Museum Nasional Jakarta


2013-11-08 09.45.57

Saat ke Kota Jakarta lagi pada tanggal 8 sd. 10 November 2013, aku telah merencanakan untuk mengunjungi beberapa tempat yang sekiranya mudah kujangkau dari tempat aku menginap di Puri Inn, Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Aku lalu browsing diinternet dan menemukan 2 tempat yang sepertinya seru untuk dijelajahi dan dekat dari penginapan, yaitu : (1) Taman Ismail Marzuki dan Planetarium Jakarta, serta (2) Museum Pahlawan.

2013-11-08 09.46.30
Karena ada patung gajah, maka Museum Nasional kadang dikenal juga dengan nama Museum Gajah

Di Toko Merah, masih di sekitaran Kawasan Kota Tua, Jakarta
Di Toko Merah, masih di sekitaran Kawasan Kota Tua, Jakarta

Kebetulan sekali isteriku juga sedang dinas luar ke Jakarta sehingga kami bersepakat untuk bersama-sama menjelajahi tempat-tempat tersebut selepas urusan pekerjaan selesai. Rencananya sih kami akan pergi kesana pada hari kedua. Tetapi pada saat yang sama ada teman yang mengajak untuk mengunjungi Pasar Asemka yang menjual berbagai macam aksesoris dan mainan anak-anak. Pikir kami, pasar tersebut mungkin jaraknya dekat saja dari tempat kami berada saat itu (Jakarta Pusat). Kenyataannya lumayan jauh karena terletak di kolong jembatan layang Jembatan Lima, Tambora-Jakarta Barat. Apalagi diperparah dengan kemacetan membuat perjalanan pulang menjadi sangat lama. Akhirnya rencana awal yang telah dibuat menjadi berantakan. Untuk mengurangi rasa kecewa, kami singgah sebentar ke Kawasan Kota Tua, tepatnya di depan Toko Merah yang arsitektur bangunannya sangat cantik. Disana, kami tidak masuk kedalam tetapi hanya numpang berfoto saja.

Di Planetarium, Komplek Taman smail Marzuki, Jakarta
Di Planetarium, Komplek Taman Ismail Marzuki, Jakarta

2013-11-08 08.29.26Nah, tepatnya pada hari ketiga, Jumat, 10 November 2013, saat suasana masih pagi buta, aku dan isteri dengan menggunakan jasa transportasi bajaj meluncur menuju ke lokasi pertama yang menjadi tujuan, yaitu Taman Ismail Marzuki dan Planetarium Jakarta. Sesampainya disana, kami kecewa. Planetarium yang biasa memutarkan pertunjukan alam dan tata surya tersebut tidak bisa dipertontonkan pada hari itu disebabkan proyektornya yang mengalami kerusakan dan masih diperbaiki. Menurut petugasnya, kemungkinan baru pada Bulan Desember 2013, Planetarium bisa kembali beroperasi. Padahal diri ini berhasrat sekali untuk menyaksikannya dengan bela-belain datang lebih awal demi mendapatkan tiket masuk mengingat (dari yang kubaca diinternet) pertunjukan tersebut hanya berlangsung 3 kali dalam sehari. Itupun juga kadang harus berebut antrian dengan rombongan lain yang kebanyakan didominasi oleh anak-anak sekolahan. Akhirnya, untuk meredakan kekecewaan yang kesekian kalinya, aku dan isteri kembali lagi berfoto-foto saja dibagian luar dari planetarium tersebut.

2013-11-08 08.47.07Gagal menonton pertunjukan di planetarium, aku tadinya hendak mencoba peruntungan dengan berencana pergi ke Museum Joang 45. Tetapi isteriku malah merengek untuk pergi ke Monas saja karena ia belum pernah masuk ke komplek tersebut. Padahal sudah sering kali ia ke Jakarta tetapi tidak pernah menyempatkan secara khusus untuk masuk ke dalam dan paling-paling hanya melihat rupa si Monas dari kejauhan saja saat melintas. Kalau aku sih sebenarnya agak malas untuk kesana mengingat telah pernah menginjakkan kaki dan masuk langsung sampai ke bagian puncak dari monumen tersebut sehingga melihat dengan jelas rupa wajah Kota Jakarta dari ketinggiannya.

2013-11-08 08.47.40Saat tiba di kawasan Monas, ternyata sedang ada perayaan Hari Olahraga Nasional. Pantas saja banyak orang-orang yang menggunakan seragam olahraga dan sibuk latihan senam kesegaran jasmani. Kegiatan mereka tersebut membuat kawasan monas terlihat agak ramai dari biasanya. Tetapi itu bukan menjadi masalah buat kami. Masalah yang sebenarnya adalah adanya kegiatan renovasi taman yang tengah berlangsung pada halaman depan dari Monas. Hal ini tentu membuat kami ragu untuk masuk ke dalamnya dan bertanya-tanya dalam hati apakah monas pada hari itu ditutup untuk masyarakat umum. Akhirnya karena tidak mendapatkan jawaban karena malas untuk bertanya, kami putuskan untuk berkeliling-keliling saja di seputaran Monas sambil berfoto-foto dengan latar yang ada disekelilingnya.

Karya seni yang unik dan bercita rasa tinggi
Karya seni yang unik dan bercita rasa tinggi
Tidak kuasa berpose dengan karya seni yang unik tersebut
Tidak kuasa berpose dengan karya seni yang unik tersebut
Ini mungkin semboyan dari Museum Nasional
Ini mungkin semboyan dari Museum Nasional
Penampakan gedung dari halaman luar
Penampakan gedung dari halaman luar

Meninggalkan Monas, kami bertekad mengunjungi Museum Nasional (hasil dari browsing diinternet) yang beralamat di Jalan Merdeka Barat No 12, Jakarta Pusat. Jatuhnya pilihan ke Museum Nasional disebabkan karena kami berasumsi tempat tersebut pasti dekat dan hanya berjarak beberapa meter dengan kawasan Monas. Asumsi tersebut bukan hanya tebakan semata tetapi lebih didasarkan pada beberapa plang nama jalan yang sempat kami baca di Kawasan Monas yang tertera Jalan Medan Merdeka Timur dan Jalan Merdeka Selatan sehingga kami menyimpulkan bahwa Jalan Merdeka Barat tidak jauh dari situ. Tetapi mengingat Kawasan Monas yang begitu luas, akhirnya memaksa kami untuk tetap menggunakan transportasi menuju ke lokasi, dan lagi-lagi bajaj menjadi pilihannya. Maksud hati dengan naik bajaj supaya tidak merasa kelelahan. Namun apes, bajaj yang membawa kami tersebut ternyata hanya berputar-putar saja dan ujung-ujungnya kembali lagi ke Monas. Kami kesal tentunya. Selidik demi selidik ketahuan bahwa kendaraan bajaj sebenarnya dilarang melintas di daerah persekitaran Jalan Merdeka Barat yang merupakan area steril karena pada kawasan tersebut terdapat markas Sekretariat Kabinet. Kalau tahu begitu, si supir bajaj harusnya memberitahu kami tentang hal tersebut. Bukannya malah mengambil keuntungan dari orang-orang seperti kami yang masih awam terhadap Jakarta. Tapi ya sudahlah. Ketimbang berdebat panjang lebar, kami teruskan saja perjalanan ini dengan berjalan kaki. Awalnya sempat bingung juga mencari keberadaan dari Museum Nasional, tapi syukurlah akhirnya bisa menemukannya setelah sebelumnya bertanya dengan beberapa orang yang kami temui di jalan. Sesampainya disana, kami terlebih dahulu mencari penjual makanan untuk mengisi perut yang telah lapar akibat kelelahan berkeliling-keliling di Monas. Kebetulan ada penjual lontong sayur yang mangkal disekitar museum, maka jadilah ia menu sarapan kami pagi itu.

Berpose dengan latar huruf-huruf Monumen Nasional
Berpose dengan latar huruf-huruf Monumen Nasional
Berpose dengan latar patung gajah
Berpose dengan latar patung gajah
Harus tetap mengabadikan diri dalam kenangan foto
Harus tetap mengabadikan diri dalam kenangan foto

Di Museum Nasional, telah banyak rombongan anak-anak sekolah dasar yang mengadakan kunjungan kesana. Tampak anak-anak tersebut sibuk berfoto-foto di halaman depan museum dengan  berbagai latar yang ada sebelum akhirnya disuruh masuk kedalam atas instruksi dari guru mereka. Tentu, tidak ingin kalah dengan apa yang dilakukan anak-anak itu, kami pun melakukan hal yang sama. Bergantian dengan isteri, kami saling mengabadikan gambar diri masing-masing dengan obyek-obyek yang ada disana. Terutama sekali dengan obyek patung gajah yang begitu menonjol keberadaannya dan menjadi ikon dari museum ini sehingga tidak mengherankan jika Museum Nasional juga lebih dikenal dengan nama Museum Gajah.

Tiket masuk
Tiket masuk

Puas berfoto, kami lalu menuju pintu utama museum dan membeli terlebih dahulu tiket masuk seharga 5 ribu rupiah. Harga segitu menurutku murah sekali dan kalau dipikir-pikir rasanya tidak sebanding dengan pengetahuan yang akan kita perolehi. Kalaupun harga tiket masuk misalkan dinaikkan menjadi 50 ribu rupiah, aku pribadi tidak keberatan untuk membayarnya mengingat mendapatkan pengetahuan sejarah dengan melihat langsung benda-benda/koleksi yang dipamerkan merupakan pengalaman yang berharga ketimbang hanya mengkhayalkannya dengan membaca buku pelajaran sejarah saat bersekolah dulu.

Gedungnya banyak pilar-pilar yang mengingatkan dengan bangunan romawi
Gedungnya banyak pilar-pilar yang mengingatkan dengan bangunan bergaya romawi
Penampakan gedung Museum Nasional dari Samping
Penampakan gedung Museum Nasional dari samping

Nah, Museum Nasional ini dibagi menjadi 2 gedung, yaitu :

(1). Gedung Gajah, yang meliputi ruang : Ruang Pameran Koleksi Sejarah (Historic Collections), Ruang Pameran Koleksi Etnografi (Ethnography Collections), Ruang Pameran Koleksi Geografi (Geography Collections), Ruang Pameran Koleksi Prasejarah (Prehisictoric Collections), Ruang Pameran Koleksi Arkeologi (Archaeology Collections), Ruang Pameran Koleksi Numismatik/Heraldik & Keramik Asing (Numismatic/Heraldic & Ceramic Collection).

Halaman depan sebelum memasuki galeri-galeri di Gedung Gajah
Halaman depan sebelum memasuki galeri-galeri di Gedung Gajah

(2). Gedung Arca, yang meliputi ruang lantai : Lantai 1 – Manusia dan Lingkungan ( The first floor is the Nature and Environment); Lantai 2 – Ilmu Pengetahuan, Ekonomi dan Teknologi (Second floor for economic and trade); Lantai 3 – Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman (Third floor is the social organization); Lantai 4 – Koleksi Emas dan Keramik Asing (Fourth floor is the Regalia/The Gold Objects and Ceramics).

Ruangan yang harus dilewati sebelum memasuki Gedung Arca. Pintu-pintu kaca yang transparan memanjakan mata untuk melihat pemandangan diluar gedung.
Ruangan yang harus dilewati sebelum memasuki Gedung Arca. Pintu-pintu kaca yang transparan memungkinkan setiap orang untuk berfoto dengan latar karya seni yang cantik dibelakangnya

@@@@@

Beberapa koleksi museum pada Gedung Gajah yang sempat aku foto untuk bahan dokumentasi pribadiku, antara lain :

-Arca-Arca / Patung-Patung Peninggalan Kerajaan Hindu dan Buddha

Koleksi arca dan patung di Museum Nasional umumnya berasal dari jaman peninggalan Kerajaan Hindu dan Buddha. Bisa jadi karena Agama Hindu dan Buddha pada waktu itu adalah agama resmi yang dipeluk oleh raja dan para rakyatnya. Kebanyakannya berupa wujud manusia, binatang, peralatan rumah tangga dan peralatan upacara keagamaan. Antara lain yang sempat kusaksikan adalah patung Ganesha (dewa dalam mitologi hindu india yang digambarkan memiliki badan manusia dan berkepala gajah), patung Sang Sidharta Buddha Gautama dan yang paling mendominasi adalah patung/arca raja dan ratu dari jaman Kerajaan Hindu.

Arca raja dan ratu kerajaan hindu
Arca raja dan ratu kerajaan hindu
Pakaian yang digunakan para raja dan ratu digambarkan dengan detail yang unik
Pakaian yang digunakan para raja dan ratu digambarkan dengan detail yang unik

Sesuatu yang membuatku tertanya-tanya didalam hati adalah mengenai arca raja dan ratu jaman kerajaan hindu yang dipahat membentuk relief dengan penampakan seluruh badannya digambarkan mengenakan pakaian beserta aksesoris dan mahkota yang begitu detail dan tidak lazim digunakan di jaman sekarang ini. Persis sama dengan apa yang digambarkan saat menonton sinetron Tutur Tinular yang bersetting jaman Kerajaan Majapahit.

Kalau memang benar demikian sebagaimana yang persis divisualisasikan dalam sinetron, tentu sesuatu yang menakjubkan mengingat rasanya industri fashion saat itu tidaklah mungkin semaju sekarang. Tapi apa sih didunia ini yang tidak mungkin. Jika fakta membuktikan hal itu benar, tentu luar biasa sekali peradaban yang telah mereka capai sehingga mampu membuat produk (pakaian dan aksesoris) yang bernilai seni tinggi.

Berfoto dengan salah 1 arca ratu
Berfoto dengan salah 1 arca ratu
Arca berbentuk binatang dan benda-benda yang mungkin untuk kegiatan upacara agama
Arca berbentuk binatang dan benda-benda yang mungkin untuk kegiatan upacara agama

-Prasasti Yupa

2013-11-08 09.57.28

Salah 1 prasasti yang dipamerkan adalah Prasasti Yupa yang berasal dari Kerajaan Mulawarman, Kutai kartanegara pada abad ke 7 SM. Prasati ini mengisahkan tentang Raja Mulawarman yang memberikan sumbangan kepada para kaum Brahmana berupa hewan sapi dalam jumlah yang banyak.

Prasasti Yupa pada jaman Kerajaan Mulawarman
Prasasti Yupa pada jaman Kerajaan Mulawarman

-Koleksi Perahu

Dari keterangan yang tertera diketahui bahwa perahu yang bentuknya seperti sampan ini merupakan alat transportasi utama yang lazim digunakan oleh suku-suku di papua pada jaman dulu, baik sebagai sarana untuk mencari hasil laut maupun sebagai penghubung untuk mencapai pulau-pulau sekitarnya.

Perahu yang biasa digunakan masyarakat pedalaman papua
Perahu yang biasa digunakan masyarakat pedalaman Papua
Bentuk bagian dalam dari perahu masyarakat pedalaman Papua
Bentuk bagian dalam dari perahu masyarakat pedalaman Papua

-Koleksi Rumah Adat

Dipamerkan miniatur rumah-rumah adat dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Bentuk arsitekturnya unik-unik dan umumnya terbuat dari bahan kayu dan atapnya dari dauh rumbia. Kebanyakan berkonsep rumah panggung.

Miniatur rumah adat daerah-daerah di Indonesia
Miniatur rumah adat daerah-daerah di Indonesia
Miniatur rumah lamin khas Kalimantan
Miniatur rumah lamin khas Kalimantan

-Koleksi Keramik-Keramik Kuno

Keramik-keramik kuno ini diperolehi dari hasil perdagangan dengan negara tetangga maupun hasil dari harta karun kapal yang tenggelam berabad-abad lalu. Kebanyakan berasal dari Negara China, dijaman para dinasti-dinasti, sebut saja salah satunya adalah jaman Dinasti Ming. Tetapi ada pula yang berasal dari negara Thailand, Vietnam dan Jepang. Keramik-keramik tersebut antara lain berupa piring, mangkok, kendi dan lain sebagainya. Bentuk dan warnanya cantik-cantik. Ukurannya dari yang terkecil hingga ada yang menyerupai pot bunga yang besar.

Keramik-keramik kuno yang memiliki nilai histori yang tinggi
Keramik-keramik kuno yang memiliki nilai histori yang tinggi
Keramik-keramik berbagai negara dipamerkan di Museum Nasional
Keramik-keramik kuno berbagai negara dipamerkan di Museum Nasional
Berbagai macam keramik dengan berbagai ukuran, mulai dari piring, mangkok, vas bunga dan lain-lain
Berbagai macam keramik dengan berbagai ukuran, mulai dari piring, mangkok, vas bunga dan lain-lain
Keramik dari China yang dipamerkan
Keramik dari China yang dipamerkan
Keramik dengan berbagai macam paduan warna yang menarik
Keramik dengan berbagai macam paduan warna yang menarik
Perdagangan keramik telah dimulai pada masa dinasti china
Perdagangan keramik telah dimulai pada masa dinasti china

-Koleksi Patung Nenek Moyang, Senjata Adat, Alat Musik, Alat Rumah Tangga

Berikut ini adalah beberapa foto penampakannya :

Patung nenk moyang
Patung nenek moyang
Mandau, senjata khas dari Suku Dayak Kalimantan
Mandau, senjata khas dari Suku Dayak Kalimantan
Alat musik tradisional Indonesia
Alat musik tradisional Indonesia
Alat musik gong yang ukurannya besar sekali
Alat musik gong yang ukurannya besar sekali
Perak Riau, sebagai salah 1 perkakas rumah tangga yang sudah sejak dulu digunakan
Perak Riau, sebagai salah 1 perkakas rumah tangga yang sudah sejak dulu digunakan

Sementara pada Gedung Arca, koleksi-koleksi yang ada dipisah-pisah berdasarkan perlantai mengikut periode perkembangan/waktu peradaban. Apabila pengunjung ingin naik ke lantai diatasnya, tidak perlu bersusah-susah menggunakan tangga manual/darurat karena fasilitas lift telah tersedia disetiap lantai. Deskripsi tiap lantai adalah sebagai berikut :

Lantai 1 – Manusia dan Lingkungan ( The first floor is the Nature and Environment)

Pada lantai ini, koleksi yang dipamerkan antara lain berupa fosil-fosil jaman prasejarah dan kehidupan keseharian manusia purba yang masih sangat primitif.

Lantai 1 – Manusia dan Lingkungan
Lantai 1 – Manusia dan Lingkungan
Fosil kuda nil dah gajah purba
Fosil kuda nil dah gajah purba
Fosil gading gajah masa prasejarah dulu
Fosil gading gajah masa prasejarah dulu
Penggambaran dari manusia purba
Penggambaran dari manusia purba
Diorama kehidupan manusia purba
Diorama kehidupan manusia purba

Lantai 2 – Ilmu Pengetahuan, Ekonomi dan Teknologi (Second floor for economic and trade)

Pada lantai ini, koleksi yang dipamerkan antara lain berupa prasasti dari beberapa periode kerajaan, keramik, alat navigasi saat berlayar, alat berburu dan memotong, alat transportasi sepeda dan kapal serta koleksi lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Lantai 2 – Ilmu Pengetahuan, Ekonomi dan Teknologi
Lantai 2 – Ilmu Pengetahuan, Ekonomi dan Teknologi
Berbagai macam prasasti yang dipamerkan
Berbagai macam prasasti yang dipamerkan
Koleksi-koleksi yang dipamerkan
Koleksi-koleksi yang dipamerkan
Alat yang digunakan untuk kepentingan astronomi dan navigasi jaman dulu masih sangat sederhana
Alat yang digunakan untuk kepentingan astronomi dan navigasi jaman dulu masih sangat sederhana
Koleksi-koleksi yang dipamerkan pada lantai 2
Koleksi-koleksi yang dipamerkan pada lantai 2
Sepeda roda tiga ini  unik dan lucu ya untuk ukuran orang jaman sekarang
Sepeda roda tiga ini unik dan lucu ya untuk ukuran orang jaman sekarang
Kalau tidak salah, alat-alat ini dignakan untuk mengupas makanan pada jaman manusia purba
Kalau tidak salah, alat-alat ini digunakan untuk mengupas makanan pada jaman manusia purba

Lantai 3 – Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman (Third floor is the social organization)

Pada lantai ini, koleksi yang dipamerkan antara lain berupa menhir, nekara, rumah adat, sisir, prasasti, mahkota kerajaan, alat penangkap ikan dan koleksi-koleksi lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Lantai 3 – Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman
Lantai 3 – Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman
Nekara yang terbuat dari perunggu berasal dari  P. Sangeang, NTB. Digunakan sbg alat komunikasi, status sosial, wadah kubur, atau sebagai benda upacara untuk memanggil hujan
Nekara yang terbuat dari perunggu berasal dari P. Sangeang, NTB. Digunakan sbg alat komunikasi, status sosial, wadah kubur, atau sebagai benda upacara untuk memanggil hujan
Mahkota, sisir, kalung, dan gelang yang dipamerkan
Mahkota, sisir, kalung, dan gelang yang dipamerkan
Prasasti Tugu pada masa  Kerajaan Tarumanegara dan diperkirakan ada pada pertengahan abad ke-5 M
Prasasti Tugu pada masa Kerajaan Tarumanegara & diperkirakan ada pada pertengahan abad ke-5 Masehi
Koleksi yang dipamerkan antik dan unik
Koleksi yang dipamerkan antik dan unik
Alat-alat tradisional untuk menangkap ikan
Alat-alat tradisional untuk menangkap ikan
Meja dan kursi antik yang begitu cantik
Meja dan kursi antik yang begitu cantik

Lantai 4 – Koleksi Emas dan Keramik Asing (Fourth floor is the Regalia/The Gold Objects and Ceramics)

Sayangnya saat menuju ke lantai ini, tertera pengumuman yang menyatakan bahwa untuk sementara waktu belum bisa dikunjungi karena sedang ada renovasi. Jika kuperhatikan, di lantai ini penjagaannya ketat. Mungkin karena koleksinya adalah berupa emas dan keramik asing sehingga perlu pengawasan yang ekstra agar tidak terjadinya pencurian atau pembobolan. Aku bisa memakluminya mengingat sering menonton berita di televisi mengenai maraknya aksi pencurian benda-benda bersejarah/purbakala untuk diselundupkan di pasar luar negeri yang apabila berhasil dijual harganya akan sangat mahal atau mungkin juga untuk dikoleksi secara pribadi sebagai benda yang dikeramakan atau dijadikan azimat. Wallahualam.

@@@@@

Denah Museum Nasional
Denah Museum Nasional

Kami (aku dan isteri) sangat antusias berkeliling-keliling didalam museum dan tidak melewatkan sejengkal ruangan/lantai pun untuk melihat koleksi-koleksi yang ada. Dari hasil penelusuran tersebut, kami berdecak kagum dan menyadari bahwa sejarah dan kekayaan budaya Indonesia itu sungguh luar biasa. Banyak artefak dan benda-benda kuno yang ditemukan yang akhirnya mampu menyingkap peradaban kehidupan masa silam yang dulunya mungkin masih menjadi misteri. Dan tentu saja aku termasuk salah 1 yang beruntung bisa menyaksikan sendiri sisa-sisa peninggalan tersebut meski hanya berupa arca, artefak dan benda-benda kuno lainnya.

Denah Museum Nasional
Denah Museum Nasional

Akhirnya, rasa lelah karena harus berkeliling di Museum Nasional yang luasnya lumayan dan bisa membuat kaki pegal, terbayarkan sudah dengan rasa senang yang tak terhingga berupa mendapatkannya pengalaman dan pengetahuan yang berharga perihal sejarah di masa lalu.

Dan untuk melengkapi penjelajahan tersebut, kami sempat mengunjungi Art Shop yang terletak di lantai 1. Di Art Shop tersebut menjual berbagai macam suvenir, antara lain : baju, gantungan kunci, mug dan benda-benda lainnya yang bertuliskan kalimat Museum Nasional dan bla bla blanya. Dijual juga buku-buku sejarah Indonesia dan buku-buku panduan wisata Kota Jakarta (termasuk salah satunya buku panduan tentang Museum Nasional) dari beberapa penulis. Disana, kami hanya melihat sebentar tanpa membeli apapun. Ya, sekedar ingin tahu saja dan selanjutnya melangkah pergi menuju pintu keluar museum.

Sebelum meninggalkan Museum Nasional, berfoto dibagian luar yang juga penuh dengan ornamen arca-arca hindu
Sebelum meninggalkan Museum Nasional, berfoto dibagian luar yang juga penuh dengan ornamen arca-arca hindu

7 thoughts on “Museum Nasional Jakarta

  1. Ifan senangnya ya bisa menghabiskan waktu luang di Jakarta dgn datang ke tempat2 yg menyenangkan ini…..
    di gedung baru Museum sering ada pameran2 menarik.., saat itu lagi nggak ada ya?

  2. Ya ampun album fotonya😀

    Tapi tetap asik!

    Yang menarik itu mas ifan kalo difoto unik, 1 gaya, gak neko-neko! Saya suka! Keren!

    Terima kasih buat review. Nice Sharing.😀

  3. lengkap banget ulasannya , mang kayaknya generasi muda kita perlu berkunjung ke museum untuk mengenal sejarah budaya nusantara tempo dulu, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya dengan baik, maka itu harus kita tularkan ke generasi muda yang sekarang, salam kenal gan

  4. thanks sob untuk postingannya…
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu…
    salam kenal yach…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s