Berduka Untuk Kesekian Kali


Dilla bersama mama dan kakeknya
Kenangan Dilla bersama Kakek saat lebaran tahun lalu

Kabar duka diawal tahun menyelimuti keluarga kami. Duka itu berupa kepergian 2 orang anggota keluarga terdekat kami yang pada Bulan Januari ini harus menghadap keharibaan Allah SWT untuk selama-lamanya. Duka itu amat mendalam dan datang dengan tiba-tiba sekali. Meski sebenarnya berat menerima kenyataan tersebut, tetapi semua itu adalah takdir dan ketentuannya yang harus diterima dengan ikhlas dan sabar.

BAPAK MERTUA MENINGGAL

Entah firasat atau memang ini sesuatu yang telah dirancang oleh Allah SWT sehingga liburan akhir tahun ini adalah perjumpaan kami yang terakhir bertemu dengan Bapak Mertua di Balikpapan.

Kebetulan isteri sedang mengambil sisa cuti tahunan dan ingin menghabiskannya dengan mengajak Dilla bersilaturahmi ke keluarga disana. Maka bertepatan dengan hari raya umat kristiani, yaitu Kamis, 25 Desember 2014, aku mengantar isteri dan Dilla ke Balikpapan pagi-pagi sekali. Aku disana hanya 2 hari saja. Sementara Isteri dan Dilla lanjut hingga awal tahun baru.

Keadaan bapak mertua pada waktu itu baik-baik saja. Sampai akhirnya pada tanggal 2 Januari 2015, selepas sholat jumat, isteri menelpon dan mengabarkan bahwa bapak mertua tiba-tiba jatuh sakit pada saat sedang melaksanakan sholat jumat.

Keesokan harinya, usai melaksanakan tugas membaca SK Satyalancana Karya Satya pada HAB Kemenag ke-69, aku langsung meluncur ke Balikpapan menggunakan transportasi bis. Tiba di terminal, aku menuju RSUD Kanujoso Djatiwibowo. Sesampainya disana, aku langsung menemui bapak mertua yang terbaring lemah. Meski dalam keadaan lemah, bapak mertua masih dalam keadaan sadar dan mampu mengenali kami semua (aku, isteri dan cucunya, Adilla).

Menurut dokter yang merawat, bapak mertua mengalami penyempitan pada otak sehingga penyembuhannya memerlukan waktu lama. Untuk itulah, akhirnya diputuskan untuk membawa pulang bapak mertua pada hari keenam. Pulang dari rumah sakit, keadaan bapak mertua makin parah. Beliau sudah tidak dapat membuka mata sama sekali.

Saat kembali ke Samarinda, kami dikejutkan dengan kabar bahwa pada Sabtu, 10 Januari 2015  (19 Rabiul Awal 1436 H), menjelang sholat subuh, adik perempuan isteri menelpon bahwa bapak mertua telah berpulang ke Rahmatullah. Mendengar hal tersebut, kami hanya bisa pasrah dan sesegera mungkin bersiap-siap untuk ke Balikpapan. Tidak lupa kuajak ibuku untuk turut serta melayat.

Alhamdullillah, bapak mertua selamat dikebumikan di pemakaman Gunung Guntur pada jam 11.00 wita lewat. Dilla, cucu pertama beliau ikut juga menyaksikan pemakaman tersebut. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa beliau dan menempatkannya di Surga-Nya yang indah. Amin Ya Rabbal Alamin.

Dilla saat liburan di Balikpapan akhir tahun 2014 dan masih sempat bersua dengan kai

OM HANAFI MENINGGAL

Kabar duka ini aku terima pada Senin, 12 Januari 2015, sepulang dari kantor untuk istirahat siang. Ibuku menceritakan hal tersebut dengan tersedu-sedu. Sedih rasanya megetahui kenyataan bahwa Om Hanafi yang tinggal di Kota Tarakan, Kalimantan Utara akhirnya berpulang juga ke Rahmatullah setelah berjuang sekian lama mengatasi penyakit stroke-nya.

Penyakit tersebut memang telah membuat beliau mengalami penurunan kualitas hidup. Untuk bisa berdiri saja sangat sulit, apalagi melakukan aktifitas sehari-hari. Imbasnya, pekerjaan beliau sebagai guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah menengah atas di Kota Tarakan menjadi terhambat. Itu juga yang mungkin menjadi pikiran bagi beliau. Belum lagi masalah dalam keluarga beliau yang makin memperkeruh suasana sehingga menjadi hal yang tidak nyaman untuk beliau sendiri jalani.

Mengingat tentang Om Hanafi, begitu banyak jasa yang beliau berikan kepadaku. Terutama saat aku mengalami sakit misterius 14 tahun silam, beliaulah yang dengan gigih mencarikan obat untuk kesembuhanku tersebut. Pokoknya, aku banyak berhutang budi dengan beliau.

Rasa ada penyesalan karena hingga saat akhir hidupnya, aku tidak dapat membalas budi baik pamanku tersebut. Ditambah lagi, kami sekeluarga tidak dapat menghadiri pemakaman beliau karena jarak yang begitu jauh memisahkan. Hanya doa yang mampu dipanjatkan untuk pemergian beliau tersebut.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Om Hanafi. Lapangkan dan cahayakan kuburnya. Masukkanlah beliau ke dalam surga-Mu bersama golongan orang-orang yang shaleh. Amin Ya Rabbal Alamin.

One thought on “Berduka Untuk Kesekian Kali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s