Dilla Berumur 1 Tahun


PhotoGrid_1397128921859

Waktu terus saja berlalu dan tanpa disadari tepat setahun yang lalu pada tanggal yang sama (dengan tanggal hari ini) menjadi hari yang bersejarah bagi aku, isteri dan terlebih-lebih bagi bayi mungil kami yang bernama Nur Afifa Adilla. Pada tanggal tersebut, Dilla untuk pertama kali merasakan menghirup udara dunia. Juga untuk pertama kali mulai merasakan adanya perubahan suhu, dimana mungkin semasa di dalam rahim selalu mendapatkan kehangatan, tetapi sesaat setelah lahir tersebut, maka mau tidak mau Dilla harus menyesuaikan dirinya dengan suhu bumi yang ekstrem. Dan itu menjadi salah 1 hal yang aku khawatirkan mengingat Dilla lahir secara prematur yang dalam aspek kesehatan sebenarnya belum siap untuk menghadapi keadaan tersebut.

Sempat terbersit di hati ini apakah Dilla akan mampu bertahan menghadapi masa kristisnya tersebut? Berat badannya yang hanya 2,1 kg sebenarnya cukup rawan sehingga perlu pertolongan dengan infusan. Tetapi rasanya tidak tega melihat kondisi Dilla yang harus diinfus dengan jarum suntikan yang sepertinya sakit untuk ukuran seorang bayi. Belum lagi saat perawat mengambil sampel darah Dilla untuk beberapa kali sehingga akan menyebabkan Dilla menangis sekencang-kencangnya karena kesakitan akibat suntikan itu.

Dilla bergaya dengan kacamata
Dilla bergaya dengan kacamata

Kini setelah genap setahun, bayi mungil kami tersebut telah mulai tumbuh dan berkembang menjadi balita yang sangat aktif. Meski beratnya hingga kini hanya berkisar antara sekian-sekian saja dan juga sering mengalami yang namanya panas, demam, pilek dan batuk-batuk, namun hal itu tidak menghalanginya untuk mengenal dan mempelajari hal-hal baru secara antusias. Tentu saja dengan melakukan kegiatan-kegiatan itu, rasa penasarannya terhadap sesuatu hal menjadi terpuaskan. Dan rasa penasarannya itu biasanya ia tampakkan dengan :

  • Menjilati benda-benda yang ia sukai.
  • Membongkar benda-benda yang tersimpan di dalam kotak atau lemari.
  • Matanya sangat jeli dengan benda-benda yang ukurannya sangat kecil yang kebetulan ada dihadapannya dan jika tidak diawasi maka benda-benda tersebut dengan amat cepat berpindah ke mulutnya.
  • Senang mempreteli tikar milik nenek sehingga perlahan-lahan bentuk tikar tersebut hancur.
  • Merayap kesana kemari, utamanya menuju pintu keluar rumah, untuk mencari sumber keramaian.
  • Mencari tempat yang memudahkan tangannya untuk berpegangan saat ia belajar berdiri.
  • Sering berusaha terjun dari ayunan karena tidak mau ditidurkan dan inginnya bermain-main saja dengan keponakan-keponakan yang juga masih cilik.
  • Kalau sudah berada di rumah sendiri sering rewel dan merengek untuk minta keluar dibawa ke rumah nenek (yang ada dibagian depan) yang suasananya lebih ramai.
  • Telah berhasil melewati fase tengkurap, merayap, duduk, merangkak (meski agak malas), dan sekarang mulai belajar berdiri.
Dilla didalam buai ayunan
Dilla didalam buai ayunan

Tentu untuk saat ini tidak mudah menjaga Dilla yang sedang dalam masa aktif-aktifnya. Apalagi kini telah berkurang salah satu anggota keluarga yang biasanya dengan senang hati menjaga Dilla saat kami (orangtuanya) tengah bekerja. Ya, dalam usia yang masih balita, Dilla harus merelakan diri ditinggalkan Kai. Sedih sekali jika mengingat itu karena otomatis Dilla pasti tidak akan ingat lagi bagaimana rasanya saat-saat kebersamaan dengan Kai mengingat usianya saat ditinggalkan tersebut adalah 9 bulan lebih. Yang bisa kulakukan nanti agar Dilla selalu ingat dengan Kai paling-paling hanya menceritakan tentang sosok Kai yang sangat menyayanginya dan juga mengajaknya berziarah ke makam.

??????????????????????Dengan tidak adanya kai, maka beban nenek untuk menjaga Dilla semakin berat. Apalagi kondisi nenek yang tidak begitu sehat, terutama kesulitan dalam berjalan karena penyakit asam urat, membuat nenek agak kerepotan saat Dilla merayap kesana-kemari. Belum lagi saat sekarang ini Dilla semakin sulit untuk ditidurkan karena maunya bermain terus menjadi hal yang juga dikeluhkan nenek. Kami selaku orangtuanya sebenarnya merasa tidak enak hati. Tapi mau bagaimana lagi? Kondisi dan keadaanlah yang memaksa semua ini.

Dilla saat baru bangun dari tidur
Dilla saat baru bangun dari tidur

Belum lagi perkara yang menyangkut tidur di malam hari. Mungkin karena saking aktifnya merayap kesana-kemari sehingga menyebabkan Dilla sering menangis. Entah hal itu disebabkan faktor kelelahan atau faktor-faktor lainnya, yang jelas kebiasaan buruknya itu mau tidak mau membuat kami harus sering bergadang untuk sekedar membisainya agar dapat tenang dan tidur kembali. Biasanya akan aku usap-usap bagian punggungnya dan kupijat-pijat bagian kakinya seraya juga terus meminumkannya susu. Kadang cara tersebut berhasil dan kadang juga tidak. Maka cara terakhir yang harus dilakukan pabila Dilla masih juga rewel adalah dengan menidurkannya dalam ayunan dengan kondisi mata yang terkantuk-kantuk dan tangan yang pegal akibat terus-terusan menggenjot ayunan. *resiko menjad orangtua*ūüôā Paling parah adalah ketika Dilla terbangun ditengah malam dan tidak mau tidur lagi. Biasanya ia akan bermain-main sendiri. Tapi saat mulai bosan, ia akan mengusik tidur kami dengan berupaya membangunkan kami melalui berbagai cara, mulai dari memukul-mukul dan mencium pipi kami, berguling-berguling dibadan, menarik-narik rambut kami, hingga merengek-merengek agar segera dapat ditemani dalam bermain. Kami yang melihat tingkah polahnya itu pura-pura saja tidur agar matanya tidak makin melek. Karena makin diladeni, maka Dilla makin bersemangat untuk bermain.

Dilla kala sedang berdandan lengkap
Dilla kala sedang berdandan lengkap

Hal yang patut disyukuri adalah meski Dilla dengan segala aktifannya tersebut terkadang membuat repot semua anggota keluarga, tetapi kelucuan dan senyum manisnya itu menjadi hal yang amat dirindui dan dikangenin. Terlebih Dilla juga sudah mulai mampu menirukan gerakan-gerakan orang dewasa seperti bertepuk tangan saat dinyanyikan lagu tepuk-tepuk tangan, menirukan gaya menerima panggilan telpon masuk dengan mendekatkan ponsel ke telinganya saat seseorang berkata hallo dan juga melambaikan tangan dengan berdadah saat berpamitan. Juga semakin hari Dilla semakin ceriwis dalam berkicau dengan mengucapkan kata-kata yang cuma ia sendiri yang tahu, seperti ta…ta…ta… dan kata-kata lainnya. Tapi disamping itu, ia juga mulai mengerti saat akan ditinggalkan oleh anggota keluarga yang akan bepergian dengan menangis dan tidak mau melepaskan gendongan dengan maksud agar diikutsertakan. Alhasil, sungguh seru melihat perkembangannya itu dari hari kehari sehingga rasa lelah saat mengasuhnya menjadi terabaikan.

Me and Dilla
Me and Dilla

Di usia Dilla yang pada hari ini genap berumur 1 tahun, menjadi catatan dan peringatan tersendiri bagi kami bahwa akan ada tanggung jawab yang lebih yang akan kami emban kedepannya. Yang jelas selaku orangtua, kami harus makin ekstra mengawasi tumbuh kembang Dilla. Walau kami pun menyadari bahwa selama ini kami belum maksimal untuk hal itu dan cenderung mengeluh dengan kesulitan-kesulitan yang ada.

Pada akhirnya sebagai orangtua kami tidak terlalu berharap yang muluk-muluk dan hanya bisa mendoakan agar Nur Afifa Adilla selalu sehat wal afiat, menjadi anak yang sholehah dan selalu berbakti kepada agama dan orangtuanya. Amin Ya Rabbal Alamin.

2 thoughts on “Dilla Berumur 1 Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s