Naik Pangkat


Bthfp-zCEAELAkE.jpg largeBanyak peristiwa terjadi dalam beberapa bulan belakangan ini yang sebenarnya apabila dituangkan dalam bentuk tulisan akan banyak yang bisa diceritakan. Namun karena kesibukan pekerjaan dan mengurus anak sehingga hal tersebut menjadi terabaikan. Tetapi rasanya tidak adil juga jika menjadikan kesibukan sebagai penyebab kemandegan dalam menulis. Mungkin benar, kesibukan menjadi salah satu alasannya, tetapi ada juga faktor lain yang harus aku akui bahwa inilah biang keladinya, yaitu perasaan malas yang akut.

Namun, agar tidak hilang begitu saja peristiwa-peristiwa yang pernah berlaku tersebut, maka aku rangkum beberapanya yang menurutku memang patut untuk diceritakan karena sifatnya yang bisa jadi bagus, indah, memiliki unsur kenang-kenangan dan juga berisi informasi penting suatu saat nanti. Cerita-cerita itu hanya berkisar seputar aku dan Dilla saja yang temanya lebih menekankan tentang pekerjaan keseharianku dan juga tumbuh kembang puteri kecilku itu.

Naik Pangkat Penyesuaian Ijazah

Alhamdullillah, setelah melalui serangkaian perjuangan, akhirnya tahun ini (sebagai seorang PNS) bisa juga naik pangkat dari golongan II ke golongan III. Kenaikan pangkat ini dikenal dengan nama Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah (KP PI). Yang tadinya saat pengangkatan awal sebagai CPNS masih dengan status pendidikan SMA dan berada pada golongan II, maka kali ini karena telah menyandang gelar strata 1, disesuaikanlah ke golongan III. Ini berarti kenaikan pangkatku lompat beberapa tahun dari normalnya. Kalau mengikuti jalur, seharusnya aku perlu menunggu 12 tahun lagi untuk bisa sampai ke golongan III.

Tentu semua hasil tersebut tidak serta merta diraih dengan mudah. Perlu pengorbanan yang menguji kesabaran untuk sampai ke tahap itu. Tidak terhitung lagi berapa banyak materi yang harus dikeluarkan. Begitupula dengan fisik dan mental yang lumayan menguras pikiran. Semuanya itu dijalani dengan keras hati agar tidak gagal di tengan jalan.

SK Pangkat III/a
SK Pangkat III/a

Rangkaian keberhasilan itu diawali dengan : Kuliah di Universitas Terbuka, lalu Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat, hingga muara akhirnya adalah Kenaikan Pangkat ke Golongan III dengan TMT 1 April 2014. Tapi itupun tidak semulus yang dibayangkan. Saat pengajuan berkas usulan KP PI di BKN Regional VIII Banjarmasin, petugas yang memeriksa dan meneliti usulan tersebut mempertanyakan tentang uraian pekerjaanku. Menurutnya, kalimat redaksi dari uraian pekerjaanku yang tercantum pada surat keterangan tidak mencerminkan bahwa yang apa yang kukerjakan adalah bagian dari pekerjaan seorang sarjana. Menurutnya lagi, seharusnya lingkup pekerjaanku sebagai seorang sarjana adalah meneliti dan menelaah, bukan mengelola.

Kalau ingin jujur, sebenarnya dalam keseharian pun, pekerjaan utamaku adalah meneliti dan menelaah berkas. Tapi mungkin karena sedikit ceroboh akibat terburu-buru sehingga dalam surat keterangan pekerjaan itu malah tercantum kalimat redaksi mengelola. Saat dijelaskan mengenai kekeliruan kalimat redaksi tersebut, si petugasnya bisa maklum meski dengan agak terpaksa. Akhirnya usulan berkas kenaikan pangkatku disetujui. Ya, hanya aku seorang yang lolos dan disetujui dari beberapa orang yang juga diajukan untuk kenaikan pangkat yang sama.

Ikut Lomba Memperingati Harkitnas

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke 106 Tahun 2014, Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda mengadakan pertandingan lomba menghapal UUD 1945 dan Fakta Integritas antar instansi. Entah karena apa, instansi tempat aku bekerja menunjuk aku untuk mewakili salah 1 lomba tersebut, yaitu menghapal Fakta Integritas. Sementara temanku yang lain mengikuti lomba menghafal UUD 1945. Beberapa hari menjelang lomba, aku bekerja keras untuk menghapal. Namun, ternyata tidak mudah untuk melakukannya diusia yang telah lanjut ini, meski sebenarnya ringkas saja teks tersebut.

BoHyqSRIYAAVF0v.jpg large
Sertifikat penghargaan

Technical Meeting yang membahas tentang peraturan lomba dan kriteria penilaian diadakan pada tanggal 2 Mei 2014. Sementara lombanya sendiri dilaksanakan pada Senin pagi, 12 Mei 2014 di Aula kantor Dinas Kominfo Kota Samarinda. Aku sendiri dapat urutan nomor tiga untuk tampil. Tentu saat tampil tersebut timbul perasaan deg-degan. Tetapi aku berusaha untuk menutupinya dengan terus menghapal hingga selesai. Meski lega telah menyelesaikan lomba, tapi sebenarnya ada perasaan tidak puas didiri ini terhadap penampilanku tersebut. Menurutku, aku tidak maksimal dalam menghapal karena tidak bisa mengatur kecepatan sehingga terkesan kelajuan tanpa memperhatikan tanda baca.

BoHy_ttIYAArN0n.jpg large
Plakat penghargaan

Hari itu juga pemenang lomba diumumkan. Tanpa terlalu banyak berharap, aku tenyata dinyatakan sebagai pemenang ketiga. Syukur Alhamdullillah. Yang lebih hebat lagi, temanku yang ikut lomba menghafal UUD 1945, menjadi juara 1 dan mendapat kehormatan untuk bertugas membaca UUD 1945 di Halaman Parkir Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Timur pada peringatan Harkitnas.

Hadiah berupa uang tunai
Hadiah berupa uang tunai

Hadiahnya sendiri diberikan pada rangkaian peringatan Harkitnas ke 106 tanggal 20 Mei 2014 oleh Gubernur Provinsi Kalimantan Timur. Oleh karena itu, panitia memang mewanti-wanti kepada seluruh pemenang untuk hadir pada peringatan tersebut. Tetapi namanya aku yang memang dasarnya malas untuk kesana, akhirnya tidak menghadirinya. Keesokan harinya, baru mengambil hadiah tersebut di Kantor Dinas Kominfo Samarinda, berupa sertifikat, plakat dan juga uang tunai senilai 1 juta rupiah.

Smartphone Baru

tumblr_inline_n7agz9X6WE1s09932Tidak disangka di tahun ini bisa mendapatkan smartphone baru. Itu artinya setelah 2 tahun 7 bulan ditemani smartphone lama yang mulai suak, akhirnya mendapatkan lagi smartphone yang anyar.

Smartphone tersebut adalah Sony Experia M2. Harganya Rp. 3 juta dan diperoleh dengan cara membeli dari kakak secara kredit. Ceritanya, kakak membeli smartphone itu beberapa hari yang lalu. Tapi entah kenapa ia merasa kurang sreg dan ingin mencari yang lebih canggih. Akhirnya ia menawarkan smartphone tersebut ke aku dengan ketentuan membayar dp sebesar 1 juta dan sisanya dicicil Rp. 200 ribu setiap bulan selama 10 kali,

Tadinya aku merasa bimbang apakah harus menerima tawaran tersebut atau tidak mengingat rasanya sayang mengeluarkan uang sebanyak itu. Tetapi setelah ditimbang-ditimbang, aku terima tawaran tersebut dengan dalih bahwa jika aku membeli smartpone itu secara kredit diluaran, pasti harganya akan lebih membengkak.

Flip cover smartphone
Flip cover smartphone

Akhirnya smartphone Sony Experia M2 itu benar-benar berada di genggamanku pada Sabtu malam, 14 Juni 2014. Dan langsung saja pada malam itu juga aku membeli kartu sim untuk memudahkan dalam mengakses internet mengingat kartu sim lama yang aku miliki tidak bisa digunakan karena ukurannya yang besar. Ini juga jadi pengetahuan baru bagiku bahwa smartphone-smarphone yang sekarang dirancang dengan kartu sim yang ukurannya lebih kecil. Dengan keadaan itu, mau tidak mau kartu sim yang baru aku beli dipotong dengan alat khusus yang memang dimiliki petugas counter.

Supaya smartphone yang baru dibeli tersebut awet, maka keesokan siangnya aku pergi ke Surya Phone yang beralamat di Jl. Abul Hasan (berseberangan dengan STAIN Samarinda) untuk membeli aksesori pendukungnya berupa stiker anti gores (Rp. 32 ribu) dan flip cover (Rp. 75 ribu). Juga tidak lupa melengkapinya dengan kartu SD 8 giga (Rp. 55 ribu) agar aman dan nyaman dalam menyimpan data-data.

Puasa

Tingkah polah Dilla yang selalu sibuk dan ingin ikut berbuka puasa
Tingkah polah Dilla yang selalu sibuk dan ingin ikut berbuka puasa

Puasa tahun ini juga menjadi sesuatu yang amat berbeda dari tahun sebelumnya, terutama dengan kehadiran Dilla yang telah mulai membesar. Jika tahun kemarin Dilla masih berstatus bayi merah berusia 2 bulan yang kesehariannya lebih banyak dihabiskan dengan tidur, maka tidak pada tahun 2014 ini. Dilla telah menjelma menjadi bayi lincah yang mulai mengerti tentang keramaian dan arti bermain-main.

Tentu yang paling merepotkan adalah saat berbuka puasa dan waktu sahur. Dengan kelincahannya, Dilla juga ikut sibuk dengan apa yang kami persiapkan. Saat waktu berbuka, Dilla mulai mengacau dengan mengambil beberapa makanan yang tersedia. Ia memburu kemanapun makanan itu ada meski telah kami pindahkan posisinya. Jika dilarang, suara tangisnya akan memecah. Itu yang membuat kami jadi tidak dapat berkonsentrasi.

Saat sahur pun juga begitu. Kami harus ekstra hati-hati dan sebisa mungkin tidak menimbulkan kegaduhan supaya Dilla tidak terbangun. Jika akhirnya Dilla bangun, alamat harus mengalami kerepotan lagi dengan mengepunginya kesana kemari. Alhasil, sahur pun harus kami lakukan secara bergantian. Untunglah hal ini tidak selalu terjadi tiap hari.

Saat puasa, usia Dilla telah mencapai 13 bulan, keaktifannya juga semakin bertambah
Saat puasa, usia Dilla telah mencapai 13 bulan, keaktifannya juga semakin bertambah

Puasa tahun ini juga kujalani dengan perasaan yang agak hampa. Ya, mulai tahun ini, kami sekeluarga tidak bisa lagi melewatkannya bersama abah yang telah berpulang ke rahmatullah. Rasanya ada yang kurang dan tentu saja menyedihkan, terutama untuk diriku pribadi.

Masih ingat bagaimana almarhum abah usai sholat maghrib telah rapi dengan baju batik dan kain sarungnya duduk di ruang tamu bersiap menunggu seruan azan berikutnya untuk sholat isya dan tarawih. Beliau begitu bersemangat melangkahkan kaki menuju langgar yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah. Pulang dari sholat tarawih, biasanya aku sering mendengar senandung shalawat keluar dari mulut abah. Rupanya beliau antusias dengan lantunan-lantunan shalawat yang biasanya dikumandangakan saat sholat tarawih hingga tanpa sadar sering menirukannya.

Ingat momen-momen itu, jadi rindu abah kembali. Rasa sesak di dada ini dan tanpa sadar air mata menetes. Ah, anakmu yang lemah ini memang tidak akan pernah bisa melupakanmu. Dan jika sudah begitu, tiba-tiba perasaan menyesal itu luar biasa hebat menghantui anakmu ini. Anakmu yang tidak bisa maksimal membahagiakanmu semasa hidup. Anakmu yang selalu menyusahkanmu karena ketidabisaannya menghadapi hidup. Dan anakmu yang penuh dengan rengekan meminta bantuan darimu di saat kesulitan-kesulitan itu datang.

Hanya bisa berdoa semoga almarhum abah memaafkan atas kesalahan-kesalahanku selama ini dan semoga Allah SWT merahmati dan menempatkan abah di surga-Nya yang indah bersama orang-orang sholeh. Amin Ya Rabbal Alamin.

Lebaran

Dilla tidur lelap di dalam mobil
Dilla tidur lelap di dalam mobil

Lebaran kali ini juga berbeda untuk Dilla. Dilla untuk pertama kalinya dibawa ke Balikpapan. Artinya, lebaran tahun ini dihabiskan Dilla di rumah nenek dan kakeknya di Kawasan Gunung Kawi. Ya, selama ini memang Dilla belum pernah sama sekali dibawa ke Balikpapan semenjak ia lahir. Jadi, ke Balikpapan ini saat usia Dilla telah mencapai 13 bulan.

Dilla bersama mama dan kakeknya
Dilla bersama mama dan kakeknya

Ada perasaan was-was mengajak Dilla ke Balikpapan mengingat ini adalah perjalanan jauh pertamanya. Tapi kami selaku orangtuanya mau tidak mau harus membawanya tahun ini juga untuk memperkenalkannya dengan keluarga di Balikpapan. Oleh karena itu, jauh-jauh hari persiapan telah dibuat sedemikan rupa. Hingga pada hari H-nya yaitu 2 hari menjelang lebaran, Sabtu, 26 Juli 2014, perjalanan akhirnya dimulai. Bawaan barang pun seperti orang yang hendak pindah rumah saja. Tapi untunglah karena kami mencarter mobil kijang innova yang bagasinya luas, semua barang yang banyak tersebut tidak menjadi masalah.

Hari pertama lebaran
Hari pertama lebaran

Sepanjang perjalanan, awalnya Dilla merasa enjoy. Tapi makin lama, ia merasa kebosanan hingga harus berpindah-pindah posisi duduk kedepan dan kebelakang. Mujur, mobil yang kami carter tersebut adalah mobil yang memang sering kami carter untuk pekerjaan kantor sehingga sopirnya sendiri sudah kami kenal dengan baik. Dengan begitu, kami tidak merasa canggung meski Dilla banyak berulah. Mungkin karena lelah dengan keaktifannya tersebut, akhirnya saat diberikan susu, Dilla tertidur pulas hingga sampai ke tempat tujuan.

Menangis saat dibawa ke pantai
Menangis saat dibawa ke pantai

Saat berada di Balikpapan selama seminggu, banyak hal yang harus disesuaikan Dilla. Terutama tidurnya dalam 2 malam pertama. Ya, 2 malam pertama itu, Dilla begitu rewel sehingga membuat kami kebingungan dan berusaha keras menenangkannya. Untunglah, malam-malam selanjutnya ia sudah mampu tertidur pulas. Begitupula dengan sambutannya dengan orang-orang baru, yaitu nenek, kakek, om dan tantenya. Karena mungkin jarang bertemu, Dilla merasa takut ketika digendong mereka. Hal itu jadi merepotkan karena ia tidak mau lepas dan tidak mau jauh dari pandangan kami. Beruntung, setelah berapa hari, ia mulai terbiasa dengan orang dan lingkungan sekitarnya.

Berfoto dulu sebelum bersilaturahmi
Berfoto dulu sebelum bersilaturahmi

Saat dibawa bersilaturahmi ke tetangga maupun keluarga terdekat, Dilla juga agak rewel dan tidak betah. Maunya cepat pulang dan juga cepat mengantuk. Bahkan, ke pantai pun juga sepertinya tidak suka. Ceritanya, pada hari ketiga atau keempat lebaran, kami mengunjungi keluarga yang berada di daerah Manggar. Nah, rumah keluarga itu, diseberangnya adalah pantai. Saat kubawa Dilla ke pantai, ia menangis-nangis. Di foto pun dengan susah payah dengan ekspresi bercucuran air mata.

Nah, pada saat menjelang pulang ke Samarinda, ada kejadian yang tidak mengenakkan. Mobil carteran yang direkomendasikan oleh sopir kami sebelumnya, bertingkah kurang ajar. Saat dihubungi dan ditanya, jawabanya terkesan tidak ramah. Belum lagi ia meminta kenaikan tarif yang tentu saja memberatkan. Tanpa ragu-ragu, kami membatalkan mobil carteran itu. Sopirnya marah dan menyumpahi kami dengan hal-hal yang mengerikan. Kami cuma bisa mengelus dada saja dan meminta sopir yang mengantar kami sebelumnya untuk mencarikan sopir lain yang lebih ramah. Alhamdullillah dapat dan kami diantar sampai ke rumah dengan pelayanan yang baik dan memuaskan. Kalau sudah begitu, memberikan tambahan kami tidak sungkan-sungkan kami lakukan.

Mengabadikan momen indah saat lebaran
Mengabadikan momen indah saat lebaran

Oh ya, saat di Balikpapan, sewaktu mendengarkan lantunan takbir di malam hari, terasa menyentuh hati. Tiba-tiba teringat kembali dengan almarhum abah. Ya Allah, rindu dengan kehadiran abah semakin tidak dapat terbendung. Namun apa daya, tahun ini pun harus mulai merelakan untuk tidak berlebaran lagi bersama abah buat selama-lamanya.

Kacamata Baru

Bt_IwX7CMAAXj4K.jpg large
Kacamata yang lensanya retak

Insiden kecil yang membuat jengkel diri ini juga berlaku saat berada di Balikpapan. Subuh hari menjelang kepulangan ke Samarinda, tanpa sengaja, kacamata yang kuletakkan di lantai terduduki. Akibatnya, lensanya menjadi retak. Bukan main kesalnya diri ini. Terpaksa pulang dengan mengenakan kacamata yang retak tersebut meski terlihat lucu dan tidak nyaman.

Harga kacamata jaman sekarang ini lumayan mahal
Harga kacamata jaman sekarang ini lumayan mahal

Kelalaian yang menyebakan kacamata retak ini harus kubayar dengan beberapa ratus ribu rupiah untuk menggantinya. Ya, setibanya di Samarinda, segera aku menuju optik yang terdekat dari rumah, yaitu Optik ACC di Jalan Agus Salim. Petugasnya menawarkan agar aku menggunakan kacamata baru dengan ukuran minus yang sama dengan kacamata lama. Aku mengangguk tanda setuju. Lalu, kuserahkan kacamata lamaku tersebut kepadanya untuk ia periksa dengan suatu alat yang dapat mengetahui pasti ukuran sebenar dari minus-ku itu.

Kacamata cadangan yang dimiliki waktu kuliah dulu
Kacamata cadangan yang dimiliki waktu kuliah dulu

Ada 2 hal yang harus aku lakukan usai pemeriksaan, yaitu pertama memilih gagang/frame dan kedua memilih lensa kacamata. Untuk gagang, aku memilih yang harganya tidak terlalu mahal dengan bentuk lonjong. Untuk lensa, aku memilih yang terbuat dari kaca. Meski berat, tapi kaca tidak mudah tergores. Sementara jika memilih mika, memang ringan tetapi mudah tergores.

Kacamata baru yang siap pakai
Kacamata baru yang siap pakai

Oh ya, karena ada silindris, kacamata baru itu tidak bisa langsung jadi. Aku terpaksa menunggu seminggu lebih mengingat pembuatan kacamata yang ada silindris-nya harus dipesan dulu dari Pulau Jawa. Mau tidak mau, selama 1 minggu lebih itu aku harus berjuang mengatasi kekaburan. Untungnya, aku masih memiliki cadangan kacamata, yaitu kacamata awal dan pertama kali pernah aku miliki sewaktu kuliah dulu. Itupun sudah tidak nyaman lagi digunakan karena gagangnya yang bengkok sebelah.

Dan akhirnya, kacamata baru itu benar-benar bisa aku kenakan pada Rabu, 13 Agustus 2014. Senangnya bisa kembali mendapatkan penglihatan yang terenggut beberapa pekan. Mudah-mudahan aku bisa menjaganya dengan awet. Hmmm….. kalau dihitung-hitung, ini sudah yang ketiga kalinya aku mengganti kacamata.

Bu6B3T7CMAAqvTw.jpg large

Menjaga Dilla Seorang Diri

Berhubung nenek, tante dan om yang biasa menjaga Dilla pergi ke Banjarmasin dan juga mamanya yang dinas luar ke Bali, maka selama 3 hari di bulan Agustus kemarin, tepatnya tanggal 21 sd. 23, aku harus menjaga Dilla seorang diri. Alhasil pada 3 hari tersebut aku berperan ganda, sebagai seorang ayah sekaligus ibu.

Gaya-gaya Dilla saat kujaga sendirian
Gaya-gaya Dilla saat kujaga sendirian

Dengan menjaga Dilla seorang diri, jadi memahami betapa tidak mudahnya mengurus anak kecil. Apalagi sekarang ini Dilla dalam masa aktif-aktifnya sehingga harus sigap memberinya makan, memandikannya, mengajaknya bermain hingga menidurkannya. Untung saja selama menjaganya, Dilla tidak terlalu rewel. Coba jika Dilla dalam keadaan tidak terkendali, misalkan saja menangis menjerit-jerit, pasti aku bakalan kewalahan. Tapi, meski dalam keadaan tenang sekalipun, yang namanya menjaga anak kecil tetap saja membuat diri ini merasa kelelahan karena harus mengepunginya kesana kemari.

Gara-gara dibawa ke lantai 2, Dilla nekat ingin mengulangi lagi dgn naik sendiri
Gara-gara dibawa ke lantai 2, Dilla nekat ingin mengulangi lagi dgn naik sendiri

Saat menjaga Dilla tersebut, aku mengalami kecolongan. Karena sedikit agak lengah, Dilla rupanya berusaha naik ke lantai 2. Mengetahui bahwa Dilla telah berhasil mencapai anak tangga yang kelima, secara spontan aku meraih badannya dan seketika itu pula memarahinya. Dilla menangis dan itu membuatku merasa kasihan. Yang patut dipersalahkan atas kenekatan Dilla itu adalah aku sebagai ayahnya yang tidak waspada menjaganya.

Meski badan ini gemetaran mengetahui aksi Dilla yang berbahaya tersebut, aku tetap mengucapkan syukur Alhamdullillah karena Dilla masih selamat dan sehat wal afiat. Tidak terbayangkan jika Dilla sampai terjatuh ke bawah dan kepalanya terbentur ke kayu ulin, pasti penyesalan seumur hidup yang akan kurasakan. Ya Allah, mudahan kejadian serupa tidak terulang lagi.

Usut punya usut ternyata aksi Dilla ini dilatari karena ia merasa ketagihan akibat pagi harinya aku telah membawanya ke lantai atas (lantai 2) untuk bermain-main. Rupa-rupanya ia merekam semua itu dalam memorinya dan berencana untuk kesana lagi dengan belajar cara mencapai anak tangga tersebut. Dan ia sukses melakukannya. Sementara aku sendiri selama ini tidak pernah berpikir bahwa ia akan mampu melakukannya mengingat selama ini ia masih begitu kecil.

Gaya-Gaya Dilla

Hal yang selalu menarik setelah memiliki anak adalah mengabadikan aksi dan tingkah lucu si kecil dalam bidikan foto. Tidak bosan-bosannya aku memfoto dilla dalam berbagai kesempatan. Hal itu menjadi kesenangan tersendiri karena sewaktu-waktu akan bisa kembali melihat momen-momen lamanya yang telah terekam dengan begitu indah.

This slideshow requires JavaScript.

2 thoughts on “Naik Pangkat

  1. Apresiasi cerita dan curhatnya pakūüôā sangat menggugah, kita juga butuh catatan hidup, untuk kelak di lihat anak-anak kita, walau kita sudah tak sanggup berkataūüôā

  2. selamat naik pangkat yaa… Semoga membawa keberkahan…
    Saya udah gak bisa naik pangkat lagi… Jadi pasukan mentok…ūüėÄ
    Tapi apa pun itu keadaannya, harus disyukuri… Dinikmati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s