, Jembatan Baru pada hari Sabtu, 16 November 2013 yang lalu. Ia begitu menikmati kegiatan tersebut. Tidak terlihat raut ketakutan diwajahnya saat badannya dicemplungkan di kolam air dengan menggunakan ban. Ia malah antusias dan sepertinya ketagihan. Apalagi dengan tarif Rp. 100 ribu selama 30 menit adalah tergolong sedang. Tentu sebagai orangtuanya jika ada rezeki lebih lagi akan kami usahakan agar Dilla suatu hari nanti bisa kembali mendapatkan perawatan spa serupa, yang meliputi berenang selama 15 menit dan dilanjutkan pijatan selama 15 menit.

Dilla asyik berenang
Dilla asyik berenang
Dilla aktraktif saat berenang
Dilla aktraktif saat berenang

Dan berikut ini adalah cuplikan video saat Dilla kembali diajak berenang oleh mamanya pada hari Sabtu, 30 November 2013 :

2 thoughts on “Dilla dan Kereta Dorongnya

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, Ifan Jayadi….

    Senang membaca kisah Dilla yang semakin membesar dan ditatang penuh kasih sayang oleh orang tua dan neneknya. Semoga siraman kasih sayang itu akan membuahkan keberkatan dalam hidup Dilla untuk menjadi anak yang solehah dan terpimpin akhlaknya di masa depan.

    Suka sekali melihat Dilla berenang, sangat comel/kiut dan tentu meriah suasananya.
    Salam sejahtera dan semoga berbahagia selalu dari Sarikei, Sarawak.ūüėÄ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s