Melawat Ke Kuala Lumpur (Bagian 4)


Wisata kuliner di Jalan Alor
Wisata kuliner di Jalan Alor

Semasa berada di Malaysia, banyak hal-hal baru yang menjadi perhatianku. Berhubung ini mungkin adalah perjalanan pertamaku ke luar negeri, maka hal-hal tersebut menjadi menarik untuk diamati, mulai dari budayanya, bahasanya, gaya hidup, kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya, peraturan-peraturan yang berlaku, sarana dan prasarana yang tersedia, hingga kuliner yang ditawarkan. Rasanya senang saja mendapatkan pengalaman yang mungkin sedikit agak berbeda dengan apa yang selama ini dijalani di negeri sendiri. Meski sebenarnya Malaysia dan Indonesia adalah negara serumpun yang menjunjung tinggi adat istiadat melayu, tetap saja perbedaan itu ada. Dari perbedaan itu, aku setidaknya bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing negara.

Yang tak kalah penting semasa berada disana adalah kejadian-kejadian yang berlaku yang tidak kami jangkakan sebelumnya, dan ini malah menjadi pengetahuan baru bagi kami sekaligus kenangan yang akan membekas seumur hidup. Kejadian-kejadian itu antara lain :

BEKERJASAMA DENGAN PERUSAHAAN TERTENTU

2014-02-15 09.13.57Ternyata apa yang pernah kubaca di buku-buku pelancongan perihal supir-supir nakal yang sering membawa penumpangnya ke tempat-tempat penjualan barang (meski sebenarnya si penumpang tidak menginginkan hal tersebut) terbukti adanya. Ini pula yang rombongan kami alami. Tanpa diminta, si supir pemandu bas persiaran membawa kami ke sebuah kedai yang menjual beraneka coklat olahan. Ia meminta kami untuk singgah sekejap sekedar melihat-lihat barangan yang ditawarkan. Saat memperhatikan orang banyak memborong cokelat, hati siapa yang tidak tergoda untuk turut juga membeli.

Dan bagi si supir, tentu ini sebuah keuntungan. Dengan berhasil mengajak wisatawan berkunjung ke kedai cokelat tersebut, ia mendapatkan komisi beberapa persen. Melihat kejadian ini, semakin yakin bahwa bisnis pariwisata tidak bisa dilepaskan dengan yang namanya modus penjebakan.

Minyak angin dengan berbagai khasiat
Minyak angin dengan berbagai khasiat

Selain dibawa ke kedai cokelat, kami juga sempat disinggahkan ke sebuah gerai yang menjual berbagai macam barangan : mulai dari tas, pakaian, produk minuman, hingga herba dan minyak penghilang rasa sakit. Lagi-lagi di gerai tersebut kami membeli beberapa produk kesehatan, yaitu berupa minyak angin yang apabila dioleskan ke kulit akan terasa panas yang luar biasa (testimoni teman yang telah mencobanya saat tiba di rumah).

MENELPON DAN INTERNETAN

Kesalahan kami saat berada di Malaysia adalah tidak membeli kartu provider negara tersebut. Ini tentu menyulitkan kami untuk berkomunikasi satu sama lain apabila ingin berpencar pada suatu tempat. Akibatnya, kami terpaksa harus terus bersama-sama dan tidak boleh terpisah. Padahal kesempatan untuk membeli kartu provider sana terbuka lebar saat tiba di bandara LCCT. Beberapa orang menawarkan jasa penjualan kartu provider tersebut sekaligus meregistrasikannya. Tapi entah kenapa kami ragu untuk melakukannya.

Seharusnya sewaktu di bandara membeli kartu seluler lokal
Seharusnya sewaktu di bandara membeli kartu seluler lokal

Tentu ketidakadaan jaringan tersebut membuat kami tidak berdaya untuk melakukan panggilan komunikasi. Jika tetap memaksakan mempergunakan provider Indonesia, dipastikan pulsa akan tersedot habis karena roaming. Dan itu sempat terjadi padaku saat berada di bandara menunggu waktu kepulangan. Ketika menjawab panggilan telepon dari Almarhum abah yang ada di Samarinda, tiba-tiba baru beberapa percakapan, langsung putus. Saat kucek pulsa, sisanya tinggal 0 rupiah. Padahal pulsa di telepon selulerku sebelum berangkat ke Malaysia terisi cukup banyak.

Begitupula dengan jaringan internet. Rasanya mati kutu karena tidak dapat memperoleh informasi terkini dari orang sekitar kita melalui media sosial. Memang di Hotel tempat kami menginap disediakan fasilitas WIFI. Cuma, jaringannya hanya kuat di lobi saja. Saat telah masuk kedalam bilik kamar, jaringannya megap- megap sehingga benar-benar menguji kesabaran.

LAUNDRY

Gara-gara laundry, semuanya jadi kalang kabut
Gara-gara laundry, semuanya jadi kalang kabut

Ada kejadian yang tidak diinginkan menimpa keponakanku tentang masalah laundry. Karena ketidaktahuannya tentang peraturan dalam kamar hotel, maka baju-baju kotornya ia masukkan ke dalam kantong kresek laundry. Saat kembali ke kamar hotel pada sore harinya, ia kebingungan mencari dimana kantong kresek yang berisi baju kotornya tersebut. Tante-tantenya pun turut sibuk mencari. Tapi hasilnya nihil. Selidik demi selidik, akhirnya diketahui bahwa ada petugas yang mengambil kantong kresek dan mungkin berpikiran bahwa baju-baju di dalam kresek tersebut ingin dilaundry. Menyadari hal tersebut, kakak langsung melapor ke resepsionis dan menerangkan permasalahan yang terjadi serta meminta agar baju-baju kotor tersebut segera dikembalikan (mengingat subuh nanti kami harus sudah ada di bandara untuk penerbangan pulang). Mendengar hal itu, resepsionisnya juga merasa kebingungan karena menurut penjelasannya hasil laundry baru bisa diambil keesokan paginya mengingat yang mengerjakannya adalah pihak ketiga. Tapi ia berjanji untuk menelpon pihak ketiga agar membatalkan laundry tersebut. Kami yang mendengar hal itu hanya bisa pasrah dan berusaha ikhlas jika ternyata baju-baju tersebut memang harus hilang. Alhamdullillah, pihak ketiga yang ditelpon oleh si resepsionis hotel berbaik hati untuk mengantarkan balik baju-baju keponakanku meski hari telah larut. Ini tentu pelajaran berharga bagi kami semua, lebih-lebih bagi keponakanku.

NAIK MONORAIL

Berhubung monorail belum ada di Indonesia, maka dengan antusias kami mencoba transportasi ini saat hendak balik ke hotel dari Berjaya Times Square. Padahal jarak antara Berjaya Times Square ke MY Hotel, tempat kami menginap jaraknya tidak terlalu jauh dan sebenarnya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Cuma, untuk memuaskan rasa penasaran tentang apa dan bagaimana rasanya naik monorail, maka dipilihlah transportasi massal tersebut. Saat tiba di halte, kami kebingungan dengan rute-rutenya serta cara membeli tiketnya. Untunglah temanku yang telah sering bepergian ke LN dan bahasa inggrisnya cukup bagus mampu memandu kami dengan baik.

2014-02-14 18.13.32-1
Tercapai juga akhirnya naik monorail

Ada 2 cara untuk membeli tiket, yaitu dengan mesin otomatis dan juga secara manual melalui loket penjualan. Kami memilih cara yang manual saja dengan mengantri di loket penjualan dan membayar beberapa ringgit untuk mendapatkan semacam koin. Koin tersebut digunakan untuk bisa masuk ke bagian ruang tunggu dengan cara menyentuhkannya pada bagian atas palang sehingga dengan otomatis palang akan terbuka. Oleh karenanya, koin tersebut juga dinamakan touch and go. Ternyata, naik monorel ini hampir sama saja rasanya dengan naik kereta api (commuter line). Penumpang harus sudah bersiap-siap saat pintu monorel terbuka karena akan berebut dengan penumpang lain untuk mendapatkan kursi. Kalau tidak berhasil mendapatkan kursi terpaksa harus berdiri dengan tangan bergelantungan. Dan apabila telah sampai di halte tujuan, maka koin tersebut harus dimasukkan kembali ke dalam palang.

Saat telah sampai ditujuan, kebingungan kembali melanda kami. Selepas keluar dari halte dan hendak menyeberangi jalan raya, kami mengalami kesulitan. Jalan raya itu sebenarnya tidak terlalu ramai kendaraan, tetapi kecepatannya yang dipacu dengan amat laju menyebabkan kami ragu. Tetapi kenekatan itu mengalahkan rasa takut kami, sehingga dengan berlari-lari rombongan kami menyeberangi jalan. Meski berhasil, ternyata aksi kami tersebut mendapat kecaman dari seorang pemandu mobil dengan meneriaki kami agar menyeberang di jembatan penyeberangan. Mau bagaimana lagi? Jembatan penyeberangan jaraknya agak jauh sehingga malas untuk berjalan kesana mengingat kaki telah terasa letih.

WATAK DAN PERANGAI

Ini hasil (survey) pengamatan selama 2 hari saat berada disana. Mungkin pendapatku ini sifatnya subyektif. Jadi, menurutku dalam beberapa kali berinteraksi dengan warga Malaysia (melayu, cina, dan india) kesannya datar dan kaku. Jarang sekali tersenyum. Kalau ditanya tentang sesuatu hal, hanya dijawab seadanya atau tidak tahu. Saat berbelanja, entah itu di kedai makanan atau mini market, jarang terdengar ucapan terima kasih.

Tapi aku yakin, sebenarnya tidak seperti itu. Mungkin hanya kebetulan saja terjadi pada rombongan kami. Jauh di luar sana, pasti ada banyak orang-orang malaysia yang ramah dan mampu memperlakukan pengunjung luar negara dengan amat baik.

MENGEMAS PARIWISATA DENGAN BAIK

Yang patut diapresiasi dari Pemerintah Malaysia adalah usaha mereka yang mampu mengemas industri pariwisatanya dengan amat baik. Contohnya saja adalah Masjid Negara. Masjid sebagai tempat ibadah umat islam diberdayakan sebagai tempat wisata yang mampu menarik perhatian pelancong mancanegara. Ini tentu menjadi edukasi yang baik untuk mengenalkan islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin dan bisa mengubah pandangan orang-orang di luar sana yang mungkin selama ini islam phobia.

Wisatan asing mengunjungi Masjid Negara
Wisatawan asing mengunjungi Masjid Negara

Bandingkan dengan Masjid Istiqlal di Jakarta yang pernah kukunjungi beberapa tahun lepas, rasanya masih kalah jauh dengan Masjid Negara dari segi jumlah kunjungan pelancong mancanegara. Masjid Istiqlal sebenarnya ramai juga, tetapi lebih didominasi pelancong domestik. Padahal, kemegahan dan keindahan Masjid Istiqlal tidak perlu diragukan lagi.

Hal lain yang juga bisa menjadi pembelajaran bagi Pemerintah Indonesia mengenai pariwisata Malaysia adalah kebersihan dan kemudahan fasilitas kota. Kebersihan tempat wisata di Malaysia benar-benar dijaga dan selalu dikontrol sehingga jarang sekali terlihat sampah berserakan (sekecil apapun). Juga sarana dan prasarana umum tersedia dengan lengkap dan terawat baik sehingga menjadi kemudahan tersendiri bagi para pengunjung.

MASYARAKATNYA ADALAH DUTA PARIWISATA

Sepertinya mungkin ada ketentuan tidak tertulis yang mengharuskan setiap warga untuk mempromosikan pariwisata Malaysia. Ini yang dapat kusimpulkan saat kami berada di Dataran Merdeka. Sebelum mengitari kawasan tersebut, lagi-lagi si supir bas persiaran meminta kami untuk terlebih dahulu masuk ke sebuah bangunan (masih satu komplek dengan Dataran Merdeka) yang bernama Kuala Lumpur City Gallery. Di bangunan tersebut dipamerkan foto-foto sejarah Malaysia Tempo Dulu. Mau tidak mau pelancong digiring untuk mengetahui tentang negara Malaysia lebih mendalam. Dan menurutku, ini cara yang cukup bagus untuk mengikutsertakan masyarakat dalam memperkenalkan negara Malaysia secara keseluruhan.

Masyarakat menjadi duta pariwisata
Masyarakat menjadi duta pariwisata

KULINER

Jalan Alor di malam hari, surganya kuliner
Jalan Alor di malam hari, surganya kuliner

Untuk mencari kuliner enak di Malaysia sebenarnya tidak sulit. Di sepanjang Jalan Alor pada malam hari selepas maghrib, ramai peniaga yang menjajakan makanan. Dan di kawasan tersebut, penuh sesak dengan pelancong-pelancong asing maupun warga tempatan yang berburu makanan lezat. Kami sebenarnya ingin mencoba mencicipi makanan disana, tapi ragu karena kebanyakan makanan yang ditawarkan adalah chinesse food. Memang masing-masing stand makanan tersebut telah membuat tanda tulisan halal, namun tetap saja keraguan itu ada.

Di Es Teler 77 yang ada di kawasan Central Market
Di Es Teler 77 yang ada di kawasan Central Market
Jauh-jauh ke Malaysia, pesannya tetap nasi goreng
Jauh-jauh ke Malaysia, pesannya tetap nasi goreng
Ini lho air mineral yang terkenal d Malaysia
Ini lho air mineral yang terkenal d Malaysia

Selama disana, lebih banyak makanan cepat saji yang kami santap yang memang sudah familiar dengan lidah kami, yaitu di KFC dan Es Teler 77. Untuk mencari sesuatu yang berbeda, maka pada malam terakhir setelah berputar kesana kemari, kami singgah di sebuah restoran yang telah wujud sejak tahun 1967 dan bernama Killiney. Para pramuniaganya didominasi pria-pria berwajah khas pakistan. Kami memesan beberapa makanan yang didominasi menu lokal dan telah dimodifikasi dengan rasa asia. Setelah mencicipi makanan-makanan itu, menurut kami biasa saja.

Pelayan-pelayan di restoran Killiney ini, kalau di Indonesia mungkin bisa menjadi bintang film
Pelayan-pelayan di restoran Killiney ini, kalau di Indonesia mungkin bisa menjadi bintang film
Menu-menu makanan yang ditawarkan
Menu-menu makanan yang ditawarkan
Menu yang dipesan yang ternyata tidak nyaman di lidah
Menu yang dipesan yang ternyata tidak nyaman di lidah
Killiney awalnya dulu adalah kedai kopitiam
Killiney awalnya dulu adalah kedai kopitiam

WAFER COKELAT

Saat berbelanja pada sebuah Supermarket di Berjaya Times Square, kami kembali mencari aneka olahan cokelat. Namun aku agak terkejut karena wafer-wafer cokelat buatan Malaysia yang biasanya kami beli sewaktu di Tarakan, ternyata tidak tersedia di sana. Yang ada hanya cokelat-cokelat yang berkualitas tinggi dan terkesan ekslusif. Jadi berpikir, apa wafer-wafer tersebut (yang mungkin KW kesekian) hanya diimpor untuk orang-orang Malaysia di Borneo saja yang kemudian diimpor lagi ke daerah perbatasan di Sebatik (Nunukan) dan Tarakan. Akhirnya, yang mengkonsumsi wafer-wafer tersebut lagi-lagi adalah masyarakat Indonesia. Kasihan…..

SUVENIR

Tidak lengkap rasanya jika sepulang dari melancong tidak membawa cinderamata dari negara yang dikunjungi. Oleh karena Malaysia terkenal dengan Menara Kembar Petronas, maka memang pas rasanya membeli suvenir berupa miniatur landmark tersebut. Macam-macam kreasi yang diolah dengan tema landmark Menara Kembar Petronas, antara lain : gantungan kunci, tempat penaruh pulpen, jam, asbak rokok dan lain sebagainya. Harganya pun tidak terlalu mahal, bervariasi antara 5 sd. 10 RM.

Gantungan kunci dan miniatur menara kembar
Gantungan kunci dan miniatur menara kembar

Tidak sampai disitu, saat berada di kabin pesawat Air Asia untuk kepulangan, kembali membeli beberapa barang akibat suatu kesalahan. Ini bermula karena adikku yang meminjam uang beberapa ringgit mengembalikannya saat telah berada di dalam pesawat. Aku tentu marah besar karena uang ringgit tersebut jika ditukar kembali dalam rupiah setiba di Indonesia, tentu dapatnya cuma beberapa ratus ribu rupiah saja. Dan rasanya malu saja jika harus menukarkannya dengan nominal yang sedikit tersebut.

Suvenir-suvenir yang dibeli di Air Asia
Suvenir-suvenir yang dibeli di Air Asia
20140216_101842
Barang yang dibeli langsung digunakan

Aku menggerutu kenapa tidak saat di Kuala Lumpur saja ia kembalikan supaya aku bisa menggunakan uang ringgit itu untuk membeli barang yang lain. Tapi karena sudah terjadi, terpaksa mau tidak mau aku harus menghabiskan uang ringgit tersebut dengan berbelanja beberapa barang yang dijual di dalam kabin. Mumpung maskapai Air Asia masih menerima pembayaran dalam uang ringgit, maka aku harus memanfaatkannya dengan baik. Akhirnya, kuputuskan untuk membeli Air Asia Comfort Kit Set yang isinya sandaran bantal, syal, dan penutup mata untuk tidur.

ANGGARAN

Biaya selama di Kuala Lumpur
Biaya selama di Kuala Lumpur

Secara umum, biaya yang harus dikeluarkan selama berada di Malaysia dalam jangka waktu 3 hari 2 malam perorang berkisar antara 3 sd. 4 jutaan. Tapi sebenarnya, angka itu dapat ditekan jika saja rombongan kami pandai dalam tawar menawar atau mampu mencari alternatif sarana transportasi publik untuk bepergian dari suatu tempat ke tempat lain. Berhubung belum memiliki pengalaman yang baik mengenai hal tersebut, makanya kami hanya menyerahkan sesuatunya pada hukum pasar disana. Kesimpulannya, survey terhadap suatu tempat, baik itu penginapan, transportasi, biaya hidup dan lain-lain mutlak diperlukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam melakukan pelancongan.

 

3 thoughts on “Melawat Ke Kuala Lumpur (Bagian 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s