Abah Berpulang Ke Rahmatullah


004
Kenangan bersama abah saat akad nikahku 2 tahun silam

Tanggal 29 Maret 2014, menjadi pukulan berat bagiku dan keluarga besarku. Pada hari tersebut Abah (Darwin Bin H. Abd. Razak) telah berpulang ke Rahmatullah. Allah SWT telah menetapkan takdir-Nya untuk mengakhiri perjalanan hidup abah sebagai seorang hamba di muka bumi ini pada Sabtu siang atau bertepatan dengan 27 Jumadil Awal 1435 Hijriah. Tidak kuasa rasanya hati ini menerima kenyataan itu. Kenyataan yang jelas-jelas menyedihkan bagi kami semua, orang-orang terdekatnya.

Bagi aku pribadi, menerima kenyataan bahwa Abah telah tiada adalah sesuatu yang sulit. Bagaimana tidak? 34 tahun sudah aku menjalani kehidupan (yang penuh dengan suka maupun duka) bersama abah, dan tiba-tiba kebersamaan itu harus berakhir dengan cara seperti ini. Rasanya tidak mudah saja, dan saat mengingat kebersaamaan itu, perih rasanya hati ini sehingga tanpa disadari bulir-bulir air mata jatuh menetes membasasi pipi.

Aku menyadari bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan karena sesuatu yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya mati. Tinggal kapan dan bagaimana caranya saja yang kita tidak akan pernah tahu dan menjadi misteri sampai Allah SWT membuka rahasianya tersebut dengan menghadirkan kematian itu. Dan itupun juga yang keluarga kami alami akhirnya. Setelah berjuang selama 4 hari di RS. AW. Syahranie Samarinda melawan serangan jantung dan sesak napasnya, abah tidak kuat lagi dan menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 14.45 wita.

Sebenarnya abah telah mengalami serangan jantung yang pertama sebulan sebelumnya. Selama 6 hari, dari tanggal 27 Februari sd. 4 April 2014, abah harus menjalani perawatan di ruang HCU IGD dan lalu berpindah ke ruang ICCU. Alhamdullillah pada waktu itu kondisi abah membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah. Singkat cerita, abah menjalani hari-hari seperti biasa. Tetapi rasanya memang ada yang lain dengan diri beliau sejak saat itu. Meski terlihat ceria dihadapan anak dan cucu-cucunya, tetapi aku sebagai anak kelimanya bisa membaca suasana hati abah. Beliau kadang terlihat duduk melamun dengan ekspresi muka yang menurutku muram bahkan kosong sama sekali. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas aku melihat abah sangat berbeda. Namun, dilain kesempatan, ia terlihat ingin menyelesaikan banyak hal yang tentu saja kami yang tidak paham akan gelagatnya tersebut seringkali melarangnya agar tidak memporsir diri.

Dan setelah meninggalnya abah, kami hanya mampu berfirasat apakah hal-hal itu (yang diperlihatkan abah beberapa minggu sebelum ia meninggal) adalah buang perangai, yaitu (dalam tradisi banjar) merupakan tindakan atau ucapan yang diperlihatkan dan seakan-seakan mengisyaratkan bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama seseorang akan menghadap sang Pencipta-Nya. Wallahualam Bis Shawab. Yang jelas aku melihat abah sangat berbeda. Rasa lelah seakan telah menggerogotinya dan mungkin ingin ia lepaskan segera.

Abah saat di Rumah Sakit ketika mengalami serangan jantung yang pertama
Abah saat di Rumah Sakit ketika mengalami serangan jantung yang pertama

Saat dibawa ke rumah sakit untuk yang kedua kalinya pada Rabu subuh hari, tanggal 26 Maret 2014, info dari adikku mengabarkan bahwa kondisi abah sebenarnya masih dalam keadaan stabil meski ia mengeluh bahwa dadanya terasa seperti terhimpit. Dan pada saat itu, aku hanya bisa mendengar kabar-kabar saja karena saat yang bersamaan aku juga dinas luar ke Jakarta (sehari sebelum beliau dimasukkan ke rumah sakit). Hari kedua, aku dikabarkan bahwa kondisi abah sudah mulai agak membaik. Hanya saja beliau mengalami muntah-muntah. Hari ketiga, Jumat, menjadi hari yang menggelisahkan bagiku karena kabar yang kudapatkan sungguh mencemaskan. Kondisi abah tiba-tiba drop. Padahal menurut adik bungsuku, pada hari itu rencananya abah bisa pulang ke rumah. Bahkan sesaaat setelah dibersihkan adikku dengan menyeka-nyeka tubuh beliau pada paginya, abah mengatakan kepada adikku bahwa ia ingin segera pulang dan secara spontan meminta maaf dan ridha kepada adikku tersebut apabila selama ini telah merepotkan dalam merawatnya. Adikku tentu saja terperanjat dengan perkataan beliau yang tidak biasanya itu. Dan rupanya perkataan beliau itu menjadi pertanda akan terjadinya sesuatu yang akan kami tangisi. Ya, beberapa saat kemudian ujar adikku, kondisi abah perlahan-lahan memburuk, diawali dengan ketidakmauan untuk makan sehingga mengakibatkan hemoglobinnya meluncur ke angka yang sangat rendah dan sedikit demi sedikit kesadarannya pun mulai berkurang.

Menyadari kondisi abah yang mulai kritis tersebut, aku beberapa kali ditelpon kakak dan adik untuk segera pulang ke Samarinda. Untungnya, pada hari Jumat tersebut memang adalah hari kepulangan kami. Dan sesampainya di Samarinda pada bada maghrib, aku bersama kakak laki-laki yang nomor dua bergegas menuju rumah sakit dengan menerobos hujan lebat dan banjir yang cukup dalam. Lalu, saat tiba di rumah sakit, aku langsung menuju ruang ICCU, dan ketika melihat kondisi abah, aku begitu terenyuh. Muka abah begitu lemah, pucat dan tidak berdaya. Ia tampak gelisah dengan membolak balikkan badannya ke kanan kekiri dan kadang-kadang ingin duduk seakan-akan mencoba mencari posisi yang mungkin menurutnya dapat membuatnya nyaman. Pandangannya pun sayu terhadapku seolah-olah sepertinya tidak mengenalku lagi. Tetapi saat aku dan anggota keluarga yang lain menanyakan tentang sakit dibagian mana, ia masih merespon dengan menjawab dengan kalimat “tidak sakit apa-apa”. Juga saat diminta untuk terus beristigfar, ia juga masih bisa melakukannya.

Yang membuat sedih adalah saat kami memperhatikan jari-jemarinya yang sibuk menyusur tepi kain sarung yang dikenakannya persis seperti anak kecil yang memainkan sesuatu benda yang disuka. Ya Allah, tidak tega melihat kondisinya tersebut. Apalagi pandangannya menerawang jauh entah kemana. Menyadari hal tersebut, acil-acil kami (bibi/tante) menyuruh kami, seluruh anak-anak dari abah untuk segera minta ampun atas segala dosa dan kesalahan yang pernah kami lakukan kepada abah karena firasat akan segera ditinggalkan begitu besar. Meski begitu, harapan agar ia mampu bertahan melewati masa kritis tetap saja ada.

Saat tengah malam, abah mulai kesulitan bernafas sehingga perlu dipasangkan masker oksigen ukuran kecil. Itu terus berlangsung hingga tiba giliranku menjaga abah pada subuh Sabtu. Rasanya semakin tidak tega melihat kondisi abah dengan bantuan masker tersebut. Andai bisa, Ingin rasanya aku menggantikan posisi abah agar ia tidak mengalami kesulitan dalam bernafas. Tetapi apalah artinya andai-andai tersebut.

Paginya, aku, mama, dan adik bungsuku sempat balik ke rumah untuk sekedar mandi sehingga pendelegasian tugas menjaga abah diserahkan ke kakak yang lain. Namun, tidak berapa lama setelah itu, kakak perempuanku menelpon untuk segera kembali ke rumah sakit karena keadaan abah yang semakin memburuk. Ujar kakak, masker oksigen ukuran kecil tidak mampu lagi digunakan sehingga pada sekitar jam 9.30 pagi, abah kembali dipasangi dengan masker oksigen ukuran tabung besar. Dan saat telah berada disana, semakin tidak tega melihat kondisi abah tersebut. Napasnya semakin tersengal-sengal sehingga membuat kami hanya bisa pasrah dan berusaha untuk mengikhlaskan apapun yang terjadi. Zikir dan surah yasin kami lafazkan ke telinga abah agar memudahkan perjalanan terakhirnya. Dan tanpa terasa, air mata itu tidak dapat aku bendung. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain yang tidak henti-hentinya menangis seraya memanggil-manggil nama abah. Mungkin karena situasi yang agak ribut tersebut, perawat meminta kami untuk keluar ruangan dengan dalih agar pasien (abah) bisa beristirahat dan hanya memperkenankan 1 orang saja untuk menjaga abah.

Bergiliran kami menjaga abah. Dan saat giliranku, kondisi abah tetap sama, kritis dan kesulitan bernapas. Untuk itu, aku bacakan kembali surah yasin agar abah bisa merasa tenang dan Alhamdullilah itu berhasil. Tetapi perasaanku mengatakan bahwa abah sepertinya bersiap diri untuk segera bertemu dengan Sang Khaliq. Namun ditengah-tengah membaca surah yasin, lagi-lagi aku diinterupsi oleh dokter muda dan para perawatnya agar untuk sementara keluar ruangan karena abah akan diambil sampel darahnya. Lalu, saat telah diambil sampel darah tersebut, aku diminta untuk membawanya ke laboratorium dan hasilnya ditunggu sekarang juga. Ternyata lumayan lama juga untuk mendapatkan hasil pemeriksaan tersebut. Mungkin hampir 45 menitan aku terus menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Sampai di dalam hati ini sempat menggerutu bahwa hasil tes sampel darah abah ini akan sia-sia saja apabila ternyata abah duluan dipanggil Yang Maha Esa akibat menunggu hasil yang lama ini. Dan sesaat setelah menggurutu itu, tiba-tiba ada panggilan masuk dari adikku dengan suaranya yang terisak-isak mengatakan bahwa abah sepertinya telah tiada. Serta merta setelah hasil pemeriksaan didapat, aku berlari-lari menuju ruangan dimana abah dirawat. Di depan pintu ruangan, sebagian anggota keluarga menyuruh aku untuk segera masuk. Dan saat itulah aku melihat para perawat dan dokter melakukan pertolongan membuat napas buatan dengan menekan-nekan area dada abah berulang-ulang kali agar jantung bisa kembali berdetak. Kami yang melihat kondisi abah diperlakukan semacam itu benar-benar tidak kuasa menahan tangis. Hanya bacaan surah yasin saja yang terus kulafazkan di telinga abah untuk memudahkan perjalanan terakhirnya. Dan saat melafazkan tersebut, kenangan-kenangan bersama abah seakan diputar ulang didepan pelupuk mata ini sehingga membuatku semakin terpukul dan tenggelam dalam kesedihan yang teramat dalam. Dan pada akhirnya, setelah semua usaha dan pertolongan dilakukan, kami menyerah. Grafik kesehatan yang terpampang di layar monitor menunjukkan angka 0 dan itu berarti abah lebih memilih untuk benar-benar menepati janjinnya, yaitu pulang menemui pencipta-Nya. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.

Esok paginya, Minggu, 30 Maret 2014, sekitar jam 11 siang, abah selamat dikebumikan di Pemakaman Umum di Jalan Damanhuri, Samarinda. Syukurnya, saat pemakaman berlangsung, cuaca cerah sehingga prosesi penguburan berjalan lancar dan penuh khidmat. Sebenarnya ada keinginan untuk memakamkan abah di pekuburan di Jalan Abul Hasan, Samarinda karena seluruh anggota keluarga yang telah dulu almarhum dan almarhumah juga dikuburkan disana. Namun mengingat keterbatasan lahan akibat arealnya yang telah begitu padat, akhirnya diputuskan untuk mencari tempat pemakaman yang lain. Dan Alhamdullillah dapat di daerah yang letaknya juga tidak terlalu jauh dari rumah adik perempuan yang nomor 6.

Saat pemakaman abah di Kuburan Muslimin, Jalan Damanhuri, Samarinda
Saat pemakaman abah di Kuburan Muslimin, Jalan Damanhuri, Samarinda

Berdasarkan data yang tertera pada kartu keluarga diketahui bahwa abah lahir di Toli-Toli, Sulawesi Tengah pada tanggal 31 Desember 1946. Berarti saat meninggal, usia abah adalah 67 tahun 3 bulan. Tetapi aku tidak terlalu yakin apakah benar dalam usia itu abah meninggal mengingat lumrah pada jaman dahulu karena administrasi yang tidak selalu tercatat rapi, orang tua kadang semaunya saja menetapkan tanggal lahir. Tapi yang jelas, berapapun usia abah, beliau semasa hidupnya selalu berusaha untuk tetap terlihat kuat di mata kami anak-anaknya meski persoalan hidup datang silih berganti. Bayangkan, membiayai 8 orang anak dengan hanya mengandalkan penghasilan dari pekerjaan berdagang air kopi dan teh saja dari pagi hingga malam, apa tidak membuat pontang-panting. Tapi itulah hebatnya abah. Ia tetap mampu dan terus bersikeras mencarikan tambahan uang meski kadang mengutang sana-sini agar anak-anaknya bisa lanjut bersekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Dan usahanya itu tidak sia-sia, kami kedelapan anaknya kini telah menikmati hasil kerja kerasnya tersebut dengan telah berhasil menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan.

Kini sudah tidak ada lagi sosok yang akan mengayomiku, si anak laki-laki kelimanya yang lemah dan terlihat bolor itu. Ya, aku memiliki kedekatan emosional dengan abah karena selama ini aku sangat ketergantungan dengan beliau meski telah berumah tangga sekalipun. Apa-apa selalu meminta bantuan abah, terutama soal pekerjaan yang memerlukan tenaga fisik karena pada dasarnya aku ini tidak terlalu kuat. Tetapi beliau tidak mempermasalahkan hal itu. Ia mengerti dan memahami kondisi anaknya yang lemah ini. Tidak sekalipun sebagai orangtua ia pernah mencela atau menjatuhkan mentalku akibat ketidakmampuanku itu. Paling-paling abah hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku itu dengan tetap saja terus membantuku menuntaskan pekerjaan yang tidak sanggup aku lakukan sendiri. Masih lekat diingatanku bagaimana saat pindah rumah sewaan sebanyak 2 kali, abahlah yang sangat sibuk membantuku dari mulai mengepaki barang, mencarikan mobil angkut, mencarikan orang untuk mengangkat barang-barang sampai ikut membersihkan rumah yang akan aku dan isteri tempati. Semuanya itu ia lakukan dengan ikhlas karena ia ingin melihat anaknya bahagia, tidak terlantar dan bisa juga seperti orang lain. Dan jika ingat semua itu, rasanya sedih sekali. Kini tidak akan ada lagi sosok sebaik abah yang akan membantuku secara sukarela saat nanti pindah rumah kembali. Juga tidak ada lagi orang yang sesabar abah yang akan dengan ikhlas mendengarkan segenap keluh kesahku. Belum lagi kekagumanku akan keuletan abah yang luar biasa sabar saat mengajariku mengendarai sepeda motor diusiaku yang pada waktu itu tidak muda lagi sehingga akhirnya berbuah manis dengan bisanya aku berkendaraan. Padahal kalau dipikir-pikir rasanya tidak akan ada orang yang tahan jika harus mengajari orang sepertiku yang lambat sekali menguasai keterampilan mengendarai motor. Tetapi abah beda. Ia sanggup mengajariku mengendarai motor dengan cara yang nyaman dan tidak membuatku merasa tertekan. Mungkin jika bukan abah, sampai sekarang bisa jadi bila hendak kemana-mana, aku hanya berjalan kaki dan naik angkot saja. Terima kasih abah atas pengajaranmu itu sehingga aku tidak malu lagi.

Tulisan tangan abah perihal barang-barang kebutuhan warung yang hendak dibeli
Tulisan tangan abah perihal barang-barang kebutuhan warung yang hendak dibeli

Juga yang tidak akan pernah kulupa adalah pengorbanan abah yang terus setia menemaniku saat aku mengalami penyakit misterius. Tidak pernah lelah ia membawaku berobat kesana kemari demi mendapatkan kesembuhan. Saat aku putus asa dengan penyakit itu, ia terus menyemangatiku. Aku tahu ia menangis saat melihat kondisiku yang mengenaskan kala itu. Dan dalam sholatnya, ia selalu panjatkan doa kepada Allah SWT untuk kesembuhanku tersebut.

Pun tidak pernah lelah abah selalu berusaha untuk mencarikan pekerjaan buatku. Ia terus bertanya kesana-kemari dan seakan mengemis kepada orang lain hanya semata-mata agar aku bisa dicarikan pekerjaan. Dan orang-orang itu selalu menjanjikan kepada abah akan segera memasukkanku ke perusahaan ini dan itu, yang pada akhirnya janji tinggal janji saja. Tidak pernah ada kelanjutannya. Sampai suatu ketika saat aku lulus menjadi PNS, abah dengan begitu bangga memberitakan hal itu dalam setiap obrolannya kepada teman-temannya. Terharu rasanya.

Ketiadaan abah dalam beberapa hari ini masih sangat terasa. Saat menitipkan Dilla di pagi hari ke rumah nenek untuk keperluan bekerja, tiba-tiba kembali ingat akan sosok abah. Biasanya ada abah yang akan kuminta tolong untuk menjaga Dilla saat anggota yang lain masih lelap tertidur. Tentu saja abah senang hati melakukannya dengan cara biasanya duduk di bangku ruang tamu menggendong Dilla sambil bercanda dengan cucu perempuan kelimanya itu. Lalu, saat Dilla mulai merasa mengantuk, abah akan segera menyiapkan ayunan Dilla. Atau jika Dilla tidak mau tidur, abah akan memasukkan Dilla ke dalam kereta jalan bayi agar Dilla bebas bermain kesana kemari. Begitulah keseharian yang dilewati abah bersama cucunya tersebut. Mengingat itu, kerinduan akan sosok abah makin membuncah.

Saat abah telah tiada, baru kami menyadari kekeliruan yang kami buat. Biasanya kalau abah sakit, sering merintih dengan suara yang keras (baik itu di rumah sendiri maupun di rumah sakit) sehingga kadang kami memperingatkan abah untuk tidak berperilaku seperti itu dengan alasan hal itu akan mengganggu ketenangan pasien lain. Tapi sebenarnya baru kami sadari bahwa perilaku itu merupakan bentuk perlawanan diri untuk bisa bertahan melawan penyakit yang diderita. Dan itu ternyata ampuh membuat abah kuat melewati masa kritis sehingga bisa berkumpul kembali di rumah bersama keluarga tercinta. Tetapi saat perawatan terakhir abah hingga meninggalnya beliau di rumah sakit, abah tidak bersuara keras seperti biasanya. Beliau hanya merintih kecil dan lebih banyak diam. Hal itu sebenarnya mengherankan kami. Dan setelah meninggalnya abah, kami baru memahami betapa penting dan berartinya makna dari suara keras itu. Akhirnya terbit perasaan bersalah didiri kami kenapa dulu sering mengeluhkan perilaku abah tersebut takkala beliau mengalami sakit keras.

Jika ingat abah, aku juga seakan ingat dengan banyaknya kesalahan yang aku lakukan kepada beliau. Sudah pasti ada sikap dan perilakuku yang mungkin sengaja atau tidak sengaja menyakiti hati beliau. Apalagi jaman aku masih bersekolah dulu dimana emosiku pada waktu itu masih labil, pasti ada hal-hal yang kadang membuatku tidak sepaham dengan abah dan membantahnya secara terang-terangan. Jika ingat kembali sikapku yang kurang terpuji itu, rasanya berdosa sekali. Ya Allah, mudah-mudahan abah memaafkan segala kesalahanku tersebut meski sebenarnya aku yakin bahwa abah tidak pernah mendendam. Seburuk apapun perilaku anak-anaknya, aku tahu dalam setiap sholatnya abah selalu mendoakan yang terbaik bagi kehidupan anak-anaknya.

Sandal yang sering dikenakan abah. Meski memiliki sandal lain yang lebih bagus, tetap sandal ini yang menjadi kegemaran abah.
Sandal yang sering dikenakan abah. Meski memiliki sandal lain yang lebih bagus, tetap sandal ini yang menjadi kegemaran abah.

Meski kebersamaan dengan abah kini telah berakhir, tetapi kenangan indah bersama beliau akan selalu bersemadi di hati kami, yaitu isterinya (mama), delapan anak kandungnya (4 laki dan 4 perempuan), empat menantunya, lima cucunya (3 laki dan 2 perempuan) serta tentu saja seluruh keluarga dan kerabat. Beristirahatlah dengan tenang Bah. Tugasmu sebagai seorang ayah bagi kedelapan anak-anakmu telah cukup, dan kami berterima kasih atas semua itu. Maafkan apabila sampai akhir hayatmu, kami masih belum bisa membalas jasa dan membahagiakanmu. Percayalah, engkau akan selalu ada di hati kami karena engkau adalah istimewa.

Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan abah, melapangkan dan mencahayakan kubur abah, menerima segala amal ibadah abah yang pernah dilakukan semasa hidup, menempatkannya bersama orang-orang sholeh serta memasukkan abah ke dalam surga-Nya yang indah. Amin Ya Rabbal Alamin.

@@@@@@@

Dua cuplikan lagu dibawah ini semakin membuatku merindukan abah. Tak terasa air mata itu menetes.

5 thoughts on “Abah Berpulang Ke Rahmatullah

  1. assalammualaikum…ivan! apa kabar? masih ingat saya, Afi, teman SMU mu. saya turut berduka cita atas kepulangan abahmu ya, mudahan amal ibadah beliau berbalas Syurga Allah SWT. Aamiin….oiya… ada pin bb mu kah?or no hpmu? jadi bisa lanjut bekesahan disitu

  2. Turut berduka cita, kalau anda abah (ayah) yang meninggal dunia di bulan maret, suami saya juga meninggal pas tanggal 3 Maret yl…bertepatan dengan tanggal 1 Jumadil awal 1435 H…semoga amal ibadah beliau diterima disisi ALLAH SWT…Aamiin…

  3. Mas Ifan, nasib kita sama hanya bedanya saya kehilangan anak (putra satu2nya) dari tiga bersaudara. Sayapun turut berbelasungkawa atas meninggalnya Abah anda, semoga mereka semua diterima Allah dgn balasan terbaik di surga-Nya, aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s