Melawat Ke Kuala Lumpur (Bagian 2)


Suasana Cap Go Meh di Jalan Alor
Suasana Perayaan Cap Go Meh di Jalan Alor

Hari pertama, saat waktu mulai beranjak sore dan segala urusan hotel telah beres, dengan serta merta rombongan kami bersiap untuk menjelajah kawasan sekitar. Utamanya yang ingin dicari adalah makanan, mengingat sedari siang, perut ini belum juga terisi dengan nasi. Maka dengan keadaan keroncongan, berjalanlah kami menyusuri kawasan Bukit Bintang. Saat melewati Jalan Alor, ada 2 hal yang menjadi perhatian :

  • Saat itu bertepatan dengan perayaan Cap Go Meh sehingga suasana di Jalan tersebut amat ramai dengan kerumunan wisatawan yang ingin menonton seni pertunjukan atraksi barongsai. Tambah meriah lagi dengan bunyi petasan yang diledakkan bersahut-sahutan sehingga memekakkan gendang telinga. Dan yang paling memanjakan mata adalah dekorasi lampion-lampion merah yang dipasang berjejer sepanjang jalan.
  • Bertemu dengan makcik yang berjualan di pinggir jalan dan menjajakan penganan ringan semacam nuggget. Untuk mengganjal perut, membelilah kami beberapa nugget yang ditusuk menyerupai sate. Lumayan enak, tapi itu belum mampu menghalau rasa lapar yang ada.

Letusan mercon yang tak berhenti berbunyi dan memekakkan telinga
Letusan mercon yang tak berhenti berbunyi dan memekakkan telinga
Beraksi di Jalan Alor
Beraksi di Jalan Alor

Selanjutnya kami bersepakat untuk mencari rumah makan cepat saji yang banyak bertebaran di kawasan tersebut. Akhirnya pilihan jatuh pada KFC. Dengan kalap kami menyantap makanan yang menunya telah dimodifikasi dengan lidah lokal, semacam kari.

Selepas makan, kakak membawa kami ke sebuah bangunan yang menyerupai ruko-ruko dan letaknya hanya berseberangan dari gerai KFC. Di tempat tersebut banyak yang berdagang berbagai macam barangan, mulai dari suvenir, baju, tas, kacamata, parpum, dan lain-lain. Yang paling menarik hati tentu saja suvenirnya. Ada gantungan kunci, miniatur menara petronas, pulpen, dan tempelan kulkas yang harga termurahnya berkisar antara 5 sampai 10 ringgit. Tentu saja kami membeli beberapa suvernir tersebut dengan didahului tawar-menawar yang alot dengan pedagangnya yang rata-rata berketurunan china dan tamil. Heran juga, kenapa jarang ditemui pedagang-pedagang melayu dari warga setempat?

Tidak bisa membeli barangnya, paling tidak masih bisa bergaya di depan butiknya
Tidak bisa membeli barangnya, paling tidak masih bisa bergaya di depan butiknya
Cafe-cafe menjamur di Kawasan Bukit Bintang
Cafe-cafe menjamur di Kawasan Bukit Bintang

Usai berbelanja suvenir, kami lanjut berkeliling kawasan bukit bintang dan sebentar-sebentar singgah kesuatu tempat membeli-belah untuk melihat barang-barang yang mungkin memikat hati dan pas dengan budget. Yang pasti dengan jumlah 6 orang tersebut, seleranya juga berbeda-beda. Ada yang ingin ini dan itu sehingga lumayan memakan waktu dalam memilih-milih. Belum lagi keponakanku Nisa yang mengeluh kelelahan dan ingin balik saja ke hotel untuk istirahat. Tentu saja hal itu tidak kami ijinkan sehingga membuatnya sepanjang perjalanan merengut.

Taman kecil yang cantik di tengah bandar
Taman kecil yang cantik di tengah bandar
Suasana yang nyaman dan indah untuk berfoto
Suasana yang nyaman dan indah untuk berfoto
Bunga-bunga sakura beserta aksesoris berbau china dipajang di salah satu sudut kota
Bunga-bunga sakura beserta aksesoris berbau china dipajang di salah satu sudut kota

Saat mengitari Kawasan Bukit Bintang, sampailah kami pada area yang menyerupai alun-alun, dimana banyak orang berkumpul untuk sekedar berfoto-foto dengan latar gedung-gedung pencakar langit maupun bangunan unik lainnya. Area tersebut berada disekitaran Jalan P. Ramlee dan Jalan Ampang. Yang menarik saat disana adalah karena pada hari itu bertepatan dengan Hari Kasih Sayang (valentine), maka orang-orang dapat menyatakan perasaan cinta atau kasih sayangnya kepada orang terkasih dengan direkam secara langsung dan dipampang pada layar besar yang terletak di tengah-tengah bangunan pencakar langit. Hal tersebut menarik perhatian semua orang yang lalu lalang karena kesemua sudut diliputi. Tentu, untuk merasakan keadaan tersebut tidak bisa dinikmati secara cuma-cuma. Ada biaya yang harus dibayar agar momen tersebut menjadi hal yang diingat sepanjang masa.

Cantik sepanjang jalan
Cantik sepanjang jalan
Keramaian di Kawasan Bukit Bintang
Keramaian di Kawasan Bukit Bintang
Layar raksasa yang mampu meliput kesemua sudut
Layar raksasa yang mampu meliput kesemua sudut

Rombongan kami yang jelas-jelas memang tidak mau membayar untuk hal-hal semacam itu, rasanya tidak mau juga melewatkan kesempatan yang ada. Paling tidak jika memang tidak bisa mendapatkan tayangan langsung, maka harus ada hal-hal yang tetap dapat diabadikan. Alhasil, sepuas-puasnyalah kami berfoto kesemua tempat di area tersebut, mulai dari bangunan pencakar langit, bunga-bunga khas cina, taman-taman, hingga monorail yang kebetulan melintas. Mulai dari berfoto secara sendiri-sendiri hingga berfoto secara ramai-ramai dengan gaya yang tadinya anggun sampai dengan gaya yang terbilang norak dengan dalih mumpung tidak ada juga orang yang mengenali rombongan kami.

Ramai orang yang berlalu lalang dari berbagai bangsa
Ramai orang yang berlalu lalang dari berbagai bangsa
Lelah berjalan menyusuri setiap sudut memaksa kami untuk istirahat sejenak
Lelah berjalan menyusuri setiap sudut memaksa kami untuk istirahat sejenak
Pedestrian sempit yang persis seperti kota-kota di Eropa
Pedestrian sempit yang persis seperti kota-kota di Eropa

Petang mulai digantikan malam, dan langkah kami yang tidak tahu arah tujuan hanya mampu menyusuri pedestrian-pedestrian sempit yang kadangkala harus saling mengalah satu sama lain untuk memberikan celah takkala berpapasan dengan mereka yang berlawanan arah . Yang jelas, panduan kami saat itu adalah dengan mengikuti kerumunan orang-orang yang menuju ke sebuah tempat yang tampaknya menjadi pusat keramaian. Dan benar saja, kami akhirnya terdampar di sebuat pusat perbelanjaan yang bernama Pavilion. Di halaman depan dari mall tersebut dijejali dengan orang-orang yang silih berganti ingin berfoto dengan taman air mancur yang warna lampunya bisa berubah-berubah. Obyek lainnya yang juga menjadi pusat perhatian orang-orang untuk berfoto di mall tersebut adalah lampion-lampion merah yang bergelantungan indah memancarkan cahayanya, bunga-bunga sakura (kalau tidak salah) yang berwarna-warni dan sebuah patung binatang lucu yang berukuran besar.

Pusat perbelanjaan Pavillion
Pusat perbelanjaan Pavillion
Saya dan teman
Saya dan teman
Lampu warna-warni yang makin menambah semarak suasana
Lampu warna-warni yang makin menambah semarak suasana
20140214_201902
Masih di kawasan sekitar Pavillion

Di mall tersebut, kami tidak terlalu lama dan hanya melihat begitu-begitu saja barangan yang terdisplay di beberapa tenant. Lagian, barangan yang tersedia rata-rata adalah yang bermerek yang rasanya tidak bersahabat dengan kantong kami para wisatawan yang bermodal dengkul saja. Kalau sudah begitu, yang paling aman untuk dilakukan selama disana adalah cuci mata saja.

Selepas dari sana, kami berencana menuju menara kembar Petronas. Menurut temanku, di pelataran menara tersebut, setiap malamnya selepas maghrib akan ada pertunjukan air mancur menari. Mendengar hal itu, tentu membuat kami penasaran dan rasanya tidak ingin melewatkan kesempatan yang menurut kami langka tersebut. Ditambah lagi, akan sangat berbeda jika melihat view menara kembar Petronas pada malam hari karena akan tampak terlihat eksotis bermandikan ribuan cahaya lampu yang meneranginya.

Menara Kembar di malam hari yang bermandikan ribuan cahaya lampu
Menara Kembar di malam hari yang bermandikan ribuan cahaya lampu
Kemegahan Menara Kembar di malam hari
Kemegahan Menara Kembar di malam hari

Jarak yang lumayan jauh dari mall ke menara kembar, tidak menyurutkan keinginan kami untuk sampai kesana. Meski kaki gempor dan disambut gerimis saat tiba, tetap kami antusias dengan apa yang akan dilihat. Tadinya kami sempat bingung dimana letak persis dari menara tersebut sehingga harus berkeliling ke beberapa sudut untuk menemukan halaman pelataran yang merupakan lokasi tempat pertunjukan air mancur menari akan berlangsung. Setelah bolak-balik kesana-kemari, akhirnya kami menemukan tempat tersebut yang ternyata berada dibagian depan dari Suria KLCC (yang merupakan salah 1 mall terbesar dan termegah di Kuala Lumpur) atau letak persisnya ada dibagian belakang dari menara kembar Petronas.

Sesampainya disana, tanpa dikomando, kami langsung unjuk diri berfoto-foto ria dengan latar menara kembar Petronas. Ternyata untuk menghasilkan gambar yang bagus dengan latar menara pencakar langit tersebut tidaklah mudah. Letaknya yang berada dibelakang dari Suria KLCC menyulitkan kami untuk mengambil posisi yang bagus atau strategis. Beberapa kali bidikan kamera menghasilkan gambar yang tidak memuaskan kami dan terpaksa harus mengulang berkali-kali. Belum lagi kerumunan orang ramai yang lalu lalang dan melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan memaksa kami untuk bersabar mencari posisi dan waktu yang pas agar kamera benar-benar dapat membidik kami secara maksimal. Pun pencahayaan malam juga sangat berpengaruh terhadap hasil foto. Meski telah dilengkapi dengan kamera yang mumpuni, toh gambar yang dihasilkan tidak terlalu tajam.

Penampakan diri di Menara Kembar
Penampakan diri di Menara Kembar
Berfoto ramai-ramai
Berfoto ramai-ramai

Pada akhirnya aktifitas berfoto dengan latar menara petronas terhenti untuk sesaat dan perhatian orang-orang mulai teralihkan dengan pertunjukan air mancur menari yang akan segera berlangsung. Semua orang tampak berkonsentrasi dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Dan saat musik mulai dimainkan, tiba-tiba dari berbagai arah keluar semburan air mancur dengan cahaya warna-warni bergerak kekiri, kekanan, keatas dan kebawah. Gerakannnya meliuk-liuk seakan-akan menari mengikuti irama musik. Luar biasa cantik dan indahnya. Baru pertama kali ini dengan mata kepala sendiri aku bisa menyaksikan atraksi yang mempesona hati. Apalagi musik tersebut iramanya menghentak dan merupakan rekaman lagu dari seorang pria yang suaranya merdu banget. Cara menyanyikannya juga begitu menghayati dan nasionalis sekali karena syair dari lagu itu sendiri bercerita tentang kejayaan dan kegemilangan Negara Malaysia.

Tentu saja semua orang berdecak kagum dan bertepuk tangan dengan atraksi yang memukai tersebut. Sehingga wajar bila mereka tidak rela melewatkan momen yang indah itu dengan secara spontan memfoto dan merekamnya. Sudah barang tentu kami pun melakukan hal yang sama. Dan aku pribadi dengan baterai kamera ponsel yang hampir sekarat buru-buru merekamkannya agar bisa menjadi bahan dokumentasi yang dapat dikenang bila-bila masa. *Mencoba bercakap macam orang malay pada kata yang dicoret*.

Air mancur menari yang indah meliuk-liuk
Air mancur menari yang indah meliuk-liuk

Puas berfoto dan menonton pertunjukan air mancur menari, kami putuskan untuk segera pulang ke hotel mengingat malam telah makin larut, hujan makin lebat dan tentu saja badan yang lelah. Namun tidak serta merta kami bisa balik dengan cepat. Mencari taksi di Kuala Lumpur tidaklah mudah. Berkali-kali kami ditolak dengan 2 alasan utama, yaitu si sopir malas menghadapi kemacetan dan harga yang kami tawar menurut mereka kemurahan (padahal hotel tempat kami menginap tidak terlalu jauh lokasinya). Meski begitu kami tetap sabar menunggu dan itu berbuah manis dengan berhasilnya kami mendapatkan tumpangan. Sepanjang perjalanan, si sopir yang warga asli melayu bercerita banyak tentang Kuala Lumpur dan pernak-perniknya. Sesekali ia mencandai kami dengan bahasa melayu yang sebenarnya sukar kami pahami tapi tetap kami reka-reka maksud dan artinya dalam hati. Toh, akhirnya stigma negatip tentang sopir taksi di Malaysia terbukti juga pada kami. Si sopir menurunkan kami di Jalan Alor dengan alasan sulit menerobos kemacetan dan harga yang harus kami bayar juga tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Karena memang tidak ingin ribut, kami berikan saja tarif yang ia minta yang sedikit agak mahal. Meski agak dongkol dengan kelakuan si sopir, pada akhirnya malam itu kami tutup juga dengan tidur nyenyak.

One thought on “Melawat Ke Kuala Lumpur (Bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s