Museum Lambung Mangkurat


Tampak depan dari Museum Lambung Mangkurat
Tampak depan dari Museum Lambung Mangkurat

Mengunjungi museum bukanlah hal yang baru bagiku, tetapi frekuensi kesana tidak sekerap jika dibandingkan dengan mengunjungi tempat-tempat wisata. Namun, jika berhasil mengunjungi sebuah museum, maka akan ada kesenangan tersendiri yang memuaskan hati ini. Terutama yang berkaitan dengan bertambahnya pengetahuan mengenai sejarah-sejarah masa lalu.

Aku merasa beruntung karena diberi kesempatan kembali untuk bisa menengok keberadaan sebuah museum di Kalimantan Selatan, tepatnya di Kota Banjarbaru. Museum itu adalah Museum Lambung Mangkurat. Keberadaanya mudah untuk ditemukan karena terletak persis di pinggir jalan raya Ahmad Yani Km. 36. Transportasi umum berupa angkot juga melewati jalur ini sehingga tidak ada alasan untuk tidak kesana.

Peraturan yang harus dipatuhi pengunjung
Peraturan yang harus dipatuhi pengunjung
Tangga menuju ruang utama museum
Tangga menuju ruang utama museum
Ruang sejarah yang banyak mengetengahkan sejarah Provinsi Kalimantan Selatan
Ruang sejarah yang banyak mengetengahkan sejarah Provinsi Kalimantan Selatan
Pasar Terapung tempo dulu
Pasar Terapung tempo dulu
Pasar Terapung telah eksis puluhan tahun silam
Pasar Terapung telah eksis puluhan tahun silam

Rencana untuk ke Museum Lambung Mangkurat hampir batal karena hujan lebat yang mengguyur sejak pagi hari tidak juga berhenti. Tetapi setelah dipikir-pikir rasanya rugi juga jika gagal kesana hanya karena rintangan tersebut. Apalagi ke Banjarbaru ini belum tentu dilakukan lagi. Jadi, aku ambil resiko keluar dari penginapan dan menyetop angkot yang banyak berseliweran untuk segera membawaku ke museum.

Tidak berapa lama, angkot yang kutumpangi tersebut telah sampai di depan museum. Segera aku bergegas menuju pintu gerbang yang dijaga oleh 2 orang petugas. Kukatakan maksud dan tujuanku. Lalu, petugasnya mengeluarkan selembar tiket yang harus kutebus sebesar Rp. 2.000,-. Murah meriah dan rasanya tidak sebanding dengan pengetahuan yang didapatkan. Tapi entahlah, kenapa dengan harga tiket yang semurah itu, masih banyak juga orang yang enggan untuk melawat ke museum.

Miniatur rumah adat suku banjar di Kalimantan Selatan
Miniatur rumah adat suku banjar di Kalimantan Selatan
Baju dan alat-alat kesenian musik daerah
Baju dan alat-alat kesenian musik daerah
Tawing Halat berfungsi sebagai hiasan atau penyekat antara ruang tamu dengan ruang tengah
Tawing Halat berfungsi sebagai hiasan atau penyekat antara ruang tamu dengan ruang tengah
Peralatan untuk bertukang dan bertani
Peralatan untuk bertukang dan bertani
Kerajinan kuningan Nagara
Kerajinan kuningan Nagara

Bentuk bangunan Museum Lambung Mangkurat ini mengadopsi dari bentuk rumah adat khas suku banjar yang merupakan suku utama di Provinsi Kalimantan Selatan. Terlihat yang paling menonjol adalah atapnya yang lonjong memanjang. Sedangkan kuning menjadi warna dominan dari keseluruhan bangunan yang luasnya kira-kira 2 kali lapangan sepak bola. Kalau mengelilingi museum ini, lumayan membuat kaki pegal.

Memasuki halaman utama museum, suasana begitu senyap. Belum ada pengunjung selain diriku saja. Ada perasaan seram jika harus memasuki museum seorang diri mengingat suasananya yang begitu mistis karena banyak benda-benda masa lalu dan bersejarah yang dipamerkan. Namun, aku mencoba untuk melawannya dengan terus melangkah masuk mengamati apa yang memang ada di museum tersebut. Tidak berapa lama setelah itu, serombongan anak-anak sekolah dasar bersama guru mereka datang menyerbu museum. Keributan akhirnya terjadi. Anak-anak tersebut berlari kesana kemari mengobservasi benda-benda yang ada sembari mencatat keterangan-keterangan yang menurut mereka mungkin penting. Mereka terlihat serius, tetapi ada juga yang hanya bermain-main.

Minirama Kalang Hadangan
Minirama Kalang Hadangan
Pelaminan khas suku banjar
Pelaminan khas suku banjar
Mushaf Al Quran tulisan tangan
Mushaf Al Quran tulisan tangan
Miniatur kapal sebagai sarana tranportasi laut
Miniatur kapal tradisional sebagai sarana tranportasi laut masyarakat lokal
Baju adat pengantin suku banjar
Baju adat pengantin suku banjar

Setelah rombongan anak-anak sekolah itu selesai dengan tugasnya, suasana museum kembali sepi. Tinggal aku dengan keasyikanku sendiri menelusuri tiap ruangan. Aku lalu memandangi foto-foto sejarah Provinsi Kalimantan Selatan Tempo Dulu, utamanya sekali tentang aktifitas perekomian masyarakatnya yang sangat bergantung sekali dengan sungai. Terlihat dengan jelas pada foto-foto itu dimana orang-orang sibuk berniaga di pasar terapung. Jumlahnya pun lumayan banyak. Foto lain yang ditampilkan adalah rumah lanting pada kisaran tahun 1934.

Benda-benda lain yang turut dipamerkan adalah miniatur rumah adat, miniatur sampan, pakaian-pakaian adat pernikahan suku banjar, kerajinan tangan, alat-alat kesenian hingga diorama pelaminan. Semua itu memberikan informasi yang bermanfaat bagi para pengunjung perihal adat istiadat dan budaya yang wujud di masyarakat Provinsi Kalimantan Selatan. Apalagi benda-benda tersebut ditampilkan secara detail sehingga mampu menyihir pengunjung untuk merasakan secara langsung sensasi budaya dan adat istiadat lokal. Dengan begitu, kita sebagai pengunjung paling tidak diajarkan untuk menghormati dan mencintai resam kehidupan lokal yang mengutamakan unsur-unsur kebajikan dan kearifan alam.

Perkakas rumah tangga
Perkakas rumah tangga
Kerangka paus raksasa yang ditemukan di Kab. Kotabaru tahun 1991
Kerangka paus raksasa yang ditemukan di Kab. Kotabaru tahun 1991
Aksi heroik masyarakat banjar menantang penjajahan
Aksi heroik masyarakat banjar menantang penjajahan
Candi Agung
Candi Agung yang dibangun Pangeran Suryanata
Benda-benda yang ditemukan disekitaran Candi Laras
Benda-benda yang ditemukan disekitaran Candi Laras

Lanjut ke bagian lain dari museum. Kali ini aku dilempar ke beberapa abad untuk merasakan peristiwa yang pernah terjadi pada jaman kerajaan. Banyak peninggalan-peninggalan berharga yang dapat disaksikan untuk mengenang masa kejayaan kerajaan-kerajaan itu. Contohnya saja adalah benda-benda berupa patung dewa dan binatang yang berasal dari sebuah Candi, yaitu Candi Laras. Dengan adanya candi itu, diperkirakan bahwa pernah berkembang kebudayaan Hindu di Provinsi Kalimantan Selatan.

Benda-benda yang dipamerkan banyak yang berasal dari jaman Kerajaan Banjar. Ada replika pusaka-pusaka kerajaan, antara lain : kursi emas, penginangan, talabang (perisai), payung kerajaan, tombak dan mahkota. Pusaka-pusaka itu dibuat dari emas untuk mengesankan kejayaan dan kemegahan. Yang ditampilkan di Museum Lambung Mangkurat hanyalah replikanya saja. Benda asli yang terbuat dari emas disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Singgsana kerajaan
Singgasana kerajaan yang megah
Stempel milik kerajaan
Stempel milik kerajaan
Stempel milik kerajaan
Stempel milik kerajaan
Pedang menjadi senjata andalan kerajaan
Pedang menjadi senjata andalan kerajaan
2014-03-13 09.51.18
Lambang kerajaan banjar

Benda-benda lain milik Kerajaan Banjar yang dapat disaksikan adalah senjata berupa pedang panjang, cap kerajaan, bendera kerajaan, alat-alat musik, dan juga meriam. Selain Kerajaan Banjar, ada juga benda-benda bersejarah milik Kerajaan Bugis Pagatan, berupa : foto-foto keluarga kerajaan, alat rumah tangga, peralatan hias, senjata tajam dan lain-lain.

Keberadaan 2 kerajaan itu membuktikan bahwa sejarah peradaban telah berlangsung lama di bumi Kalimantan Selatan dan berkembang sedemikian rupa dalam setiap aspek kehidupan masyarakatnya sehingga menghasilkan banyak warisan berupa budaya, adat istiadat, kesenian, ekonomi dan pertahanan keamanan. Dan semuanya itu masih bisa terselamatkan dan terdokumentasi dengan dengan baik hingga kini sampai akhirnya dapat kita nikmati di dalam Museum Lambung Mangkurat ini.

Penampakan Ruang Lukisan dan Ruang Keramik
Penampakan Ruang Lukisan dan Ruang Keramik
Keramik dengan berbagai ukuran dan warna yang menarik
Keramik dengan berbagai ukuran dan warna yang menarik
Piring Naga Terbang dibuat di China pada masa Dinasty Ming abad 16
Piring Naga Terbang dibuat di China pada masa Dinasty Ming abad 16
Guci-guci cantik dari berbagai negara yang dipajang di dalam lemari kaca
Guci-guci cantik dari berbagai negara yang dipajang di dalam lemari kaca
Keramik yang memiliki nilai sejarah yang tinggi
Keramik yang memiliki nilai sejarah yang tinggi

Di Museum Lambung Mangkurat ini, selain Ruang Sejarah dan Ruang Etnografi yang menjadi sajian utamanya, terdapat beberapa ruang pameran yang tak kalah menariknya untuk dilirik, yaitu : Ruang Pameran Lukisan Gusti Sholihin, Ruang Pameran Keramik, Ruang Pameran Kain Nusantara, dan Ruang Pameran Temporer. Tetapi hanya berkesempatan untuk melihat isi dalam dari Ruang Pameran Keramik dan Ruang Pameran Kain Nusantara. Sementara Ruang Pameran Lukisan Gusti Sholihin dan Ruang Pameran Temporer pada saat itu belum dibuka.

Menengok sesaat Ruang Pameran Keramik memberikan perasaan takjub terhadap benda-benda peninggalan masa lampau. Aneka rupa dan bentuk keramik dari berbagai negara dipajang cantik dalam lemari kaca transparan. Ada yang ukuran besar dan adapula yang kecil. Umumnya merupakan peralatan dapur, antara lain : gelas, piring, ceret, mangkok dan sendok. Tetapi ada juga yang sepertinya memang dibuat untuk perhiasan guna memperindah dalaman rumah, yaitu guci dan vas bunga.

Gerabah lokal untuk peralatan rumah tangga
Gerabah lokal untuk peralatan rumah tangga
Peralatan makan dan minum dengan ukiran yang indah
Peralatan makan dan minum dengan ukiran yang indah
Diorama yang menggambarkan seorang nenek yang sedang menenun
Diorama yang menggambarkan seorang nenek sedang menenun
Kain Sasirangan khas Kalimantan Selatan
Kain Sasirangan khas Kalimantan Selatan
Kain-kain nusantara yang dipamerkan
Kain-kain nusantara yang dipamerkan

Keramik-keramik tersebut dibuat dengan seni ukir yang tinggi dengan paduan warna yang serasi dan kontras. Gambar-gambar dalam keramik umumnya berupa binatang dan tumbuh-tumbuhan dengan menggunakan teknik hiasan gores dan tempel. Diperkirakan keramik-keramik yang berasal dari negara China, Jepang, Vietnam dan Thailand itu masuk ke Kalimantan Selatan melalui jalur perdagangan.

Puas melihat koleksi-koleksi keramik, kulanjutkan untuk meninjau Ruang Pameran Kain Nusantara yang memamerkan berbagai jenis kain dari berbagai provinsi di Indonesia. Yang paling mencolok mata tentunya adalah kain khas dari Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu sasirangan. Dari Wikipedia Indonesia dijelaskan bahwa Sasirangan adalah kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan, kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu.

Penampakan bagian samping dari Museum Lambung Mangkurat
Penampakan bagian samping dari Museum Lambung Mangkurat
Halaman belakang dari Museum Lambung Mangkurat
Halaman belakang dari Museum Lambung Mangkurat
Atap dari museum yang membumbung tinggi
Atap dari museum yang membumbung tinggi
Patung gajah yang makin menambah semarak suasana taman
Patung gajah yang makin menambah semarak suasana taman
Meriam mejeng di halaman depan museum
Meriam mejeng di halaman depan museum

Desain/corak didapat dari teknik-teknik jahitan dan ikatan yang ditentukan oleh beberapa faktor, selain dari komposisi warna dan efek yang timbul antara lain : jenis benang/jenis bahan pengikat. Beberapa motif sasirangan sebagai berikut : Iris Pudak, Kambang Raja, Bayam Raja, Kulit Kurikit, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Sari Gading, Kulit Kayu, Naga Balimbur, Jajumputan, Turun Dayang, Kambang Tampuk Manggis, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Sisik Tanggiling dan Kambang Tanjung.

Sebenarnya, masih ada 1 ruang pamer baru, yaitu Ruang Iptek. Tapi pada saat itu belum dibuka untuk umum karena masih dalam tahap persiapan dan penyempurnaan. Jadinya hanya melewati ruang itu saja sambil di hati ini membawa rasa penasaran yang besar. Mudah-mudahan jika suatu saat nanti berkesempatan lagi kesana, ruang iptek itu telah bisa untuk dimasuki pengunjung umum.

Area taman di halaman depan museum
Area taman di halaman depan museum
Nyaman berada di museum dengan suasana taman yang rindang
Nyaman berada di museum dengan suasana taman yang rindang
Hujan terus mengguyur saat berada disana
Hujan terus mengguyur saat berada disana
Berfoto di salah satu ruang pameran
Berfoto di salah satu ruang pameran
Berfoto dengan latar Tawing Halat
Berfoto dengan latar Tawing Halat

Akhirnya, saat untuk meninggalkan museum telah tiba. Tapi keinginan tersebut terhambat cukup lama disebabkan hujan yang turun selebat-lebatnya sehingga menghalangi langkahku untuk beranjak dari tempat tersebut. Terpaksa menunggu saja yang dapat aku lakukan di teras depan museum. Dari teras tersebut, aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut dari museum. Tampak indah landscape dari taman yang ada. Pepohonan hijau yang tumbuh subur dan bunga yang warna-warni mampu membangkitkan hasrat untuk menjalani hidup lebih bersemangat. Tambah terpesona lagi dengan hiasan patung-patung binatang dan senjata meriam yang ditempatkan di sela-sela taman. Sungguh perpaduan yang elok dari Museum Lambung Mangkurat untuk para pengunjungnya.

Banjarbaru, Kamis, 13 Maret 2014

2 thoughts on “Museum Lambung Mangkurat

  1. Dari baca tulisan ini, lalu tertahan pulang karena ada hujan, barangkali pihak museum bisa mengusahakan adanya semacam cafe buat tempat menuggu, seklaigus pemasukan juga buat museum.

    Salah satu stempel kerajaan ada yg mirip lambang Klub Sepakbola Inggris, chelsea atua malah lambang Inggris raya, itu tuh yg dua macan. Salam

  2. museum lambung mankurat ,mang begitu coba dikasih yg baru lg temuanx kan lebih rame didtngi org ,sdh berkalikali kesana tpi gk ad yg berubh.itu2 aj ampe bosen ngeliatx.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s