Melawat Ke Kuala Lumpur (Bagian 1)


IMG_2303

Menjadi sesuatu yang luar biasa di tahun 2014 ini karena berhasil mewujudkan keinginan diri melawat ke luar negara untuk tujuan melancong. Dan lawatan perdana tersebut jatuh ke negara jiran, Malaysia. Pemilihan Malaysia sebagai destinasi pelancongan bukan semata-mata didasari kerena letaknya yang dekat dengan Indonesia, tetapi lebih disebabkan faktor kemudahan dalam berbahasa. Bahasa melayu yang merupakan salah 1 dari 3 bahasa resmi yang dituturkan masyarakat disana setidaknya akan lebih dapat kami pahami berbanding jika harus berkomunikasi menggunakan bahasa inggris, (terlebih-lebih bahasa tamil yang untuk mengucapkan sepatah katapun tidak kami tahu sama sekali). Faktor lain yang semakin menguatkan kami untuk menyambangi negara yang mengklaim dirinya sebagai The Truly Asia ini adalah adanya penerbangan langsung dari Balikpapan ke Kuala Lumpur (PP) yang ditaja oleh maskapai berbiaya murah, yaitu Air Asia.

AWAL MULA KEINGINAN KE LN

Sebenarnya keinginan untuk bepergian ke luar negeri adalah karena murni ajakan kakak yang mencetuskan ide tersebut dan juga mungkin merasa kasihan kepada kami adik-adiknya yang sampai saat ini belum pernah sekalipun mencicipi nikmatnya jalan-jalan ke negara orang. Ajakan tersebut serta merta kami sambut dengan suka cita mengingat keinginan untuk ke LN sesungguhnya adalah keinginan terpendam sejak lama yang belum bisa terwujud disebabkan tidak memiliki keberanian untuk kesana. Tentu saja, kami sebagai adik-adiknya percaya bahwa ia akan menjadi pemandu yang baik dan dapat diandalkan. Pengalamannya yang telah melancong ke beberapa negara asia (bersama teman-temannya) merupakan modal utama yang kami yakini akan sangat membantu saat nanti berada di negara yang tentu berlainan sekali adat-istiadatnya dengan negara kita. Akhirnya, setelah melalui serangkaian diskusi yang tidak panjang dan juga berembuk sana-sini, maka disepakati untuk memilih Bandar Kuala Lumpur sebagai destinasi pelancongan.

Di Kawasan Bukit Bintang
Di Kawasan Bukit Bintang

PERSIAPAN YANG DILAKUKAN

Ada beberapa hal yang dipersiapkan sebelum berangkat ke Kuala Lumpur, yaitu :

1) Paspor

Hal penting pertama bagi kami (pemula) yang hendak bepergian ke LN adalah memiliki paspor. Bagi diriku sendiri, saat rencana ke LN tersebut disyahkan, tanpa pikir panjang, aku langsung mengurus pembuatan paspor di Kantor Imigrasi Klas I Samarinda. Tanggal 20/11/2013 memasukkan berkas permohonan, seminggu kemudian, tanggal 27/11/2013, paspor  48 halaman telah berada ditanganku.

Paspor yang telah dicap pihak imigrasi Indonesia dan Malaysia
Paspor yang telah dicap pihak imigrasi Indonesia dan Malaysia

2) Berburu Tiket Murah

Booking tiket pesawat
Booking tiket pesawat
Harga tiket pesawat
Harga tiket pesawat

Jauh-jauh hari, kami (aku dan kakak) selalu memantau perkembangan terkini harga tiket maskapai Air Asia diwebsitenya. Beberapa tanggal kami coba masukkan ke mesin pencarian untuk mengetahui apakah ada harga yang murah yang bisa diperolehi, dan tentu saja itu bikin gregetan. Kadang mendapatkan harga tiket berangkat murah, tetapi pulangnya malah mahal. Begitupula sebaliknya sehingga mau tidak mau kami harus jeli memperhatikannya. Aku sebenarnya memaklumi hal ini mengingat maskapai Air Asia untuk rute Balikpapan ke Kuala Lumpur hanya terbang 3 kali dalam 1 minggu, dimana seharinya hanya 1 penerbangan, yaitu pada hari Rabu, Jumat dan Minggu. Belum lagi masing-masing dari kami memiliki kesibukan sendiri-sendiri sehingga ketika suatu tanggal disodorkan, kadang ada yang tidak bisa. Alhasil harus mencari tanggal lain yang cocok dengan jadwal semua orang. Tidak mengherankan, rencana awal yang semestinya terlaksana di bulan Januari 2014, mundur hingga Februari 2014.

Boarding Pass berangkat
Boarding Pass berangkat
Boarding Pass kepulangan
Boarding Pass kepulangan

Hal lain yang juga tidak dilupakan saat memesan tiket secara online adalah membeli bagasi. Untuk perginya, kami membeli bagasi 10 kg saja. Sedangkan untuk pulangnya membeli bagasi sebesar 15 kg dengan berprediksi bahwa akan banyak bawaan yang bertambah dalam koper semasa pulang nanti.

3) Menukarkan Mata Uang Rupiah ke Mata Uang Ringgit

Tentulah harus memiliki uang untuk ongkos hidup selama 3 hari di negeri orang. Oleh karena itu, supaya disana nanti kami tidak kalang kabut dengan masalah yang satu ini, rupiah yang kami miliki telah ditukarkan ke mata uang ringgit beberapa hari sebelum keberangkatan. Penukaran mata uang rupiah ini sengaja kami lakukan di dalam negeri agar nilainya tidak terlalu merugikan sebab dari beberapa sumber diketahui bahwa terkadang mata uang rupiah jika ditukar di negara lain, nilainya akan sangat rendah.

Aku pribadi pada waktu itu melepaskan rupiah sebanyak 2 juta. Dapatnya dalam kurs ringgit sekitar 500 sekian lebih. Tetapi tidak serta merta aku hanya membawa ringgit saja. Tetap ada cadangan uang rupiah untuk berjaga-jaga selama berada di Malaysia. Yang jelas, urusan tukar-menukar uang itu aku serahkan sepenuhnya kepada kakak. Ia yang pergi bertransaksi di salah satu money changer di Kota Samarinda.

Menukarkan mata uang rupiah wajib hukumnya agar dapat bertransaksi di negara orang
Menukarkan mata uang rupiah wajib hukumnya agar dapat bertransaksi di negara orang

4) Penginapan

Untuk penginapan di Kuala Lumpur, semuanya diurus kakak. Kami tahunya beres saja. Konsekuensinya adalah harus memberikan sejumlah uang tunai  dulu kepadanya untuk ia depositkan ke kartu kreditnya guna membayar biaya penginapan yang telah dipesan di situs Agoda.com. Yang jelas, pencarian penginapan tersebut kami tetapkan di Kawasan Bukit Bintang yang lokasinya mudah untuk kemana-mana. Terlebih lagi dekat dengan keberadaan Menara Kembar Petronas yang menjadi icon wajib untuk berfoto. Setelah membaca beberapa review dari orang-orang yang pernah menginap di beberapa hotel di Kawasan Bukit Bintang, akhirnya kami ikut setuju saja dengan pilihan hasil rekomendasi kakak, yaitu MY HOTEL, di Jalan Alor, Kawasan Bukit Bintang.

5) Transportasi Selama di Kuala Lumpur

Transportasi selama di Kuala Lumpur juga menjadi tanggung jawab kakak. Ia telah menghubungi penyewaan mobil disana untuk menjemput, membawa berkelililing dan juga mengantar balik ke bandara. Rinciannya adalah : Bandara-Hotel-Bandara (PP) = 280 RM + Berkeliling 1 hari = 350 RM. Total biaya yang harus dikeluarkan adalah 630 RM = Rp. 2.331.000,00 dibagi 6 orang = Rp. 388.500,00 per orang.

MENGALAMI MASALAH DI BANDARA SEPINGGAN BALIKPAPAN

Rombongan kami yang akan berangkat ke Kuala Lumpur terdiri dari 6 orang, yaitu : aku, 1 orang kakak, 2 orang adik, 1 orang keponakan, dan 1 orang teman. Saking semangatnya, subuh sekali adik-adikku telah bangun dan membuat kegaduhan dengan suara-suara ribut hendak berkemas. Begitupun dengan keponakan yang juga sangat antusias hingga rela untuk datang lebih awal ke rumah nenek diantar oleh kedua orangtuanya supaya tidak ditinggal ujarnya. Maklum, dari 6 orang yang akan berangkat, ada 2 orang yang belum pernah sama sekali merasakan naik pesawat, yaitu adik terakhir dan juga keponakan.

Saat check in di counter Air Asia
Saat check in di counter Air Asia

Setelah semuanya siap, maka Jumat pagi itu, tanggal 14 Februari 2014, sekitar pukul 07.00 wita lewat beberapa menit, dengan sedikit kehebohan yang sebenarnya agak memalukan karena diperhatikan beberapa tetangga saat keluar dari rumah menuju mobil dengan menentang koper yang segeda gaban *lebay*, maka meluncurlah kami meninggalkan rumah. Kebetulan sekali yang menjadi supir kami kali ini adalah tetangga lama yang beberapa hari sebelumnya telah dihubungi oleh Abah (abah saat itu masih hidup dan kalau ingat kejadian ini rasanya ingin menangis karena kangen dan rindu abah, juga karena ingat akan besarnya perhatian abah kepada kami anak-anaknya sehingga bela-belain mencarikan carteran mobil agar rombongan kami bisa berangkat tepat waktu) untuk mengantarkan kami ke Bandara Sepinggan Balikpapan. Tapi terlebih dahulu kami meminta sopir untuk singgah sebentar karena harus menjemput teman (yang ikut serta bersama kami ke KL) di rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Syukurnya temanku tersebut telah bersiap sehingga tidak perlu lagi pakai acara tunggu-menunggu dan perjalananpun akhirnya dapat segera dilanjutkan.

Si sopir mungkin tidak menyangka kalau yang harus diantar ke Balikpapan ternyata banyak plus dengan barang-barang yang lumayan bikin bagasi belakang penuh. Untunglah kami, para lelaki (aku, kakak dan teman) tidak ikut-ikutan menambahi kesesakan tersebut. Ya, bawaan kami para lelaki simpel saja, yaitu hanya tas ransel. Bagi aku pribadi, bepergian dengan tas ransel adalah lebih nyaman dan praktis kalau hanya dilakukan 2 atau 3 hari saja. Ini berdasarkan pengalamanku saat dinas luar ke beberapa daerah.

Setelah menempuh perjalanan hampir 2,5 jam lebih, sampailah rombongan kami di Bandara Sepinggan Balikpapan. Kakak langsung menuju Kounter Check In untuk menghantarkan koper-koper yang akan dibagasikan di pesawat sambil memperlihatkan paspor-paspor kami kepada petugas. Sekali lagi bukan untuk keperluan check in tapi hanya membagasikan koper, karena urusan check in itu sendiri telah ia lakukan secara online. Tetapi jangan khawatir, jika tidak ingin mengantri saat check in, maka penumpang bisa memanfaatkan fasilitas “My Check In” yang memang khusus disediakan oleh maskapai Air Asia untuk mempercepat dan mempermudah pelayanan.

Ruang tunggu bandara untuk penerbangan internasional
Ruang tunggu bandara untuk penerbangan internasional

Setelah check in, kami diarah ke Kounter Airport Tax dan harus membayar Rp. 100.000,-/orang untuk penerbangan luar negeri. Selanjutnya harus melewati pemeriksaan petugas imigrasi guna pengecekan dan mendapatkan cap stempel di paspor. Dari sinilah masalah muncul. Kami yang orang-orang dewasa tidak mengalami kendala dan lancar saja saat pemeriksaan dilakukan. Tapi lain halnya dengan yang dialami oleh keponakanku. Berhubung ia belum genap berumur 12 tahun dan berangkat ke LN tidak bersama orangtuanya, maka si petugas meminta Surat Kuasa yang isinya menyatakan bahwa si orangtua tidak keberatan jika si anak dibawa oleh orang lain ke LN. Mendengar penjelasan itu kami menjadi kalang kabut dan bingung karena memang tidak mengantongi surat kuasa yang dimaksud. Petugas imigrasi lalu mengarahkan kakak dan keponakanku ke sebuah ruangan untuk mengurus kelengkapan surat kuasa tersebut. Sementara kami-kami yang telah lolos pemeriksaan imigrasi dipersilahkan untuk segera memasuki ruang tunggu bandara penerbangan internasional yang luasannya ternyata kecil saja jika dibandingkan dengan ruang tunggu penerbangan domestik.

Di ruang tunggu bandara, aku harap-harap cemas juga dibuatnya. Kemungkinan terburuk apabila keponakanku gagal berangkat adalah mau tidak mau aku yang harus mengalah untuk tinggal dan mengantar pulang keponakan ke Samarinda. Sementara kakak harus tetap berangkat mengingat hanya ia yang bisa memandu adik-adikku selama nanti beranda di LN. Memang sih ada teman yang sebenarnya telah berpengalaman juga ke LN, namun rasanya tidak enak juga bergantung dengannya.

Tetapi syukurnya, kecemasan yang kupikirkan tersebut tidak terjadi. Keponakanku akhirnya bisa juga berangkat setelah surat kuasa didapatkan. Jadi ceritanya, petugas imigrasi membantu membuat dan mengetikkan konsep surat kuasa. Kakak lalu mem-fax surat tersebut ke kantornya dengan terlebih dahulu menghubungi salah seorang office boy untuk menerimakannya. Selanjutnya ia meminta tolong agar surat tersebut diberikan kepada orangtua keponakanku (yang memang telah diberitahu sebelumnya) agar datang ke kantor kakak guna menandatangani surat yang diminta pihak imigrasi. Terakhir, surat kuasa yang telah ditandatangi tersebut di fax balik ke bagian imigrasi Bandara Sepinggan Balikpapan. Urusan pun selesai dan takkala melihat mereka dipersilahkan masuk ruang tunggu pada menit-menit terakhir keberangkatan, rasanya bisa bernafas lega.

SAAT DALAM PENERBANGAN

Seharusnya pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan AK 1331 yang kami tumpangi berlepas dari Bandara Sepinggan Balikpapan pada pukul 11.10 wita sebagaimana yang tertera pada boarding pass. Tapi entah kenapa menjadi molor beberapa menit hingga akhirnya baru lepas landas pada pukul 11. 50 wita. Namun keterlambatan itu sebenarnya menjadi berkah tersendiri bagi kami karena berarti memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan surat kuasa yang diminta pihak imigrasi. Tapi tidak bagi teman kami. Waktu yang molor itu hanya dimanfaatkannya dengan sibuk memainkan gadgetnya. Dan saat petugas mengumumkan agar penumpang bersegera menuju pintu keberangkatan, ia baru teringat sesuatu, yaitu belum mengambil uang di ATM. Ia lalu bergegas menemui petugas dan memohon diberi sedikit waktu untuk keluar dari ruang tunggu. Tapi petugas melarangnya. Akhirnya ia cuma bisa pasrah. Sebenarnya sih ada uang dollar yang ia miliki tetapi jumlahnya menurutnya tidak seberapa sehingga ia merasa tidak nyaman saja apabila tidak ada pegangan uang lebih.

Kabin pesawat Air Asia yang didominasi oleh warna merah
Kabin pesawat Air Asia yang didominasi oleh warna merah

Berhubung ini adalah penerbangan perdanaku menggunakan maskapai Air Asia sehingga menurutku terasa ada yang berbeda. Utamanya sekali adalah dari segi bahasa. Jika selama ini terbiasa dengan penggunaan Bahasa Indonesia pada penerbangan-penerbangan domestik, maka pada penerbangan kali ini harus sedikit berfikir untuk memahami padanan kata dalam Bahasa Melayu yang terpampang pada dinding kabin pesawat maupun pada kartu petunjuk keselamatan. Juga saat pramugari mengumumukan sesuatu dalam Bahasa Melayu, ianya sangat berbeza dan terasa asing di pendengaranku. Beberapa kata yang sempat kuamati adalah : Tali Keledar Keselamatan = Sabuk Pengaman, Maklumat Keselamatan = Kartu Petunjuk Keselamatan, Pintu Kecemasan = Pintu Darurat.

Kartu maklumat keselamatan
Kartu maklumat keselamatan

2014-02-14 11.33.15Tapi sungguh disayangkan, pengucapan bahasa melayu oleh pramugari Air Asia sangat tidak nyaman didengar. Tidak lancar dan terbata-bata. Berbeda dengan versi rekamannya yang menurutku unik untuk didengarkan. Apa mungkin karena pada waktu itu yang melafalkannya adalah pramugari yang beretnis china sehingga terkesan apa adanya saja. Yang penting penumpang mengerti dan pemberitahuan tersampaikan, itu mungkin sudah cukup bagi mereka. Tapi tidak bagi penumpang sepertiku yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap penerbangan internasional.

PEMERIKSAAN IMIGRASI DI LCCT

Antri untuk pemeriksaan imigrasi
Antri untuk pemeriksaan imigrasi

Setelah mengudara hampir 2,5 jam, akhirnya maskapai Air Asia mendarat mulus di LCCT pukul 14.25 Waktu Malaysia. LCCT merupakan singkatan dari Low Cost Carrier Terminal yang kononnya adalah bandara milik Air Asia sehingga pesawat-pesawat yang mendarat dan transit disini adalah khusus untuk pesawat Air Asia saja. Menurutku bandara ini lumayan luas tetapi arsitektunya biasa saja. Tidak ada keunikan yang ditonjolkan. Mungkin hanya lebih difokuskan pada fungsi penerbangannya saja mengingat terminal ini adalah untuk penerbangan berbudget murah. Oh ya, tidak ada perbedaan waktu antara Balikpapan dan Kuala Lumpur sehingga kami tidak perlu memaju atau memundurkan waktu di jam.

Tempat pengambilan bagasi
Tempat pengambilan bagasi
Suasana di tempat pengambilan bagasi
Suasana di tempat pengambilan bagasi

Turun dari pesawat, dengan berjalan kaki (karena memang tidak disediakan bis), kami menuju balai ketibaan. Kami terus menyusuri lorong dan mengikuti langkah orang-orang yang bergerak cepat menuju bagian imigrasi yang letaknya agak jauh masuk kedalam sehingga lumayan bikin kaki pegal. Sesampainya disana, antrian lumayan panjang. Bermacam orang dari berbagai kebangsaan berbaris rapi menunggu giliran pemeriksaan paspor. Aku dan adik-adik telah diwanti-wanti kakak untuk mempersiapkan jawaban apabila si petugas menanyakan sesuatu hal, seperti : berapa hari tinggal di KL? menginap di hotel apa? alamat hotel dimana? tujuan datang ke KL untuk apa? dan lain sebagainya. Dengan perasaan deg-degan, kami secepat kilat berusaha menghapal jawaban-jawaban itu. Dan saat tiba giliranku, si petugas laki-laki dengan ekspresi wajah yang datar memeriksa paspor sambil menyuruhku untuk meletakkan 2 buah jari (kanan dan kiri) ke mesin penyidik. Ia tidak menanyakan apapun. Tapi prosesnya agak lebih lama beberapa menit dari yang lain karena mungkin masalah loading data yang lambat.

Suasana hiruk pikuk di LCCT
Suasana hiruk pikuk di LCCT

Semua dari kami akhirnya lolos dari pemeriksaan imigrasi. Tentang keponakan yang tadinya kami cemaskan akan mengalami kejadian serupa seperti di Bandara Sepinggan Balikpapan Alhamdullillah tidak terjadi. Seterusnya kami menuju ke bagian bagasi untuk mengambil koper-koper yang ternyata sudah disusun rapi bersama koper-koper penumpang lain dan tinggal diangkut saja. Beres dengan urusan bagasi, kami bergegas mencari pintu keluar dengan lagi-lagi barang-barang kami harus melalui pemeriksaan metal detector entah untuk yang kesekian berapa kali. Tapi saat hendak meletakkan barang-barang tersebut ke meja pemeriksaan, petugasnya mengatakan tidak perlu dan langsung ke pintu keluar saja.Tapi beberapa yang lain harus tetap melewati pemeriksaan. Entahlah kenapa bisa berbeda begitu?

DALAM PERJALANAN MENUJU BUKIT BINTANG

Saat telah berada di bagian luar dari pintu kedatangan, kami harus menunggu beberapa saat menanti kehadiran supir yang rencananya akan menjemput dan membawa kami ke hotel tempat tujuan. Kakak pun terus menghubunginya dan memberitahu letak persisnya posisi kami. Tidak lupa, pandangan kami edarkan kesegenap penjuru ruang dengan harapan menemukan sosok seseorang yang mungkin juga sedang mencari keberadaan kami sambil membawa kertas bertuliskan nama kami. *perasaan*. Nah, sambil menunggu tersebut, adik-adikku memanfaatkannya dengan aksi foto-foto narsis. Melihat kelakuan mereka yang sebenarnya agak kampungan, aku pun jadi ikut tergoda untuk melakukan hal yang sama.

Aksi foto-foto akhirnya terhenti saat si supir yang ditunggu muncul juga dihadapan kami, yaitu seorang yang berketurunan tamil. Ia menyapa kakak dan mempersilahkan kami naik van Toyota Hiace yang berkapasitas maksimal 10 orang. Di Malaysia, Van ini dinamakan Bas Persiaran yang kalau dalam Bahasa Indonesia berarti Bis Pariwisata. Gambarnya seperti dibawah ini :

Bas Persiaran. Sumber google images
Bas Persiaran. Sumber google images

Sepanjang perjalanan menuju penginapan, tidak banyak komunikasi yang tercipta antara kami dan supir. Ia bicara kalau ditanya saja. Sepertinya ia pemalu. Alhasil yang lebih mendominasi obrolan di dalam mobil adalah antar sesama kami saja, terutama mengomentari hal-hal unik yang baru kami lihat di Malaysia dan sekali-kali membandingkannya dengan keadaan di Indonesia. Dan obrolan itu sukses membunuh rasa bosan akibat perjalanan yang ditempuh dari LCCT menuju Kawasan Bukit Bintang ternyata memakan waktu lumayan lama, yaitu hampir 1 jam lebih. Bagaimana tidak? LCCT itu ternyata dibangun jauh dari pusat keramaian sehingga yang dinikmati sepanjang perjalanan adalah pohon-pohon kelapa sawit, sesekali bangunan perumahan dan juga pabrik-pabrik industri manufaktur. Ya, harap dimaklumi, manusia awam macam kami ini mana mengerti tentang pentingnya tata letak suatu bandara. Yang kami tahu cuma keramaian dan kehebohan saja.

Gedung-gedung pencakar langit mulai nampak terlihat dari kejauhaan saat akan memasuku Bandar Kuala Lumpur
Gedung-gedung pencakar langit mulai nampak terlihat dari kejauhaan saat akan memasuki Bandar Kuala Lumpur

Gedung-gedung pencakar langit baru mulai terlihat saat hendak memasuki Bandar Kuala Lumpur. Terutama yang amat menonjol adalah Menara Kembar Petronas dan Menara Kuala Lumpur yang menjulang tinggi. Dari kejauhan saja sudah dapat dipandang dengan amat jelas. Sungguh mengagumkan dan rasanya tidak sabar untuk segera menginjakkan kaki dipelatarannya.

MENGINAP DI MY HOTEL

Saat telah berada di MY Hotel, kakak segera menghadap ke bagian resepsionis dan menunjukkan bukti booking penginapan. Setelah dicek dan oke, resepsionis meminta kakak untuk membayar deposit dimuka. Kakak memenuhinya dan urusan administrasi pun beres. Namun tidak serta merta kami bisa langsung masuk kamar. Prosesnya agak lama karena 2 kamar yang kami pesan tersebut ternyata belum siap dan harus dibersihkan terlebih dahulu. Mau tidak mau kami harus menunggu dan duduk-duduk saja di lobi hotel.

Beberapa saat kemudian setelah semuanya siap, resepsionis memberikan 2 kunci kamar dan mempersilahkan kami naik ke lantai atas. Aku, kakak dan seorang teman mendapatkan kamar di lantai 6 nomor 613. Sementara 2 orang adik dan seorang keponakan mendapatkan kamar di lantai 3 nomor 312. Jadilah 1 kamar dihuni 3 orang dan terpaksa harus tidur berdesak-desakan selama 2 malam tersebut.

Bagian depan dari MY Hotel
Bagian depan dari MY Hotel
Lobi MY Hotel
Lobi MY Hotel
Menunngu di lobi hotel
Menunggu jemputan bas persiaran di lobi hotel

MY Hotel sendiri menurutku adalah hotel minimalis yang terdiri dari 7 lantai. Tiap lantai telah dilengkapi dengan lift. Warna merah dan putih menjadi ciri tersendiri dari hotel ini. Para pekerjanya rata-rata adalah keturunan tamil yang juga fasih berbahasa melayu sehingga bagi orang Indonesia yang menginap disini dan tidak bisa berbahasa inggris tidak perlu merasa khawatir. Dan menurutku, itu juga mungkin yang menjadi pertimbangan sehingga beberapa rombongan keluarga dari Indonesia yang kujumpai menjadikan hotel ini sebagai tempat menginap mereka. Tidak mengherankanlah, kalau di hotel ini juga pada akhirnya kami  bertemu secara tidak sengaja dengan seorang ibu beserta keluarganya yang ternyata adalah tetangga lama kami dulu yang sekarang berprofesi sebagai seorang notaris di Samarinda.

Secara keseluruhan hotel ini menurut kami cukup bagus karena selain bersih dan rapi, juga letaknya yang strategis di Jalan Pudu sehingga memudahkan untuk kemana-mana. Kekurangannya adalah kami tidak mendapatkan sarapan pagi dan juga fasilitas wifi di dalam bilik kamar agak lambat. Ini tentu menyulitkan kami (minus aku ya karena aku bukan banci status) yang amat sangat ketergantungan dengan internet untuk sekedar memperbaharui keberadaan diri guna pamer ke orang lain di media sosial.

Keadaan kamar hotel
Keadaan kamar hotel
Keadaan kamar hotel
Keadaan kamar hotel

3 thoughts on “Melawat Ke Kuala Lumpur (Bagian 1)

  1. Artikelnya bagus terutama bagian masalah itu.
    oya saya juga bulan maret ini mau ke KL dengan keponaan. jadi kalao boleh saya minta donk, bagaimana konsep surata kuasa itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s